Tak Perlu Mendebat Tentang Puasa, Puasa Itu Menyehatkan

Ns. Sarifudin, M.Si (Peneliti Lembaga Kajian dan Konsultasi Pembangunan Kesehatan & Pengurus Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi)

Oleh : Sarifudin

“Setiap manusia sangat membutuhkan puasa, meski ia tidak sedang sakit sekalipun. Karena racun makanan dan obat-obatan yang bertumpuk didalam tubuh akan membuat seseorang menjadi sakit dan aktivitasnya pun menjadi terhambat. Jadi ketika seseorang berpuasa, maka ia akan terbebas dari ancaman racun tersebut, dia pun akan merasakan lebih kuat dan aktif dari sebelumnya.” Dr. Max Fedon.

Tak perlu saya mengurai panjang tentang ramadhan, sehinga kopi tak perlu dihidangkan untuk membaca tulisan ini. Karena bulan ini selalu kita lewati setiap tahunnya. Bulan suci yang sejatinya selalu membawa keberkahan buat umat islam. Bulan yang membuka ribuan pintu amal bagi yang menunaikannya.

Saya juga bukan ingin menjawab atau mengkritik, apalagi mendebat pernyataan saudara kita yang meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kemeterian Agama untuk membatalkan puasa ramadhan ditengah pandemik corona virus disease (covid-19). Karena setahu saya, bulan ramadhan adalah bulan puasa, bulan yang didalamnya terdapat kewajiban bagi umat muslim untuk berpuasa. Puasa di bulan ramadhan adalah puasa syar’i yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk menunaikannya.

Ada begitu banyak ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT. Namun puasa adalah kewajiban yang dikecualikan peruntukannya. Jika ibadah lain diperuntukan bagi hamba Allah SWT yang melaksanakannya, beda halnya  dengan puasa yang diperuntukan untuk Allah SWT.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, r.a, Rasulullah SAW bersabda:

Allah Azza Wajallah berfirman; “Semua perbuatan anak adam adalah untuk dia, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku. Dan Aku akan memberikan upah untuk itu. Demi yang diri Muhammad dalam genggaman-Nya, napas seorang yang berpuasa lebih wangi disisi Allah daripada semerbak wangi minyak kasturi”.

Secara umum, kita mengenal dua jenis puasa. Pertama adalah puasa syar’i dan kedua adalah puasa medis. Puasa syar’i merupakan puasa yang mudah dilakukan oleh siapa saja yang sudah diwajibkan untuk melakukannya. Dan puasa syar’i adalah bentuk ketaatan kepada perintah Allah AWT. Sementara puasa medis, adalah puasa yang memberatkan karena puasa ini dilakukan oleh orang yang sakit, dalam keadaan terpaksa dan dibawah pengawasan dokter atau para ahli untuk tujuan kesehatannya.

Pada puasa syar’i kita diwajibkan untuk berhenti makan, minum, dan dari segala sesuatu yang membatalkannya mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, sedangkan puasa medis hanya melarang orang yang melakukannya dari makan dalam waktu tertentu. Dan puasa medis tidak melarang untuk minum.

Dari sekian perbedaan antara puasa syar’i dan puasa medis, keduanya sama-sama memberikan kesempatan bagi tubuh untuk melakukan relaksasi dari fungsi pencernaan, penyerapan dan pemakaian sari-sari makanan yang tersimpan. Keduanya juga sama-sama menstimulasi proses metabolisme tubuh dan mengusir racun yang tertumpuk didalam tubuh.

………….

Salah satu ancaman terbesar manusia setiap hari adalah racun. Setiap hari manusia menyerap racun sebanyak 500 cm/kubik. Racun tersebut masuk melalui udara, makanan, air tercemar bahkan melalui telepon seluler. Sebenarnya tubuh memiliki kemampuan untuk menyerap racun dan mengatasinya. Namun jika jumlahnya melebihi batas tertentu, akibatnya tubuh manusia akan sakit. Organ tubuh yang berfungsi untuk membersihkan dan mengendalikan keluar masuknya racun dalam tubuh adalah hati. Hati yang dalam istilah medis disebut liver merupakan organ pencenaan dengan aktifitas metalobik paling tinggi, juga berfungsi sebagai gudang penyimpanan dan distributor zat-zat makanan yang diperlukan sel-sel tubuh.

Meskipun sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk menghilangkan racun dalam tubuh, para ilmuwan belum menemukan cara terbaik kecuali dengan berpuasa. Baik puasa syar’i maupun puasa medis, sama-sama memberikan manfaat yang besar bagi tubuh. Namun yang jauh lebih besar manfaatnya adalah puasa syar’i. Karena waktu puasanya lebih lama dan adanya larangan untuk minum.

Pada puasa medis, lamanya orang berpuasa “tidak makan” bergantung dari kondisi dan jenis penyakitnya. Seperti halnya puasa syar’i, tubuh tidak akan mendapatkan asam amino esensial karena jenis asam ini hanya diperoleh dari asupan makanan. Sementara, asupan makanan yang terus menerus masuk tanpa jeda yang maksimal akan menyebabkan rusaknya sel-sel tubuh dan tidak maksimalnya proses regenerasi sel. Hal ini dikarenakan, penguraian lemak akan tinggi pada saat kondisi tidak berpuasa sehingga mengakibatkan pengendapan lemak pada sel-sel hati yang akan mengganggu proses kerja hati dan menimbulkan sirosis hati. Begitu juga pada saat terkumpulnya bodi keton dalam darah yang terjadi pada puasa medis akan disertai dengan terganggunya proses metabolisme dan menambah keasaman darah.

Sementara pada puasa syar’i dengan berkurangnya kalori saat berpuasa, memberikan kesempatan kepada hati untuk mengubah glikogen (cadangan energi dari karbohidrat yang disimpan oleh hati) menjadi glukosa dan energi. Dengan berkurangnya jumlah glikogen karena puasa, maka tubuh akan menggunakan protein dalam otot sebagai penghasil glukosa dan energi dengan cara mengubah protein menjadi asam-asam amino terlebih dahulu yang dikenal dengan proses ketosis.

Untuk melakukan penghematan energi dalam proses ketosis, tubuh secara reflek mempertahankan diri dengan melakukan pengurangan beban, yaitu mulai melakukan pengurasan zat-zat bersifat racun bahkan yang sudah merusak sel tubuh, sisa-sisa metabolisme seperti lemak, sel-sel dan jaringan tubuh yang rusak, tumor dan berbagai jaringan abnormal lainnya dengan mengaktifkan organ-organ pembuangan yang dikenal dengan proses otolisasi dan terjadi pada hari ke tiga puasa. Dalam proses otolisasi, tubuh juga akan menstimulasi dan mempercepat pertumbuhan sel baru pada saat protein yang diperlukan disintesa ulang (recycle) dari sel-sel yang sudah rusak. Racun-racun dan sisa metabolisme yang tidak bisa disintesa ulang (recycle) dibuang oleh organ-organ pembuangan.

Larangan minum air pada puasa syar’i memiliki manfaat yang sangat besar, yaitu bertambahnya produksi hormon antidiuretic sehingga tubuh tidak mengalami kekurangan cairan yang keluar melalui urin dan meminimalisir hilangnya unsur mineral penting seperti sodium, yang apabila hilang akan berpengaruh pada sel-sel tubuh. Bahkan hormon antidiuretic ini terbukti meningkatkan kemampuan belajar dan berperan penting dalam menguatkan ingatan. Demikian pula rasa haus akibat puasa, dapat merangsang hormon angiotensin II dan vasopressin yang keduanya mampu meningkatkan proses penguraian glukosamin di dalam hati. Hal ini dapat memberikan energi bagi tubuh saat berpuasa.

Puasa syar’i merupakan suatu sistem nutrisi yang ideal untuk meningkatkan sistem kerja hati. Karena puasa syar’i  dapat memberikan suplai asam lemak dan asam amino esensial bagi tubuh melalui makan sahur dan berbuka puasa. Sehingga hati tidak akan mengalami gangguan fungsi yang diakibatkan oleh tidak adanya zat pengangkut lemak dari sel hati yaitu unsur lemak VLDL (Very Low Density Lipoprotein) yang tidak akan bisa diproduksi saat melaparkan diri pada puasa medis atau bahkan pada kondisi ideal.

Beberapa penelitian nutrisi di Tunisia, menemukan bahwa unsur kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) pada orang sehat yang berpuasa ramadhan mengalami peningkatan 20%. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan minimnya seseorang mengidap penyakit jantung dan pembuluh arteri. Akan tetapi kondisi ini mengalami penurunan setelah beberapa hari puasa ramadhan.

Saat kita menjalani puasa pertama di bulan ramadhan, memang kita akan mengalami kondisi yang tidak menyenangkan. Seperti sakit kepala, tubuh terasa lemah, dan kehilangan mood. Tapi sebenarnya ini adalah penafsiran kondisi tubuh yang sedang melakukan proses pembuangan endapan yang tersisa dalam jaringan tubuh sebelum endapan atau racun tersebut dibuang keluar tubuh. Semua proses ini melibatkan semua organ tubuh seperti jantung, otak, syaraf sehingga menimbulkan gejala-gejala sakit yang kita alami diawal ketika berpuasa. Namun kondisi tersebut akan hilang dalam beberapa hari (±3 hari) setelah kita rutin menjalani puasa.

Puasa, selain membuat tubuh sehat, semoga menjadikan kita bijak seperti pesan Lukman al-Hakim kepada anaknya: “wahai anakku, jika lambungmu penuh maka pikiranmu akan tidur dan engkau sulit untuk menjadi bijak, serta tubuhmu pun akan sulit untuk beribadah,” atau sanubari kita menjadi suci seperti aforisme Imam Ghazali: “bahwa dalam keadaan tubuh yang lapar terdapat kesucian hati sanubari.”

Sumber tulisan : Az-Zaki, J. M. 2019. Kian Sehat Tanpa Obat. Penerbit: Qalam.

Cawang, 17 April 2020

(Penulis adalah Peneliti Lembaga Kajian dan Konsultasi Pembangunan Kesehatan dan Pengurus Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi)