Belajar Dari Prinsip Kaisar Hirohito Untuk Menjaga Peran Tenaga Medis

Ns. Sarifudin, M.Si (Peneliti Lembaga Kajian dan Konsultasi Kesehatan)

Oleh: Sarifudin

Saya ingin memulai tulisan saya dengan sebuah kritikan terhadap tagline #pejuangdigardaterdepan yang ditujukan kepada tenaga medis dan kesehatan secara umum. Tagline pejuang garda terdepan saat ini menjadi fenomena ditengah pandemic virus corona (covid-19). Mereka yang memiliki disiplin ilmu kesehatan khususnya dokter dan perawat, dituntut untuk bekerja keras memastikan bahwa pasien covid-19 mendapatkan penanganan yang terbaik dan memadai.

Ditengah tanggung jawab menunaikan tugasnya, mereka menjadi barisan yang paling rentan terpapar virus corona. Menjadikan tenaga kesehatan sebagai pejuang digarda terdepan akan menjadikan negara ini semakin terpuruk kondisi kesehatan masyarakatnya. Masyarakat yang sakit tidak akan lagi mendapat pengobatan atau perawatan jika tenaga kesehatan dengan status paling rentannya, kemudian dinyatakan positif.

Profesi kesehatan sama halnya profesi guru, mulia karena pengabdiannya. Memberikan pelayanan tanpa diskriminasi, melayani pasien tanpa melihat suku, bangsa, agama, jenis kelamin, golongan, aliran politik dan kedudukan sosial. Semua pelayanan ditujukan atas dasar kemanusiaan. Setiap tindakan yang dilakukan untuk satu tujuan yakni kesembuhan dan keselamatan pasien.

Tenaga kesehatan saat ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa oleh masyarakat. Sebagai bagian dari itu, dengan ini saya berbangga, bukan karena diapresiasi tapi karena kita telah sungguh-sungguh menunaikan sumpah kita, sumpah atas nama profesi untuk tujuan kemanusiaan. Mengutamakan kepentingan pasien diatas kepentingan pribadi. Mengabaikan kesehatan sendiri untuk kesembuhan orang lain.

2,5 Juta Masyarakat Indonesia Berpotensi Terpapar Virus Corona

Siang ini, saya membaca sebuah berita. Pastinya bukan berita menyenangkan, karena virus corona yang mewabah hingga kini belum ditemukan vaksin atau penangkalnya. Menurut Data real time dilaman worldometers, sabtu (28/3) angka terinfeksi sudah lebih dari setengah juta penduduk dunia atau tepatnya sebanyak 596.723 kasus positif, 133.355 orang berhasil dinyatakan sembuh, sedangkan 27.352 jiwa melayang akibat virus yang ditemukan pertama kali di Wuhan, China ini.

Di Indonesia hari ini, minggu (29/3) sudah ada 1.155 kasus positif virus corona, 102 kasus di antaranya berakhir dengan kematian. Angka itu bisa meningkat berlipat-lipat bila tak ada intervensi tingkat tinggi dari pemerintah untuk menanggulangi penyebaran virus corona. Tim fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia menjelaskan, tiap 1 kasus positif virus corona (satu orang) bisa menginfeksi setidaknya 2 orang lainnya. Mereka telah membuat prediksi. Indikator yang digunakan adalah jumlah penduduk Indonesia adalah 268 juta. Dari jumlah penduduk tersebut, 52,9% populasi tinggal di wilayah urban; 14,8% tinggal di rumah kurang dari 8 meter persegi; angka terjadinya pneumonia (penyakit radang paru-paru) adalah 1,3 per 1.000 orang; 28,2% penduduk bepergian; 50,2% mencuci tangan dengan cara tidak benar.

Menurut data tim FKM-UI tesebut, jika tidak dilakukan intervensi serius oleh pemerintah maka potensi masyarakat Indonesia terdampak virus corona diperkirakan akan mencapai +/- 2.500.000 jiwa. Prediksi tersebut diasumsikan terjadi pada hari ke-77. Patokan hari ke-1 pada pekan pertama Februari 2020 atau lebih awal dari pengumuman kasus pertama oleh Pemerintah Indonesia (2/3).

Belajar Dari Prinsip Kaisar Hirohito Mengkhawatirkan Guru

 Ingatkah kita dengan kejadian di Jepang tanggal 6 dan 9 Agustus 1945?. Saat itu Jepang terpuruk dengan hancurnya kota Nagasaki dan Hiroshima oleh bom atom Amerika. Jepang lumpuh total, korban meninggal mencapai jutaan, belum lagi efek radiasi bom tersebut diperkiraan membutuhkan waktu 50 tahun untuk menghilangkan itu semua.

Dalam kondisi perang tersebut, Jepang terpaksa menyerah kepada sekutu. Situasi yang memang ironi buat Jepang. Namum apa yang dilakukan setelah itu oleh Kaisar Hirohito, adalah dengan mengumpulkan semua jenderal yang masih hidup dan menanyakan kepada mereka “berapa jumlah guru yang tersisa? Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kalau kita semua tidak bisa belajar bagaimana kita akan mengejar mereka? Maka kumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa di seluruh pelosok kerajaan ini, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan.”

Betapa bernilainya seorang guru dimata Kaisar Hirohito saat itu, sama seperti betapa bernilainya tenaga medis saat ini ditengah wabah virus corona. Melawan virus corona saat ini, kita harus belajar dari prinsip Kaisar Hirohito. Tenaga medis adalah benteng pertahanan terakhir untuk mengobati dan merawat pasien. Seperti guru yang dikhawatirkan kondisinya oleh Kaisar Hirohito, kita tidak bisa menjadikan tenaga medis sebagai pasukan untuk tampil didepan, tapi mereka harus dijaga agar tetap bisa menjalankan perannya diruangan isolasi dan ruangan perawatan.

Tenaga Medis Sebagai Benteng Pertahanan Terakhir

Bagi penggemar sepakbola, kita bisa mengasumsikan virus corona sebagai lawan dalam kompetisi. Namun kita tidak boleh setuju dengan strategi ala Ferguson “pertahanan terbaik adalah menyerang.” Sehingga menjadikan bek yang sejatinya sebagai benteng pertahanan, dipaksa sebagai striker untuk mencetak gol. Tenaga medis sebagai orang yang berkompeten untuk mengobati dan merawat pasien, tak bisa ditempatkan sebagai garda terdepan atau striker.

Tenaga medis adalah benteng pertahanan terakhir, masyarakatlah yang harus ditempatkan sebagai garda terdepan dalam melawan virus corona. Pemerintah harus membuat sebuah kebijakan untuk mengintervensi masyarakat, agar penularan virus corona tidak sampai menjadikan tenaga medis kelelahan atau bahkan sampai harus positif karena semakin meningkatnya pasien positif virus corona dengan keterbatasan alat pelindung diri yang dimilikinya.

Masyarakat tak perlu berlari menjelejahi lapangan hijau dan memasuki jantung pertahanan lawan untuk bisa menjadi garda terdepan. Cukup dengan sosial distancing, physical distancing, konsumsi gizi seimbang, olahraga teratur dan istirahat yang cukup adalah cara terbaik untuk bisa memenangkan kompetisi. Abaikan strategi ala Ferguson, berperanlah sesuai posisimu, ikuti intruksi pemerintah cukup dirumah saja. Tinggal dirumah dan kerja dari rumah. Dengan begitu kamu sudah menjaga negara ini tetap sehat.

Tanpa pengakuan yang tertulis dan terlihat, tenaga medis sudah menjadi pejuang. Pejuang atas nama profesinya, pejuang atas nama pengabdiannya, yang seharusnya kita tempatkan mereka untuk tetap dimedannya. Ditempatkan dibarisan terakhir sebagai benteng pertahanan agar yang sakit masih tetap dapat diobati dan dirawat sehingga tertolong.

Sesulit apapun situasi saat ini, merekapun tidak akan pernah mundur, sesuai dengan ikrar sumpahnya ditiap-tiap barisan terkahir.

“Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya (dokter)

“Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh keinsyafan (perawat).

Cawang, 29 Maret 2020

(Penulis adalah Peneliti di Lembaga Kajian dan Konsultasi Kesehatan)