Taubat itu Sehat

dr. Zaenal Abidin, MH. – Ketua Umum PB. Ikatan Dokter Indonesia 2012-2015 dan salah satu Pendiri Yayasan Gema Sadar Gizi 2010)

Oleh: Zaenal Abidin

Barang siapa sehat badannya, damai di hatinya dan punya makanan untuk sehari-harinya, maka seolah-olah dunia seisinya dianugerahkan kepadanya (HR. Al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ada ulama yang berpendapat bahwa sehat badannya menurut Hadits di atas adalah cerminan dari sehat jasmani. Sementara damai di hati adalah cerminan dari sehat rohani, dan punya makanan untuk sehari-harinya merupakan cerminan dari sehat sosial.

Lalu bagaimana pendapat organisasi kesehatan dunia (WHO) tentang sehat? Menurut WHO, sehat adalah suatu keadaan yang sempurna dari badan, jiwa (mental) dan sosial, bukan  hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan.

Dan bagaimana pula pengertian sehat menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor36 Tahun 2009 tentang Kesehatan? Menurut undang-undang ini Kesehatan adalah keadaan sehat baik FISIK, MENTAL, SPIRITUAL, maupun SOSIAL yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara soasial dan ekonomi. Pengertian sehat menurut undang undang ini tentu memiliki kelebihan tersendiri, sebab kesehatan spiritual di dalamnya, sehingga manusia Indonesia betul-betul damai di hatinya.

Menurut Zakiah Daradjat, sebagaimana yang dikutip oleh Muliadi dalam bukunya, “Islam dan Kesehatan Mental, kesehatan merupakan kemaslahatan duniawi yang harus dijaga selagi tidak bertentangan dengan kemaslahatan ukhrawi atau kemaslahatan yang lebih besar.

Sehat dan Afiat

Sehat, antara lain diartikan sebagai keadaan baik segenap badan serta bagian-bagiannya (bebas dari sakit). Atau sering pula dikatakan, sebagai keadaan baik bagi segenap anggota badan.

Afiat sering diartikan sehat dan kuat. Afiat memang perlindungan Allah kepada hamba-Nya dari segala macam bencana dan tipu daya. Perlindungan itu tentunya tidak dapat diperoleh secara sempurna kecuali bagi mereka yang mengindahkan petunjuk-petunjuk-Nya. Maka, kata afiat dapat diartikan sebagai berfungsinya anggota tubuh manusia sesuai dengan tujuan penciptaannya.

Sebagai contoh, mata yang sehat adalah mata yang dapat melihat maupun membaca tanpa menggunakan kacamata. Tetapi, mata yang afiat adalah yang dapat melihat dan membaca objek-objek yang bermanfaat serta mengalihkan pandangan dari objek-objek yang terlarang, karena itulah fungsi yang diharapkan dari penciptaan mata oleh Yang Maha Pencipta.

Ragam Sehat

Kesehatan jasmani merupakan dimensi sehat yang paling nyata, dan mempunyai perhatian pada fungsi mekanistik tubuh. Sedang, kesehatan mental sebagai terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya. Ada pula yang mengartikan kesehatan mental sebagai kemampuan berpikir dengan jernih dan koheren. Istilah ini dibedakan dari kesehatan emosional dan sosial, meskipun ada hubungan yang erat di antara ketiganya.

Kesehatan emosional adalah kemampuan untuk mengenali emosi, seperti takut, kenikmatan, kedukaan dan kemarahan serta untuk mengekspresikan emosi-emosi itu secara tepat. Kesehatan sosial adalah kemampuan untuk membuat dan mempertahankan hubungan dengan orang lain. Sementara kesehatan spiritual berkaitan dengan kepercayaan dan praktik keagamaan.

Ragam Keadaan Sakit

Ada yang sakit TB, HIV/AIDS, malaria, demam berdarah, dan lain-lain penyakit infeksi. Ada pula yang sakit jantung, ginjal, stroke, DM, dan lain-lain penyakit non infeksi. Ada lagi gizi kurang dan gizi buruk dan ada pula gizi lebih atau obesitas yang merupakan masalah gizi yang tidak kalah kompeksnya.

Para ahli gizi sering menyoroti bagaimana masyarakat kita secara perlahan-lahan meninggalkan kearifan lokal seperti memasak untuk anaknya atau anggota keluarga lain, kemudian beralih ke makanan cepat saji. Meninggalkan makan sayur dan buah yang mengandung serat, dan sebagainya. Karena itu, sering ada yang berkelakar, “bagaimana mungkin anak dan anggota keluarganya makan sayur dan buah kalau yang bertanggung jawab untuk belanja rumah tangga, memang tidak pernah belanja sayur dan buah?” Atau bahkan, boleh jadi sang penentu utama penyediaan pangan di rumah itu memang tidak suka sayur dan buah.

Selanjutnya, ada yang mengalami gangguan jiwa dengan berbagai sebab. Penyebabnya bisa karena beban hidup, ditinggal orang terdekat, banyak utang, kalah judi, atau mungkin pula kalah pemilu atau pilkada. Dan ada pula sakit karena aksi kekerasan, perkelahian, tawuran, asosial sampai antisosial.

Kekeliruan Memandang Sehat dan Pembangunan Kesehatan

Dalam kehidupan ini seringkali kita melihat pengambil kebijakan keliru memandang tentang sehat dan pembangunan kesehatan. Bahkan boleh jadi kita sendiri sering mengalami kekeliruan itu. Yang kita anggap sehat adalah sakit. Yang kita kedepankan dalam pembangunan kesehatan adalah membangun sarana penyembuhan. Seakan-akan berharap ada orang yang sakit agar fasilitas yang dibangun itu dapat termanfaatkan.

Seolah-olah yang dikatakan sehat dan kesehatan adalah membangunan rumah sakit mewah dan mengobati orang sakit. Rumah sakit dibangun dimana-mana, seolah-olah demi menjaga gengsi dalam rangka mengantisipasi 15 % dari populasi (sakit). Kemudian melupakan sekitar 85% masyarakat yang belum jatuh sakit, yang membutuhkan dukungan agar dapat mempertahankan kondisi kesehatannya secara prima. Bahkan melupakan bahwa sehat itu bukan hanya soal sehat fisik saja. Masih ada keadaan lain yang harus dicapai untuk dapat dikatakan sehat, yakni sehat mental, spiritual dan sosial. Mental, spiritual, dan sosial juga perlu keadaan sehat. Bukan sehat namanya, bila mental, spritual, dan sosial seseorang sakit.

Bahkan dalam soal kesehatan fisik saja, masih sering terjadi pengabaian upaya promotif-preventif (di HULU), yang lebih efektif dan efisien, yakni di sektor Pelayanan Kesehatan Masyarakat. Kita lebih cenderung beralih mengutamakan urusan HILIR (benteng terkahir). Meski pun bukan berarti bahwa Pelayanan Kedokteran tidak melakukan upaya promotif-preventif. Pelayanan Kedokteran tetap melakukan upaya promotif-preventif, namun harus dipahami bahwa dalam lingkup sasaranya dan tempat yang sangat terbatas dalam hubungan dokter dan pasien.

Penanggulangan Masalah Kesehatan (Sakit)

Dalam Hadits Rasulullah Saw, dikatakan: “…Gunakan waktu sehatmu sebelum datangnya waktu sakitmu..” Tingkat pengetahuan masyarakat tentang sehat, sebagaimana hadits ini juga terbatas. Yang selalu kita kedepankan adalah hak mendapatkan perawatan ketika sakit. Pemahaman kita belum sampai kepada pemahaman hak sehat yang tertinggi, yakni memanfaatkan waktu sehat dan memperoleh dukungan atau fasilitasi untuk menjaga diri agar tetap hidup sehat.

Agama pun menganjurkan untuk melakukan pencegahan agar tidak kena sakit atau agar penyakitnya tidak bertambah parah, sebagai prinsip yang sering didengarkan bahwa, “Mencegah penyakit lebih baik daripada mengobatinya.

Mencegah penyakit dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan promosi kesehatan guna mengubah prilaku masyarakat agar berbudaya hidup sehat. Mengubah prilaku tokoh masyarakat agar nantinya mereka dapat menjadi teladang dalam pola hidup sehat. Dan mengubah perilaku pejabat publik agar dapat menjadi teladan hidup sehat serta mampu membuat kebijakan publik atau peraturan perundangan yang memiihak kepada terwujudnya pola hidup sehat di tengah masyarakat. Salah satu contohnya adalah menjaga kebersihan dengan membiasakan diri mencuci tangan dengan cara yang benar. Atau meninggalkan suatu kebiasaan yang tidak beguna atau bahkan merugikan kesehatan sendiri atau kesehatan orang lain (publik) karena dapat menimbukan sakit. Meski demikian, bila ada yang sedang sakit maka obatilah atau bawalah ke fasilitas pelayanan kedokteran (untuk hak sehat yang paling hilir/bawah).

Taubat dan Kesehatan

Taubat adalah sebuah ungkapan tentang pengadilan manusia terhadap dirinya sendiri untuk membersihkan diri dari dosa perkataan dan perbuatan. Taubat adalah revolusi melawan diri sendiri. Taubat bukan sekedar ucapan di mulut saja, melainkan mengandung derajat yang sangat tinggi.

Manurut Imam Ali RA., istighfar mengandung makna:

  1. Menyesal atas apa yang telah terjadi;
  2. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa-dosa yang telah lalu;
  3. Menunaikan hak-hak makhluk yang terabaikan, hingga bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih dari tuntutan makhluk Allah yang lain;
  4. Menunaikan seluruh hak-hak Allah yang telah diabaikan;
  5. Membakar daging yang tumbuh lantara dosa dengan kesedihan hingga kurus kering, kemudian tumbuhlan daging yang baru;
  6. Paksakan tubuh dengan letihnya ketaatan, seperti halnya yang engkau rasakan manisnya berbuat maksiat.

Setelah itu ucapkanlah “Astaghfirullah”. Istighfar semacam itulah yang mampu merevolusi diri dan membersihkan dari segala dosa dan kotoran yang melekat.

Ada pribahasa yang mengatakan: “Bersih Pangkal Sehat”. Ada pula Hadits yang mengatakan: “Kebersihan adalah bagian dari iman” (HR. Ad-Dailami) dan “Kebersihan itu adalah separuh dari iman” (HR. Muslim). Bahkan, kebersihan seringkali digandengkan dengan taubat dalam surat Al-Baqarah: 222: “Sesungguhnya Allah senang kepada orang yang bertaubat, dan senang kepada orang yang membersihkan diri.”

Ayat di atas, seolah-olah ingin mengatakan bahwa taubat itu sangat dekat dengan kebersihan diri. Apalagi boleh dikata, semua ibadah dalam Islam mensyaratkan kebersihan diri, baik dalam bentuk bersuci (thaharah), mapun dalam pengertian bersih secara spiritual, dalah hal ini hatinya atau niatnya bersih. Apalagi seperti diutarakan di atas bahwa sehat dan kesehatan itu memang tidak terbatas hanya sehat fisik atau bersih secara fisik.

Hal ini dapat dibuktikan dalam praktik wudhu, misalnya ketika hendak menegakkan sholat, membaca al-Qur’an atau yang lainnya. Saat wudhu menggunakan air, kita membasuh bagian tertentu dari tubuh. Tentu secara lahir  (fisik) dapat dimankai sebagai melakukan aktivitas kebersihan diri. Namun, lebih dari itu ternyata sebagian besar dari wudhu itu mengandung makna simbolik, yang tidak bisa dijelaskan dari kacamata lahiriyah. Sebagai contoh, ketika orang batal wudhunya karena keluar angin (flatus), lalu dianjurkan untuk wudhu kembali seperti biasa. Tidak diajurkan membasuh dubur tempat keluarnya angin (flatus). Artinya, sekalipun dalam berwudhu itu mengandung aspek kesehatan atau kebersihan secara fisik namun tentu lebih banyak bermakna simbolik, yang sangat bersifat spiritual ruhaniah.

Ekstremnya, andai untuk beribadah betul-betul dipersyaratkan kebersihkan fisik (tubuh) secara lengkap tentu diperintahkan adalah mandi, seperti halnya mandi junub. Walau mandi itu sendiri hanya mampu membersihhkan bagian luar dari tubuh (fisik) seseorang. Belum lagi karena suatu hal tertentu yang tidak memungkinkan berwudhu lalu digantikan dengan bertayamum.

Kembali pada taubat. Seperti disebutkan di atas bahwa, taubat sangat bersinggungan dengan kebersihan diri, dimana kebersihan itu sendiri adalah pangkal utama dari sehat.  Tentu saja taubat di sini lebih tertuju kepada makna sehat atau kesehatan mental-spiritual. Sedang unsur sehat fisik dihasilkan dari kebersihan lahiriah. Wahyu kedua (atau ketiga) yang diterima Nabi Muhammad Saw, adalah: “Dan bersihkan pakaianmu dan tinggalkan segala macam kekotoran” (QS Al-Muddatstsir: 4-5). Bahkan boleh jadi taubat itu pun dapat mencakup kesehatan sosial bila dikaitkan dengan ajaran berzakat, infak, dan sedekah. Sebab, bukankan zakat dan sedekah itu sendiri dapat menumbuhkan benih-benih kasih sayang antar sesama. Bahkan dapat menyembuhkan penyakit fisik, mengikis penyakit psikologis, seperti benci, iri hati, depresi, dan penykit psikosomatik lainnya.

Catatan akhir

Manusia yang sehat adalah manusia yang sejahtera dan seimbang secara berlanjut dan penuh daya kemampuan. Dengan kemampuannya itu ia dapat menumbuhkan dan mengembangkan kualitas hidupnya seoptimal mungkin agar dapat memfungsikan hidupnya sebaik mungkin untuk beribadah dan beramal shaleh sehingga menjadi bagian masyarakat lingkungannya.

Hidup sehat merupakan hajat hidup yang paling esensial, karena hidup sehat dapat mengantarkan kepada tarap hidup yang lebih baik dan sejahtera, juga merupakan prasyarat kesempurnaan ibadah umat manusia. Kebersihan menghasilkan kesehatan fisik. Zakat, infaq, dan sedekah, saling memaafkan menghasilkan sehat sosial. Sedangkan taubat menghasilkan sehat mental-spiritual yang pada waktu yang hampir bersamaan dapat menyehatkan fisik dan sosialnya.

Pemerintah harus mengubah pandangannya tentang sehat dan pembangunan kesehatan, yang selamaini lebih banyak hanya dipersepsikan sebagai sehat fisik, melupakan mental-spiritual dan sosial. Pembangunan kesehatan dipersepsikan hanya sebagai pembangunan rumah sakit dengan fasilitas mewah, kapitalistik dan mekanistik yang hanya berorientasi HILIR. Pemerintah harus “taubat” dan mengubah orientasi dan pandangannya tentang sehat dan pembanguan kesehatan. Setelah pemerintah barulah “taubat” diharapkan dapat mengajak rakyat untuk ikut ,“bertaubat” bila rakyat juga masih mengalami kekeliruan berpikir. Wallahu a’lam bish-shawab.

Griya Madani I, 7 April 2020

(Penulis adalah Ketua Umum PB. Ikatan Dokter Indonesia periode 2012-2015 dan salah satu Pendiri Yayasan Gema Sadar Gizi, tahun 2010)