Bangsa Terancam Punah

dr. Zaenal Abidin, MH.

Oleh : Zaenal Abidin

Peter A. Stalker, seorang penulis masalah-masalah pembangunan sosial di negara berkembang mengemukakan bahwa “Indonesia termasuk negara dengan masalah paling kompleks di antara negara-negara di Asia yang mengalami krisis moneter. Ketika negara lain telah mampu mengatasi badai krisis dalam empat tahun terakhir, Indonesia masih belum bisa keluar dari kondisi yang mengenaskan itu.”

Jangankan untuk pulih, masa depan Indonesia dengan segala peradabannya justru sangat tidak menentu. Krisis moneter telah menjadi drama sosial dan reaksi rantai politik yang sangat sulit diselesaikan dalam beberapa tahun kedepan.

Masa depan yang tidak menentu itu disebabkan karena generasi penerusnya terancam punah akibat krisis. Disisi lain, hutang negara telah memaksa pemerintah mengeruk lebih dari seperempat anggaran negara di tahun 2001-2002 untuk menanggulangi biaya hutang tersebut.

Dengan alokasi dana yang kecil seperti itu, tentu  tidak banyak yang bisa dilakukan. Sehingga untuk mengatasinya, hampir tidak ada jalan lain kecuali menunggu uluran tangan pendonor yang sebagian besar adalah kelompok kapitalis. Dengan demikian, apapun bentuk bantuan yang diberikan, tetap merupakan hutang negara, berbunga, dan harus dibayar dikemudian hari. Sementara hutang yang ada selama ini belum juga dilunasi.

Kemungkinan kondisi terburuk bisa saja terjadi bila kita berharap banyak kepada kelompok pendonor, ketika mereka mempersyaratkan macam-macam yang sebetulnya sangat tidak rasional dan tidak mungkin kita penuhi. Sementara dipihak lain masyarakat kita sungguh sangat membutuhkan uluran tangan. Pada keadaan demikian maka mau atau tidak mau bangsa kita akan mengalami konflik internal. Ibarat buah simalakama yang tidak menyediakan ruang sedikitpun untuk memilih yang terbaik di masa depan.

Krisis ekonomi telah menyebabkan banyak masyarakat kehilangan pekerjaan, daya beli rendah dan kekurangan gizi. Akibat dari kekurangan gizi ini adalah meningkatnya angka kematian bayi. Dari rata-rata empat juta bayi yang lahir di Indonesia setiap tahun, 300.000 diantaranya meninggal sebelum mencapai usia lima tahun, dengan rata-rata 300 kematian perhari.

Sangat disadari bahwa untuk mencegah hilangnya generasi penerus dengan tingkat kematian bayi dan kurang gizi yang tinggi, bukan hanya memerlukan alokasi dana besar, tetapi juga kesungguhan pemerintah untuk mendudukkan masalah ini sebagai prioritas utama untuk diselesaikan. Sebab jika tidak, situasi buruk yang kita harapkan  segera berakhir hanya akan menjadi angan-angan.

Krisis telah berdampak pada melemahnya kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan pokok. Sehingga untuk bisa sekedar bertahan maka diperlukan pengurangan-pengurangan dalam segala hal termasuk makanan (gizi) bagi bayi yang sebetulnya sangat dibutuhkan pada awal pertumbuhannya agar bisa membentuk fisik dan mentalnya. Jadi, kedepan kita jangan terlalu banyak  berharap pada generasi yang lahir bersamaan dengan krisis ini. Karena dapat dipastikan mental dan jiwa mereka sangat lemah karena pembentukan awalnya yang terabaikan.

Kini saatnya kita mengetuk nurani masing-masing, akankah kondisi  yang memiriskan itu dibiarkan terus? Walau hanya seorang diri, kita harus berani mengatakan TIDAK, kemudian secara bersama-sama menghentikan dan mengatasi keadaan yang sudah sangat emergency  itu. Untuk hanya sekedar didiskusikan diruang-ruang seminar, sudah tidak cukup. Sebab yang diperlukan adalah tindakan penyelamatan yang nyata baik dari pemerintah maupun masyarakat.

Tentu saja pemerintah yang dimandatir oleh rakyat harus mengambil peran yang lebih besar. Mereka perlu memainkan peran sebagai stimulator dan fasilitator agar masyarakat dapat terlibat aktif dalam usaha penyelamatan ini. Oleh karena itu sangat diharapkan adanya kebijakan yang komprehensif mengenai masalah ini. Paling tidak, sejak sekarang pemerintahan harus menyadari dan menyatakan bahwa “kelangsungan hidup anak-anak (bayi) Indonesia berada di ujung tanduk”. Semoga Allah tetap melimpahkan kasih sayang-Nya kepada kita, Amin.

Jakarta, 19 Juni 2010