Sehat adalah Nikmat Allah SWT

dr. Zaenal Abidin, MH. – Ketua Umum PB. Ikatan Dokter Indonesia 2012-2015 dan Salah satu Pendiri Yayasan Gema Sadar Gizi 2010

Oleh: Zaenal Abidin

Pada tulisan sebelumnya, penulis telah menyajikan secara umum dua tema besar dalam bidang kesehatan, yakni. Sehat adalah Hak Asasi Manusia (HAM) dan Sehat adalah Investasi. Penulis merasa kurang lengkap bila tidak ikut menyajikan satu topik lagi yakni Sehat adalah Nikmat Allah SWT yang tak ada bandingnya dan juga tidak akan mungkin ada yang ingin menukarnya dengan nikmat lain yang berupa bendawi.

Kesehatan sebagai nikmat Allah yang tiada taranya. Tanpa nikmat sehat maka nikmat-nikmat yang lain pun tidak akan terasa indah. Bayangkan saja, bila kita mampu membeli makanan yang serba enak, namun gigi kita sakit, sari awan sehingga makanan yang enak itu tak mampu kita telan. Atau karena suatu dan lain sebab sehingga dokter mengatakan bahwa bapak-ibu tidak boleh makan makanan yang serba enak itu. Kita punya rumah dan mobil mewah, namun karena kita sakit sehingga kita terpaksa dirawat berbulan-bulan di rumah sakit. Kita tidak merasakan bagaimana mempunyai rumah dan mobil mewah.

Semua contoh di atas cukup membuktikan betapa sehat dan kesehatan itu merupakan nikmat Allah SWT yang paling utama.  Walau demikian nikmat sehat ini sering kali terlupakan. Baru diingat bila sedang dalam kondisi sakit. Misalnya diare, sakit gigi, jantung, atau sakit yang sedang banyak dibicarakan sekarang ini, yakni Covid-19. Karena itu Rasulullah bersabda, yang artinya, “ Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai di dalamnya, yakni nikmat Sehat dan Waktu luang.”

Dalam banyak mimbar, termasuk di dalam khutbah Jum’at, khatib senantiasa menyampaikan tentang nikmat sehat ini dan cara mensyukurinya. Ada dua cara mensyukuri nikmat sehat, yakni: Cara pertama, mensyukuri dengan lisan, syukur dengan perkataan dengan mengucapkan Alhamdulillah. Mengucapkan hamdallah adalah langkah awal bagi kita untuk mensyukuri nikmat ketika sehat. Juga sebagai rasa sadar kita bahwa memang sehat dan kesehatan yang kita miliki adalah pemberian semata dari Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih.

Sedangkan cara yang kedua adalah mensyukuri dengan perbuatan. Dalam hal ini dengan cara menjaga, merawat , dan menggunakan nikmat kesehatan untuk keperluan yang diridhai Allah SWT.  Misalnya menggunakan untuk beribadah shalat, puasa, haji, tolong-menolong membantu sesama manusia, atau bahkan menolong makhluk Tuhan yang lain sebagaimana kisah seorang musafir yang memberi minum anjing yang sedang kehausan. Termasuk contoh upaya menjaga nikmat sehat adalah dengan menjaga kebersihan diri, yakni mandi secara teratur, membiasakan mencuci tangan yang benar dengan menggunakan sabun lalu dibilas dengan air mengalir. Begitu pula membersihkan pakaian, peralatan makan/minum, rumah dan lingkungan sekitar.

Semua ini menunjukkan bahwa pada hakikatnya sehat itu lebih mahal nilainya dibanding harta. Orang akan membayar seberapa pun asal dapat sembuh dari penyakit yang dideritanya. Namun bila kita perhatikan sabda Rasulullah di atas, tampak sekali bahwa  orang sering melupakan sehatnya. Sehat baru kembali diingat ketika sedang sakit, baik ringan, sedang maupun berat. Kita sering melupakannya, padahal andai kita selalu mengingat dan mensyukurinya, pasti Allah akan menambahkannya. Bukankah Allah sendiri yang berjanji di dalam kita suci Al-Qur’an, yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Memang sering kali kita tidak merayakan pentingnya nikmat sehat itu kecuali telah jatuh sakit. Ada sebuah ungkapan, “Kesehatan bagaikan mahkota di kepala orang sehat, tidak ada yang bisa melihatnya kecuali orang sakit.” Ketika sakit terkadang seseorang menjadi ingat dan sadar tentang hakikat penciptaan dirinya: darimana dia berasal dan ke mana dia akan dikembalikan. Kesehatan adalah nikmat yang sangat agung dari Allah SWT, di antara sekian banyak nikmat yang Allah SWT anugerahkan. Nabi  SAW., bersabda, “ Barangsiapa yang berada di waktu pagi dalam keadaan aman tenteram, badannya sehat, memiliki persediaan makanan yang cukup, maka seolah-olah dikumpulkan seluruh dunia untuknya.” (HR. Bukhari). Sementara, menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Sehat adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup secara sosial dan ekonomis.

Begitu penting dan bermaknanya kesehatan itu sehingga semua agama menganjurkan pemeluknya untuk berdoa agar senantisa diberi kesehatan. Nabi Muhammad SAW., juga mengingatkan umatnya agar senantiasa menjaga lima perkara sebelum datangnya lima perkara. Satu di antaranya adalah: “manfaatkan masa sehatmu sebelum datangnya masa sakitmu. (HR. Al-Hakim). Selain itu, Rasullah SAW., juga telah menganjurkan dan mengajarkan banyak sekali doa agar umatnya senantiasa bermunajat, memohon kepada Allah agar diberi kesehatan. Dilindungi dan diselamatkan dari berbagai macam ancaman penyakit yang dapat membahayakan hidupnya. Doa itu antara lain:

  1. “Allahumma inna nas aluka afwa wal adiyata wal mu’aafaatad daa’imata fiid dunyaa wal ‘akhirati wa fauzu bil jannati wannajaati minan naari.” Artinya: Ya Allah, kami mohon ampunan, kesehatan dan perlindungan yang terus menerus di dunia dan akhirat, kemenangan masuk surga serta keselamatan dari api neraka;
  2. Allaahumma-ghfirlii, warhamnii, wahdinii, wa’aafinii, warzuqnii.” Artinya: Ya Allah, ampunilah aku, kasihinilah aku, berilah petunjuk kepadaku, selamatkanlah aku (dari penyakit), dan berikanlah rezeki kepadaku.” (HR. Muslim);
  3. Allaahumma inni a’uzubika min zawali ni’matika, wa thahawwuli a’fiyatika, wa faja’ati niqmatika, wa jami’i sakhatika.” Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kesehatan dari-Mu dan datangnya kutukan-Mu secara tiba-tiba dan segala kemarahan-Mu” (HR. Bukhari Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi).

Lebih dari itu,  Rasulullah SAW., pun mengajarkan doa agar umatnya terhidar dari wabah penyakit. Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Selanjutnya, Rasulullah Saw. pun mengajarkan doa agar mendapatkan perlindungan dari wabah penyakit. Salah satu doa itu ialah: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, dan lepra serta dari penyakit-penyakit yang buruk (membahayakan).”

(Penulis adalah Ketua Umum PB. Ikatan Dokter Indonesia, periode 2012-2015 dan Salah satu Pendiri Yayasan Gema Sadar Gizi ,Tahun 2010)

 Griya Madani I, 3 April 2020