‘Generasi Emas’ Bangsa Berkat Gizi Seimbang

dr. Zaenal Abidin, MH.

Oleh: Zaenal Abidin

Prakata

Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan telah menyebutkan secara eksplisit mengenai ‘gizi seimbang di dalam program perbaikan gizi nasional. Undang-undang ini pula yang sekaligus menandakan penerimaan publik atas “Pedoman Gizi Seimbang”. Pedoman Gizi Seimbang, sangat penting artinya di dalam menyiapkan pola hidup sehat termasuk di dalamnya bagaimana menghadapi beban ganda masalah gizi, yakni kekurangan dan kelebihan gizi yang terjadi secara bersamaan. Baik kekurangan gizi maupun kelebihan gizi dapat berakibat buruk bagi kesehatan dan masa depan kehidupan generasi penerus. Begitulah gambaran singkat mengenai perlunya menjaga gizi yang dikonsumsi agar tetap seimbang.

Gizi seimbang adalah susunan menu sehari-hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, hidup bersih, dan berat badan ideal. Gizi seimbang memang amat penting, namun bila tidak dibarengi aspek sehat, termasuk aspek kebersihan dan keamanan, maka boleh dikatakan bahwa prinsip dan jargon ’gizi Seimbang akan kehilangan sebagian maknanya.

Pada tahun 2009, Direktur Manajemen Bisnis Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Arief Daryanto, melaporkan bahwa konsumsi daging rakyat Malaysia sudah mencapai 46,87 kg per kapita per tahun, sedangkan konsumsi untuk telur mencapai 17,62 kg per kapita per tahun. Selain itu, di Filipina angka rata-rata konsumsi daging rakyatnya telah mencapai 24,96 kg per kapita per tahun. Sedang konsumsi telurnya 4,51 kg per kapita per tahun. Bila dibandingkan konsumsi rakyat Indonesia sebagaimana data yang dilansir organisasi pangan dunia, rata-rata konsumsi daging 4,5 kg per kapita per tahun. Hal ini berarti, konsumsi rata-rata daging Indonesia tertinggal 38,5 kg dari Malaysia, tertinggal 14 kg dari Thailand, serta tertinggal 8,5 kg dari Filipina.

Bila Indonesia di sandingkan dengan tiga negara ASEAN di atas, tampak sekali angka rata-rata konsumsi daging rakyat Indonesia sangat jauh tertinggal.  Kondisi ini tentu sangat menyedihkan, sebab asupan protein hewani memegang peranan penting dalam pemenuhan gizi anak untuk dapat tumbuh serta berkembang dengan baik sesuai dengan kebutuhan tubuhnya.

Hal yang sama terjadi pula pada konsumsi susu. Masyarakat Indonesia pun tergolong sangat rendah dalam konsumsi susu. Pusat Ilmu dan Teknologi Pangan dan Pertanian Asia Tenggara (2010), yang  dalam diskusi ilmiahnya bertema “Peranan Susu Dalam Upaya Peningkatan Status Gizi Anak: Kebijakan, Manfaat dan Best Practices”, menyebutkan bahwa untuk masyarakat Indonesia, konsumsi susu secara nasional masih sangat rendah, yaitu sekitar 7,7 liter/kapita/tahun (setara dengan 19 g sehari) atau sekitar 1/10 konsumsi susu di dunia. Dua tahun sebelumnya (2008), Bustanul Arifin, pengamat ekonomi dari Institut Pertanian Bogor, mengatakan, konsumsi protein dan susu masyarakat Indonesia tergolong sangat memprihatinkan. Kalau dibuat rata-ratanya, hanya ‘dua tetes susu yang diminum orang Indonesia setiap harinya.

Riskesdas 2010 menemukan tingkat prevalensi gizi kurang pada balita sebesar 17,9 persen atau diperkirakan sekitar 3,7 juta balita mengalami kekurangan gizi kurang dan gizi buruk. Meskipun angka tersebut mengalami penurunan daripada tahun 1990, dimana 31 persen balita mengalami gizi buruk, Di sisi lain kita juga mengalami masalah gizi berlebih pada anak yang sampai saat ini merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit degenerative. Sekitar 14 persen balita ditemukan mengalami gizi lebih dan kondisi ini pun tidak baik karena akan meningkatkan risiko terhadap penyakit seperti penyakit jantung. Sebanyak 19,1 persen orang berusia diatas 15 tahun juga mengalami obesitas alias kegemukan dan ini juga dinilai sebagai masalah kesehatan masyarakat. Gizi lebih ini terdapat pada seluruh keluarga, baik miskin atau kaya. Sebanyak 13,7 persen keluarga miskin mengalami kelebihan gizi dan 14 persen pada keluarga kaya. Jenis kelamin dan pendidikan orang tua juga tidak berpengaruh terhadap kasus gizi berlebih ini,

Angka prevalensi kurus secara nasional pada anak usia sekolah (6-14 tahun) laki-laki adalah 13,3 % sedangkan pada anak perempuan 10,9 %. Angka ini menunjukkan adanya permasalahan gizi kurang yang kronis pada anak usia sekolah. Gizi kurang yang terjadi pada usia sekolah mempengaruhi daya tangkap anak pada saat sekolah. Apabila hal ini dibiarkan, akan berkontribusi pada menurunnya prestasi belajar anak. Anak dengan status gizi yang baik merupakan aset bangsa dalam pembangunan.

Salah satu penyebab gizi kurang pada anak sekolah adalah sedikitnya asupan energi dan protein. Sebagai contoh, angka kecukupan gizi anak usia 7-9 tahun untuk kebutuhan energi sebesar 1800 kkal dan kebutuhan protein sebesar 45 g. Namun berdasarkan data yang dilaporkan oleh Saptawati Bardososno, ahli gizi dari Universitas Indonesia, 94,5 % dari 220 anak yang diteliti di 5 SD di wilayah DKI Jakarta mengkonsumsi kalori di bawah 1800 kkal. Laporan ini menunjukkan kurangnya asupan energi dan protein pada anak sekolah. Hal ini semata-mata tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan ekonomi, namun juga pola asuh yang kurang baik sehingga anak terbiasa mengkonsumsi makanan yang tidak sehat dengan gizi yang tidak seimbang.

Generasi Emas dan Gizi Seimbang

Lahirnya ‘generasi emas di suatu Negara yang bermartabat harus didukung oleh lima pilar utama. Kelima pilar tersebut adalah pendidikan, kesehatan, politik, birokrasi, dan kemauan pasar. Dari lima pilar tersebut, sektor pendidikan dan sektor kesehatan merupakan pilar yang paling menentukan karena merupakan pondasi utama dalam pembangunan Sumber Daya Manusia.

Salah satu kekuatan yang merupakan arus utama dalam sektor kesehatan ialah status gizi. Status gizi merupakan Performance Indicator terjadinya keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran zat gizi oleh tubuh, yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup. Gizi Seimbang ini sangat erat kaitannya dengan kondisi anak sekolah yang sehat, bugar, dan cerdas.  Pada sisi ini pula kita akan bertemu dengan peran sektor pendidikan, yaitu bagaimana sekolah menjadikan kekuatan arus gizi seimbang ini sebagai salah satu prioritas yang perlu mendapatkan perhatian dalam kurikulum belajar mengajarnya. Terjadinya kasus gizi salah pada anak sekolah misalnya, tentu merupakan masalah besar bagi bangsa di masa depan, terutama di dalam upaya mencetak dan membina generasi emas.  Kejadian ini semata-mata tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan ekonomi, namun juga pola asuh yang kurang baik sehingga anak terbiasa mengkonsumsi makanan yang tidak sehat dengan gizi yang tidak seimbang.

Oleh karena itu untuk meningkatkan asupan gizi seimbang diperlukan adanya perubahan sikap dan perilaku, di samping peningkatan daya beli masyarakat. Perubahan sikap dan perilaku konsumsi pada anak sekolah harus didahului dengan pemberian pengetahuan mengenai gizi seimbang yang memadai. Pola transfer ilmu dan perilaku yang bersifat konvensional dimana anak mendapatkan pengetahuan dari guru atau orang tua bukanlah satu-satunya pilihan. Pola pendekatan kelompok teman sebaya dimana di dalam kelompok tersebut anak-anak saling mempengaruhi perilaku positif akan lebih efektif dalam membudayakan pola hidup dengan gizi seimbang. Dengan pola yang integratif, cita-cita bersama terbentuknya generasi anak bangsa yang sehat, bugar dan berprestasi akan lebih cepat tercapai.

Meskipun kini fokus pembangunan kesehatan Indonesia lebih ditujukan pada ibu hamil, bayi dan balita, namun masalah gizi salah pada anak usia sekolah tidak kalah pentingnya. Oleh karena itu, kita semua mesti secara bersama dan saling membahu untuk menanggulanginya. Pada diskusi yang diselenggarakan oleh Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional 2011, telah merekomendasikan kepada pihak terkait: 1). Pemerintah menjamin ketersediaan pangan yang memadai di tingkat rumah tangga; 2). Tercipta pola asuh yang baik pada tingkat rumah tangga dan sekolah. Ibu sebagai tokoh utama dalam keluarga dan guru sebagai pemeran utama di sekolah diharapkan memiliki pengetahuan yang memadai berkaitan gizi seimbang. Ketersediaan pangan yang melimpah di tingkat rumah tangga dan jajanan yang beraneka ragam di sekolah tanpa disertai pengetahuan dan pola asuh yang baik maka gizi salah pada anak usia sekolah sulit dicegah dan diatasi; 3). Terselenggara program advokasi, sosialisasi dan kemitraan yang baik antara pemerintah, LSM, swasta dan pelaku industri mengenai gizi seimbang pada anak usia sekolah kemudian secara bersama-sama berupaya untuk menangulanginya;  4). Pemerintah agar memasukkan pendidikan gizi ke dalam kurikulum di tingkat sekolah dasar sehingga sekolah sebagai tempat anak menuntut ilmu memiliki peran positif dalam membangun pengetahuan dan kesadaran anak akan nutrisi sehat seimbang; 5). Pihak sekolah memfasiltasi dan mendampingi muridnya agar membentuk kelompok teman sebaya di sekolah maupun di luar sehingga dapat saling bertukar informasi dan perilaku positif dalam membudayakan pola hidup sehat dengan nutrisi sehat seimbang; 6). Menyediakan jajanan sehat dan aman di sekolah; 7). Pemerintah menyediakan akses seluas-luasnya kepada pelayanan dan konsultasi kesehatan yang berkualitas.

Kata Akhir

Generasi Emas Bangsa, lahir melalui sebuah proses yang berawal dari lingkungan keluarga dan sekolah. Ia bukan generasi yang muncul secara tiba-tiba. Keluarga dan sekolah-lah yang merupakan tempat bersemai utama generasi emas ini. Generasi Emas Bangsa, harus dirawat dengan gizi sehat seimbang disertai pola asuh yang baik agar tumbuh dan berkembang menjadi sehat produktif untuk melahirkan generasi-generasi emas baru di masa depan.

Generasi Emas Bangsa adalah generasi yang sehat, bugar, cerdas, sholeh dan berprestasi.

Jakarta, 12 Maret 2011