Sehat adalah Investasi (1)

dr. Zaenal Abidin MH. – Ketua Umum PB. Ikatan Dokter Indonesia 2012-2015 dan Salah satu Pendiri Yayasan Gema Sadar Gizi 2010

Oleh: Zaenal Abidin

Sehat itu investasi dan sehat itu murah. Kalimat ini seharusnya menjadi perhatian semua orang agar selalu menjaga dan memelihara kesehatannya. Sebetulnya, modal sehat (biocapital) yang tubuh kita peroleh sejak lahir tak kurang dari 99 persen. Hanya satu persen yang hilang pada mereka yang mewarisi penyakit keturunan, cacat lahir, dan yang punya penyakit bawaan. Karena itu seseorang perlu mengelola agar modal dasar sehat itu tidak berkurang tau menyusut. Syukur Alhamdulillah, bila kita bisa rawat terus menerus sepanjang hayat.

Jika seseorang cerdas mengelola dan merawat modal sehatnya , maka in syaa Allah umur optimal akan bisa ia raih. Sebab sejatinya setiap sel makhluk hidup memiliki umurnya masing-masing (Leonard Hayflick). Sebagai contoh, bila garis finis hidup seseorang 120 tahun maka  harus diusahakan jangan stop sebelum sampai garis finis. Karena itu perlu didesain lewat hidup sehat. Gaya hidup sehat.

Kini dengan ditemukannya rahasia medis kehidupan manusia, terbuka peluang untuk memasuki era mendesain tubuh manusia. Menyiangi gen lemah dan menukarnya dengan gen baru (human genome project). Masing-masing individu memiliki denah gen sendiri dan gambaran gennya dapat dipotret. Sudah dapat dipilah gen sakit, melihat gen panjang umur, sampai mendeposito sel tunas (stem cells bank) saat bayi baru lahir, yang diambil dari tali pusat bayi.

Tabungan sel tunas ini merupakan “spare part” yang sewaktu-waktu dapat ditanam saat diperlukan ke dalam tubuh pemiliknya sendiri atau tubuh mereka yang masih memilik garis keturunan guna mereparasi bagian tubuh yang rusak, mati, atau tak mampu berfungsi.

Namun demikian, perlu diketahui bahwa belum semua atau tidak semua penyakit mampu diatasi oleh tenaga medis. Bila sudah terlanjur sakit belum tentu selalu berhasil disembuhkan. Dunia medis masih terlalu banyak keterbatasannya. Kendati orang itu tergolong super kaya, mampu berobat, memiliki beberapa asuransi kesehatan, mengantongi jaminan sosial kesehatan semacam JKN, namun belum tentu orang itu dapat tertolong. Sembuh seperti sediakala. Belum lagi ongkos masuk ICCU, ICU, pun memang terbilang mahal. Dan, andai pun diberi gratis masuk ruang perawatan intensif, tentu tidak ada seorang pun mau mencobanya. Mencoba saja tak ada yang mau, apalagi mengharap dirawat gratis di dalamnya.

Mencegah lebih baik daripada mengobati

Penyakit berat seperti jantung koroner, stroke, kanker, gagal ginjal, dan banyak lagi penyakit berbiaya tinggi lainnya lainnya, sebetulnya masih bisa dicegah kalau tahu caranya dan mau melakukannya. Bahkan penyakit yang terbilang ringan pun mestinya dapat dicegah, sebab bila tidak maka pasti sangat mengganggu. Bila terjadi berulang-ulang akan mempengaruhi kualitas hidup seseorang, sekalipun dikatakan sakit ringan.

Bagi semua orang, yang perlu diketahui ialah kehidupan sel tubuh manusia itu ada batasnya. Tidak seperti sel tumbuh-tumbuhan yang tergolong ‘tidak bisa mati’ . Di dalam tumbuh-tumbuhan terdapat beragam zat kehidupan. Banyak orang atau suku bangsa di dunia mengaku berumur panjang karena mengonsumsi sayur dan buah-buahan. Bahan makanan mereka sebagian besar berbahan makanan yang berasal dari alam, seperti umbian, biji-bijian, sayur-mayur, dan buah buahan.

Manusia sekarang ini bukan saja salah memilih jenis menu makanan, namun ia pun sering salah menata pola makan dan gaya hidupnya. Sudah salah dalam memilih menu, salah pula dalam beraktivitas, salah dalam beristirahat, dan juga salah dalam mengelola hidup biologisnya.  Sempurnalah kesalahan itu. Sebagai contoh, salah memili tempat tidur, salah memilih kursi dan meja kerja yang tidak memenuhi syarat dan kaidah ergonomics. Tidak fisiologis bagi tubuhnya. Keluhan lekas lelah, gangguan persendian dan otot, karena posisi dan caranya bekerja tidak mengkuti hukum ergonomics.

Cerdas mengelola stres

Akibat salah dalam beraktivitas, tanpa disadari telah mencederai badan mereka sendiri. Termasuk membiarkan bahan kimiawi berbahaya mencemari menu makanan. Begitu pula membiarkan bahan nikotin dari rokok, alkohol, dan narkotika mencemari tumbuh, atau gangguan stres fisik dan mental yang berkepanjangan. Stres mental kini sudah mendominasi banyak aspek kehidupan orang modern. Stres mental bisa menimbulkan penyakit fisik. Dan sebaliknya penyakit fisik dapat pula menimbukan stres mental.

Dalam tekanan lumrah, stres dibutuhkan untuk membangun jiwa yang kokoh. Jiwa yang kokoh tidak gampang terguncang atau jatuh menjadi sakit jiwa. Ketahahan jiwa itu dibangun sejak masa kanak-kanak. Anak terkadang perlu merasakan bagaimana kecewa, putus asa, agar terbangun ketahanan jiwanya di kemudian hari.

Namun demikian, stres seringkali menguasai kehidupan banyak orang sekarang ini. Badannya tampak sehat, namun karena stres menguasai hidupnya membuat tampak tidak sehat. Karena faktor pencetus stres ini dianggap sebagai faktor risiko.

Memamg tidak semua stres berbahaya. Hanya stres yang berlangsung berkepanjangan yang perlu kita singkirkan. Bahkan perlu dijauhi. Jangan membiarkan diri berada dalam lingkungan stres tanpa henti. Manusia perlu cerdas mengelola stres. Stres harus dikuasai. Bila stres tidak bisa dikuasai maka akan meronrong jiwa dapat mencederai badan (psykosomatics).

Kadang kala badan terlihat tidak sakit, namun keluhannya lumayan banyak. Bila badannya diperiksa dengan bermacam-macam metode pemeriksaan, hasilnya normal. Tidak ditemukan ada penyakit. “Terdapat beban jiwa yang dihibahkan ke sekujur badan, akibanya badan terpaksa harus menanggung menderita.” Begitu perumpamaan dr. Handrawan Nadesul.

Contoh lain, maag yang hilang timbul, serangan asma berulang, eksim (dermatitis) yang tak kunjung sembuh, nyeri pinggang tak jelas penyebabnya, gangguan haid yang rutin, nyeri kepala yang tak hilang-hilang, dan masalah seks yang aneh, bila ditelusuri sering berhulu dari jiwa yang telah gundah-gulana. Kasus macam ini tak bakal sembuh bila bukan jiwanya yang disentuh, ditenangkan.

Kasus seperti ini banyak ditemukan bila kita membaca biografi Ibnu Sina (Pangeran para dokter, penggagas ilmu psikologi dan perintis ilmu psikiatri). Sebagai contoh, bagaimana Ibnu Sina dapat membantu pengobatan penyakit kejiwaan, dapat diungkapkan dalam kasus berikut ini:

  1. Pengobatan psikosomatis kepada keluarga Amir Syamsul Ma’ali yang tidak mau makan karena merasa dirinya sebagai seekor api.
  2. Pengobatan psikiatri (sakit Jiwa), yang mengenai seorang pemuda, ponakan Paduka Ibnu al-Makmun, Penguasa Khawarizm, yang tiga bulan terakhir kondisinya makin melemah, tidak mau mencicipi makanan dan tidak mau bicara karena sedang dimabuk cinta kepada gadis pujaannya. Penyakit Rindu namanya.
  3. Pengaruh kejiwaan. Abdur Razaq Nawfal mengatakan, “Ibnu Sina terkenal namanya karena pengobatannya terhadap para penguasa di berbagai tanah Arab,” tidak lain karena kecakapan dan kesuksesannya.

Ibnu Sina adalah dokter yang pertama kali mengatakan bahwa “guncangan jiwa dapat mempengaruhi kantong nasi (stomach), sehingga hal itu dapat menyebabkan timbulnya penyakit perut (stomachache) oleh dua sebab yang berlainan, yakni: Sebab kejiwaan yang ditandai dengan timbulnya berbagai guncangan yang terjadi di dalam usus, dan sebab sakit suatu anggota tubuh. Keduanya bisa mendatangkan penyakit ulcer, luka bernanah pada usus.

Dengan demikian kita harus pandai-pandai memelihara kesehatan, baik badan maupun jiwa kita. Kita harus cerdas mengelola stres, sebab seperti yang diutarakan di atas, stres mental bisa menimbulkan penyakit fisik. Sebaliknya penyakit fisik dapat pula menimbukan stres jiwa atau mental.

(Penulis adalah Ketua Umum PB. Ikatan Dokter Indonesia, periode 2012-2015 dan Salah satu Pendiri Yayasan Gema Sadar Gizi ,Tahun 2010)

 Griya Madani I, 24 Februari 2020

Sumber bacaan:

  1. Ahmad Ridlo SU; Ibnu Sina Ilmuan, Pujangga, Filsuf Besar dunia. Penerbit: Sociality yogyakarta, 2017.
  2. Handrawal Nadhesul
  3. Husayn Fattahi; Novel Biografi Ibnu Sina, Tawanan Benteng Lapis Tujuh. Penertbit: Zaman Jakarta, 2011)