Peringati Hari Gizi Nasional, Yayasan GEMA Sadar Gizi Kolaborasi Adakan Webinar Tentang Stunting Dan Obesitas

Sadargizi.com – Dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional yang jatuh pada 25 Januari 2023. Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, berkolaborasi dengan LISAN, HIFDI, Departemen Kesehatan BPP KKSS, dan Bakornas LKMI PB HMI melakukan kegiatan Webinar tentang Stunting dan Obesitas.
 Webinar yang direncanakan hari Jumat 20 Januari 2023 ini akan dipandu oleh moderator dr. Putro S. Muhammad dengan menampilkan tiga nara sumber yang ahli di bidangnya. Dr. Minsarnawati, SKM, M.Kes. merupakan Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dr. Galih Herlambang, Sp.A dari Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Temanggung, dan Dr. Chazali Husni Situmorang, Apt, M.Sc. yang merupakan Pakar Kebijakan Publik sekaligus Dosen FISIP Universitas Nasional Jakarta.
Menurut dr. Zaenal Abidin, MH. selaku inisiator webinar, menyatakan bahwa Indonesia sejak dulu dikenal sebagai negeri, gemah ripah loh jinawi. Atau di masyarakat Sulawesi Selatan, dikenal ungkapan, wanua adele na salewangeng, artinya, negeri adil dan makmur.”
Kini sebutan tersebut mulai bergeser dan tampak kontradiksi dengan fakta di tengah masyarakat. Coba perhatikan berita terkait masalah penyakit dan masalah gizi di Indonesia. Hingga akhir 2022 dikatakan bahwa di sektor kesehatan, Indonesia masih mengalami “beban tiga kali lipat” masalah penyakit dan masalah gizi.
Beban tiga kali lipat masalah penyakit juga dikenal dengan triple burden disease. Meliputi: penyakit Infeksi New Emerging, Re-Emerging seperti Covid 19, penyakit tidak menular (PTM) yang cenderung meningkat setiap tahunnya. Ungkap dr. Zaenal.
Ketua Umum IDI Periode 2013-2015 itu juga menyampaikan bahwa beban tiga kali lipat masalah gizi yang dikenal triple burden of malnutrition, meliputi: kekurangan gizi, kelebihan berat badan, dan kekurangan zat gizi mikro.
Selain dua triple burden di atas sebenarnya di Indonesia masih adanya triple burden lain, yang bisa merupakan dampak dari triple burden masalah penyakit dan masalah gizi, namun dapat pula merupakan penyebab dari dua triple burden tersebut. Triple burden yang dimaksud adalah kesakitan, kemiskinan, dan kebodohan.
Jadi sebetulnya Indonesia bukan hanya mengalami dua triple burden, melainkan tiga beban tiga triple burden sekaligus.
Lanjut dr. Zaenal, webinar akan diselenggarakan dua kali dengan tema yang berbeda, yakni: “Stunting” dan “Obesitas.” Terkait stunting sendiri mengangkat tema: “Stunting versus NKRI Harga Mati.”
Baik stunting maupun NKRI Harga Mati, keduanya merupakan istilah ataupun jargon yang cukup populer bagi kita semuanya.
“Stunting” merupakan kekurangan asupan gizi yang telah berlangsung lama, sehingga dapat menimbulkan rasa perih dan ibah melihatnya. Orang Bugis-Makassar menyebutnya rasa perih dan ibah itu, pacce atau pesse. Karena menimbukan perih dan ibah sehingga seharusnya stunting ini mendapatkan perhatian atau kepedulian, terutama oleh pemerintah yang memang diberi tanggung jawab oleh undang-undang.
Sedang “NKRI Harga Mati“ merupakan jargon atau ungkapan nasionalisme dan ketersinggungan yang sangat tinggi karena melihat atau mendengar adanya sesuatu yang dianggap membahayakan NKRI. Kemudian menimbulkan rasa malu (siri) dan kepedulian yang juga sangat tinggi untuk membelanya.
Nah, sekalipun “Stunting” dan “NKRI Harga Mati” ini berada pada posisi yang berlawanan, namun seharusnya saling membutuhkan. Keduanya ibarat “secangkir kopi dan penutupnya.”
Karena itu, bagi yang suka pasang tagar “NKRI Harga Mati”, saya usulkan agar jangan berhenti hanya sampai di situ. Tanggung. Sempurnakanlah menjadi, “Pengentasan Stunting di NKRI adalah Harga Mati”. Tutup dr. Zaenal.