“MENGASUH IBU”; UPAYA MELINDUNGI ASET BANGSA

Dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK – Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi

Oleh: Tirta Prawita Sari

Dalam kerangka konsep malnutrisi yang dibuat oleh Unicef jelas sekali meletakkan ibu sebagai bagian penting yang akan mempengaruhi status gizi anak, langsung ataupun tidak. Sedangkan status gizi anak memiiki korelasi positif dalam menyiapkan generasi baru bangsa yang sehat dan cerdas. Berdasarkan skema tersebut, Unicef secara tegas memperlihatkan adanya dampak langsung antara pengasuhan anak dan pengasuhan ibu bagi status gizi anak.

Child and mother care merupakan salah satu  the underlying causes  atau penyebab yang mendasari kejadian malnutrisi. Sehingga secara logis memperbaiki pengasuhan anak dan pengasuhan berarti membidik pangkal persoalan gizi anak.

Bentuk pola asuh yang dimaksudkan dalam kerangka konsep Unicef tersebut bukan hanya berhubungan dengan pengasuhan anak saja  (child care) tetapi juga membidik pada “pengasuhan ibu” (mother care), sehingga hal ini bermakna, buruknya perhatian pada ibu akan menyebabkan terganggunya status gizi anak. Keadaan ini diperlihatkan dalam kerangka konsep Unicef yang menunjukkan inter-relasi antara status gizi ibu dan kegagalan pertumbuhan anak. Oleh sebab itu, prioritas pemenuhan gizi dalam sebuah rumah tangga adalah anak balita dan ibu hamil. Ketika sebuah rumah tangga memiliki ibu hamil, maka menjadi wajiblah bagi seluruh anggota keluarga lain untuk memusatkan perhatian dan segala sumber daya untuk menjaga ibu tersebut.

Perlu dipahami bahwa setiap tindakan penjagaan ibu hamil merupakan upaya menjaga aset bangsa. Segala proses pengasuhan diharapkan akan meghasilkan generasi yang sehat yang dapat tumbuh menjadi aset bangsa yang dapat diandalkan. Tingginya prevalensi anemia dan kurang energi protein pada ibu hamil, atau bahkan juga bagi kelompok perempuan usia subur, menjadi petunjuk yang cukup jelas bagaimana bangsa ini mengelola asetnya. Tak hanya itu, buruknya sistem pelayanan kesehatan ibu hamil, persalinan, dan tidak masuknya kehamilan dalam item yang ditanggung oleh sistem asuransi, menjadi petanda lain yang menyedihkan. Membiarkan ibu hamil dan juga perempuan usia subur berada dalam keadaan kurang gizi berarti telah menempatkan bangsa ini dalam bahaya.

Keberadaan seorang  ibu, atau perempuan pada umumnya merupakan investasi sempurna bila ingin mendapatkan bangsa dengan status gizi yang baik. Kehadirannya bukan hanya karena menjadi ladang persemaian benih atau tempat menumbuhkan generasi baru, namun peran lain yang lebih mendasar. Ibu adalah peletak dasar segala prilaku sehat di rumah. Seorang ibu yang telah tercerahkan oleh pentingnya nutrisi dan kesehatan akan menjadi lokomotif bagi keluarga dalam menjamin ketersedian gizi seimbang. Bahkan dalam keterbatasan sumber daya ekonomi, seorang ibu yang telah memahami gizi mampu menyediakan makanan dengan gizi seimbang, karena sejatinya, gizi seimbang bukanlah makanan mewah yang begitu sulit untuk diperoleh. Gizi seimbang haruslah dapat dipenuhi oleh kelompok sosial ekonomi apapun dan sebaiknya haruslah mengikuti kearifan lokal, sehingga mudah diperoleh oleh keluarga. Segala upaya pendidikan gizi yang mencabut keluarga dari akar budaya suatu daerah akan menjadi tindakan sia-sia.

Gizi seimbang juga tak hanya meliputi penyediaan dan proses pengolahan, namun bagaimana ia dihantarkan hingga masuk kedalam sistem pencernaan anak. Persoalan utama dari rendahnya asupan gizi seimbang pada anak, bukan terletak pada ketersediaan pangan yang baik, namun pada kecerdasan ibu dalam memberikan pendekatan persuasif terhadap anak untuk menyantap menu seimbang tersebut.  Upaya persuasi tersebut bukanlah hal sederhana, mengingat setiap anak memiliki selera dan kemerdekaaan dalam menentukan kesukaan mereka. Dan agar upaya ini berhasil, seorang ibu juga harus mampu mengendalikan faktor eksternal anak yang akan mempengaruhi selera anak. Ibu adalah pembentuk pola makan seimbang bagi anak. Seorang ibu yang tidak menyukai ikan biasanya secara tak sadar akan menularkan ketidak-sukaan tersebut pada anaknya. Ibu yang melek gizi akan menyiapkan preferensi anak dari sejak dini, ia akan menyiapkan anak untuk hanya menyukai makanan bergizi baik. Ibu adalah proteksi utama sebuah keluarga dari segala bahaya kesehatan.

Dengan perannya yang sangat penting tersebut, maka “pengasuhan” ibu (perempuan) menjadi krusial. Seorang remaja putri hendaknya telah dipaparkan pentingnya peran wanita (ibu) dalam menjaga aset bangsa. Sehingga pada saatnya tiba, ia telah siap untuk mengemban tugas penting tersebut. Pentingnya peran ibu dalam menjaga status gizi anak (bahkan keluarga) telah menjadi sasaran pengentasan gizi kurang di banyak negara berkembang.

Edukasi yang dilakukan secara kontinyu pada kelompok ibu dan kemudian diterapkan akan menjadi “proyek” efektif dan efisien dalam mengatasi masalah gizi di Indonesia. Tak perlu program ambisius yang menyita banyak dana, cukup siapkan saja sepasukan ibu sadar gizi, maka bangsa ini insya Allah akan terlindungi dari segala masalah gizi. Telah begitu banyak negara yang memfokuskan upayanya pada wanita hamil, seperti yang dilakukan oleh pemerintah Gambia dalam mengatasi masalah kurang energi protein pada wanita hamil. Mereka menyediakan biskuit tinggi energi bagi wanita hamil untuk mengatasi masalah tingginya prevalensi bayi berat lahir rendah, dan upaya ini ternyata berhasil menurunkan prevalensi tersebut hingga 50% (1997).  Banyak penelitian yang menjelaskan segala upaya yang ditargetkan pada wanita berdasarkan pada apa yang menjadi kebutuhan mereka disesuaikan dengan budaya setempat  akan memberikan hasil yang sangat efektif.

Contoh lain mengenai ketepatan target dan intervensi bisa dipelajari dari pemerintah Nigeria. Analisis masalah yang kuat terhadap masalah gizi akan menghasilkan problem solving yang efektif. Wanita di desa Kwaren Sabre, Nigeria memiliki beban kerja yang sangat tinggi. Setiap harinya mereka harus bekerja di ladang, akibatnya tak banyak waktu dan energi yang tersedia untuk mengurus anak-anak mereka, sehingga banyak ditemukan anak dengan status gizi kurang. Kondisi yang memprihatikan ini kemudian disikapi dengan mengurangi tanggung jawab ibu untuk bekerja di luar rumah agar mereka memiliki banyak waktu untuk memperhatikan keadaan anak-anaknya. Pengurangan beban kerja ini berhasil menurunkan angka malnutrisi sebanyak 10% dalam waktu satu tahun (1995 – 1996).

Dua contoh diatas, dapat menjadi inspirasi bagi kita, bahwa dengan menjadikan ibu sebagai pemain utama dalam skenario pengentasan masalah gizi di Indonesia akan sangat efektif dan efisien. Apalagi melihat akar budaya bangsa Indonesia yang menempatkan ibu sebagai manager rumah tangga, mengendalikan jalannya rumah tangga dengan baik,  adalah faktor yang amat mendukung. Menjaga ibu dan perempuan usia subur dengan memberikan pola asuh yang baik kepadanya, berarti memberikan perlindungan terhadap aset bangsa dari berbagai masalah gizi.

(Penulis adalah Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi dan dosen Ilmu Gizi Klinik Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta)