Memahami Label Makanan Kemasan: Upaya Menerapkan Gizi Seimbang

dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK – Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi

Oleh: Tirta Prawita Sari

Perkembangan industri modern belakangan ini berlangsung demikian pesat. Begitu juga dengan industri yang memproduksi makanan dan minuman. Kita bisa lihat di mall, supermarket, hingga warung kaki lima yang memajang berbagai macam makanan dan mainuman dalam kemasan yang sangat menarik.  Makanan tidak lagi sekedar soal gizi, tapi juga menyangkut selera dan kemasan.

Teknologi pengolahan makanan harus diakui sebagai faktor yang mendorong pesatnya produksi makanan dan minuman dalam kemasan. Termasuk di dalamnya menyangkut teknologi penyimpanan dan bahan-bahan tambahan makanan. Sehingga makanan dan minuman yang diproduksi tidak rusak dan bisa tahan lama hingga ke tangan konsumen. Konsumen pun dapat memilih dengan bebas makanan dan minuman yang diinginkan tanpa terkendala musim.

Namun, disebabkan semakin meningkatnya persaingan usaha yang dipicu oleh semakin bertambahnya merek dan produk makanan, menyebabkan ada beberapa produsen melakukan hal-hal yang bertujuan agar semakin banyak konsumen yang memilih produknya. Ada juga yang mengurangi kandungan zat maupun isi produk agar didapatkan untung yang lebih banyak dalam setiap penjualannya. Ada pula yang mengurangi sebagian dan menambahkan  kandungan lainnya.  Hal ini akan mengakibatkan ketidak kesesuaian antara kandungan gizi produk sebenarnya dengan angka-angka atau prosentase yang terera di label kemasan. Dampaknya adalah konsumen mengalami kesulitan untuk menakar zat-zat gizi tertentu yang konsumsi dan kebutuhannya dalam sehari.  Ironisnya, perbuatan yang tidak bertanggungjawab tersebut seringkali lolos dari pengawasan pihak yang berwenang.

Sebuah riset menunjukkan bahwa dengan tren yang dialami dunia saat ini, maka pada tahun 2020, penyakit kronis akan mencapai hampir tiga perempat dari semua penyebab kematian di dunia. 71% kematian adalah karena penyakit jantung iskemik, 75% karena stroke, dan 70% kematian akibat diabetes akan terjadi di negara berkembang. Dalam studi yang sama diperkirakan jumlah penderita diabetes di negara berkembang akan meningkat 2,5 kali lipat, dari 84 juta pada tahun 1995 menjadi 228 juta pada tahun 2025. Temuan-temuan lain menunjukkan bahwa 60% beban penyakit kronis akan ditanggung oleh negara-negara berkembang.

Dari data-data di atas, yang dianggap memiliki kontribusi paling besar sebagai faktor predisposisi terjadinya kondisi sakit adalah tidak terkendalinya asupan dari komponen makanan dan minuman, terlebih kepada zat-zat yang dapat mencetuskan respon patologis dari tubuh yang akhirnya menimbulkan penyakit.

Walaupun telah ada beberapa peraturan perundang-undangan yang diterbitkan bertujuan melindungi masyarakat dari keberadaan produk makanan dan minuman yang berbahaya bagi masyarakat. Dari undang-undang kesehatan sampai dengan undang-undang perlindungan konsumen, bahkan peraturan pemerintah khusus label pada kemasan pun telah dikeluarkan (PP No.69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan). Dengan diterbitkannya Undang-undang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, seharusnya makin memacu kesadaran masyarakat akan pentingnya memperhatikan label dan kualitas dari makanan dan minuman yang akan dikonsumsi.

Namun keberadaan peraturan perundang-undangan yang telah diterbitkan  tidak cukup berarti, sebab pelaksanaan pengawasan serta pembinaan terhadap produsen makanan dan minuman tersebut masih memberikan banyak celah dilakukannya penyelewengan. Ditambah lagi tingkat pengetahuan masyarakat pada golongan tertentu masih sangat kurang atau tidak mau direpotkan dengan kebiasaan mengecek kandungan makanan dan minuman yang aman.  Karena itu, Yayasan Gema Sadar Gizi sebagai lembaga swadaya masyarakat yang konsen dalam persoalan gizi, menyampaikan sebagai berikut:

  1. Menghimbau pemerintah agar secara bersungguh-sungguh mengegakkan peraturan perundang-undangan berkaitan dengan label produk makanan dan minuman kemasan;
  2. Pemerintah agar melakukan pengawasan untuk mengecek kebenaran dan kesesuaian antara label dan kandungan produk;
  3. Mewajibkan produsen untuk mencantumkan peringatan bahaya kesehatan terhadap produk makanan dan minuman tertentu, bila dikonsumsi secara berlebih;
  4. Melibatkan peran serta masyarakat atau kelompok masyarakat dalam melakukan edukasi dan kampanye penyadaran masyarakat agar memperhatikan label produk makanan dan minuman kemasan;
  5. Kepada keluarga, khusus kaum ibu (Kartini-Kartini Bangsa) agar membiasakan diri membaca dan bertanya dalam rangka memahami kandungan gizi yang tertera di dalam label produk kemasan.

Salam Sehat Indonesia!

Dari Sebuah Round Table Discussion Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi

Jakarta, 22 April 2012

(Penulis adalah Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi)