Perilaku Hidup Sehat dan Promosi Kesehatan (1)

dr. Zaenal Abidin, MH. – Ketua Umum PB. Ikatan Dokter Indonesia 2012-2015 dan Salah satu Pendiri Yayasan Gema Sadar Gizi 2010

Oleh: Zaenal Abidin

Secara sepintas, pada tulisan-tulisan sebelumnya telah membicarakan tentang perilaku hidup sehat, namun terbatas dalam lingkup sasaran yang lebih kecil, sempit, yakni individu atau keluarga. Karena itu dalam tulisan ini akan dibahas perilaku hidup sehat yang lingkup sasarannya lebih luas yaitu masyarakat.

Perubahan perilaku masyarakat merupakan salah satu dari sekian target dari stretegi promosi kesehatan. Target target perubahan perilaku dari promosi kesehatan, bukan saja perilaku masyarakat (sasaran primer) tapi juga perilaku tokoh masayarat (sararan sekunder) juga menjadi tergetnya. Dan, yang tak kalah pentingnya adalah perilaku dari para pejabat negara pembuat keputusan atau kebijakan publik (yang dijadikan sasaran tertier) untuk dijangkaunya.

Dimensi perubahan perilaku yang diharapkan terhadap ketiga sasaran tersebut, memang berbeda:

Pertama, untuk sasaran masyarakat: (i) bagi yang belum/tidak mempunyai perilaku sehat diharapkan (diubah/berubah) menjadi berperilaku sehat, seperti membiasakan diri mencuci tangan yang benar dengan air mengalir dan pakai sabun, mandi secara teratur, bensihkan pakaian, perabot, rumah dan lingkungan sekitar, makan dengan menu/gizi yang seimbang, dll.; (ii) bagi yang sudah mempunyai perilaku atau berperilaku sehat agar tetap berperilaku sehat (seperti tidak merokok, tidak minum alkohol, dst.)

Kedua, untuk tokoh masyarakat. Perubahan perilku yang diharapkan juga sama pada sasaran masayarakat, yakni mereka perperilaku sehat di tengan masyarakat. Dengan adanya tokoh masyarakat yang berperilaku sehat di tengah-tengah masyarakat, akan menjadi “role model”.  Akan menjadi contoh teladan bagi masyarakat sekitarnya. Hal ini sangat sesuai dengan budaya paternalistik bangsa Indonesia. Sudah banyak cerita sukses dalam program kesehatan di Indonesia berkaitan dengan adanya “role model” ini.

Ketiga, untuk para penentu kebijakan atau pejabat (eksekutif dan legislatif). Perilaku yang diharapkan mencakup: (i) berperilaku sehat untuk kepentingan dirinya sendiri; (ii) Pejabat yang berperilaku sehat akan menjadi contoh bagi masyarakat lain. Karena pejabat itu pada hakikatnya adalah tokoh di masyarakat sekitarnya; (iii) Sikap dan perilaku pejabat sangat diharapkan karena berkaitan dengan kewenangannya sebagai pejabat publik, pemegang otoritas atau jabatan untuk membuat kebijakan-kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Diharapkan dengan pejabat yang digenggam ia dapat mengeluarkan kebijakan publik yang berdampak pada peningkatan kesehatan masyarakat. Misanya membuat undang-undang dan peraturan perundang-undangan, perencanaan strategik kesehatan, menyusun standar pelayanan kesehatan beserta petunjuk teknisnya, menyusun anggaran kesehatan, dan lain-lain.

Kembali ke promosi kesehatan. Sampai saat ini promosi kesehatan masih dipahami semata-mata sebagai pengganti istilah pendidikan kesehatan. Secara institusional mungkin memang benar bahwa promosi kesehatan itu merupakan pendidikan atau penyuluhan kesehatan. Namun secara konseptual berbeda. Terminologi promosi kesehatan, sekurang-kurangnya mengandung  empat pengertian sekaligus:

Pertama. “Peningkatan,” seperti halnya dalam “five level of prevention” dari Leavels and Clark dalam Hanlon (1974), di mana pencegahan tingkat pertama adlah “health promotion”. Dalam konsep lima tingkat pencegahan (five levels of preention), pencegahan tingkat pertama dan utama adalah promosi kesehatan. Secara lengkap dapat dilihat berikut ini:

(i). promosi kesehatan (health promotion)

(ii) perlindungan khusus melalui imunisasi (specific protection)

(iii) diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment)

(iv) mambatasi atau mengurangi kecacatan (disabilty limitation)

(v) pemulihan (rehabilitation).

Kedua. “Memasarkan atau menjual,” seperti yang berlaku di dunia bisnis.

Ketiga. Dalam literatur lama (zaman Belanda) dikenal istilah “propaganda kesehatan”, yang dimaksud dalam hal ini adalah suatu kegiatan untuk mempengaruhi orang lain atau masyarakat agar melakukan hal yang sehat, berperilaku sehat.

Keempat. “Penyuluhan kesehatan.” Dalam penyuluhan tersebut terjadi peningkatan pengetahuan kesehatan bagi masyarakat. Dengan meningkatnya pengetahuan diaharapakanakan meningkat pula sikap dan prilaku (praktik) hidup sehat.

Promosi kesehatan secara konseptual adalah berbagai upaya untuk melakukan investasi terhadap semua determinan kesehatan, termasuk determinan perilaku. Namun demikian promosi tidak hanya melakukan pendekatan perubahan perilaku, namun juga terhadap perubahan determinan kesehatan lain.

Dalam Strategi Global Promosi Kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 1984) dirumuskan bahwa promosi kesehatan sekurang-kurangnya mengandung 7 prinsip, sebagai berikut:

  1. Perubahan perilaku (behavior change).
  2. Perubahan sosial (social change).
  3. Perubahan lingkungan fisik (environment change).
  4. Pengembangan kebijakan (policy development).
  5. Pemberdayaan (empowerment).
  6. Partisipasi masyarakat (community partipation).
  7. Membangun kemitraan (building partnership and alliance).

Promosi kesehatan memiliki misi, yakni: advokasi; memampukan; menjembatani. Semetara strategi promosi kesehatan, meliputi:

  1. Mengembangkan kebijakan publik Berwawasan Sehat (build healthy public policy).
  2. Menciptakan lingkungan yang mendukung (supportive environment).
  3. Memperkuat aksi/gerakan masyarakat (strengthening community action).
  4. Pengembangan keterampilan perseorangan (develop personal skills).
  5. Reformasi Sistem Pelayanan Kesehatan (reorient health service).

Menurut Piagam Ottawa, promosi kesehatan adalah suatu proses yang memungkinkan orang untuk meningkatkan kendali (control) atas kesehatannya, dan meningkatkan status kesehatan mereka (Health promotion is the process enabling to increase control over, and to improve their health). Untuk mencapai status kesehatan paripurna baik fisik, mental dan kesejahteraan sosial, setiap individu atau kelompok harus mampu mengidentifikasi setiap aspirasi, untuk memenuhi kebutuhan, dan mengubah atau mengantisipasi keadaan lingkungan. Oleh sebab itu, promosi kesehatan bukanlah semata-mata tanggung jawab sektor kesehatan, tapi juga meliputi sektor-sektor lain yang mempengaruhi gaya dan perilaku hidup sehat.

(Penulis adalah Ketua Umum PB. Ikatan Dokter Indonesia, periode 2012-2015 dan Salah satu Pendiri Yayasan Gema Sadar Gizi ,Tahun 2010)

Griya Madani I, 25 Februari 2020

Sumber bacaan:

  1. Soekidjo Notoatmodjo, dkk; Promosi Kesehatan Global. Penerbit: PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2013
  2. Soekidjo Notoantmodjo: Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Penerbit: PT. Rineka Cipta, 2012