Gizi dan Kesehatan Sangat Vital Bagi Kelangsungan Bangsa*

dr. Zaenal Abidin, MH.

Oleh: Zaenal Abidin

Sebetulnya terlalu banyak bukti yang menunjukkan bahwa kesehatan yang baik akan meningkatkan produktivitas dan sebaliknya, kesehatan yang terganggu akan menurunkan produktivitas. Siapapun, pasti sulit membantah kenyataan ini.  Paling tidak akan memaknainya bahwa jika seseorang berada dalam keadaan sehat, maka pasti ia tidak perlu lagi mengeluarkan biaya perawatan seperti kalau dia sakit. Kemungkinan, hanya mengeluarkan dana untuk keperluan menjaga agar tetap sehat dan tentu tidak begitu banyak. Lebih dari itu, ia tidak kehilangan kesempatan untuk berkarya dan berproduksi karena tetap sehat.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa proses perkembangan dan pertumbuhan sel otak manusia hanya terjadi pada usia dibawah lima tahun. Setelah usia tersebut, tidak akan ada lagi pertambahan sel-sel otak. Oleh karena itu, dapat dibayangkan bagaimana krisis ekonomi yang telah berlangsung lama ini berpengaruh pada pertumbuhan otak anak-anak Indonesia. Harus diingat bahwa anak-anak yang hidup di era krisis sekarang inilah yang diharapkan bersaing pada perdagangan bebas tahun 2020. Dimana angkatan kerja ketika itu mau atau tidak mau akan dipaksa untuk bertarung dengan tenaga kerja pasar global.

Ketika krisis terjadi ada beberapa peristiwa penting yang secara rasional pasti terjadi disekitar anak-anak. Peristiwa itu antara lain: bertambahnya jumlah ibu yang anemia, bertambahnya bayi yang lahir dengan BBLR (berat badan lahir rendah), bertambahnya angka kematian ibu saat melahirkan, bertambahnya angka kematian bayi dan balita akibat penyakit infeksi dan kurang gizi, bertambahnya balita yang kekurangan gizi, dan penyakit-penyakit lain yang dapat mengganggu pertumbuhan bayi dan balita.

Sudah barang tentu gangguan-gangguan di seputar balita di atas sangat berpengaruh pada peningkatan IQ anak. Pada berbagai penelitian tampak bahwa gangguan gizi sedang dan berat pada seseorang balita, bisa mengurangi IQ 15 point. Oleh karena itu IQ anak yang menderita KEP (kurang energi protein) lebih rendah daripada anak-anak yang gizi baik. Retardasi mental jelas tampak pada anak yang menderita KEP pada usia 6 bulan, sehingga meskipun diperbaiki dengan pengobatan dan pemberian makanan sampai berat badannya kembali normal, tidak akan  menunjukkan hasil yang memuaskan. Berbeda misalnya jika KEP itu terjadi pada usia di atas 2 tahun, dengan perbaikan keadaan gizi, akan diikuti perbaikan IQ yang mendekati normal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dampak yang ditimbulkan oleh kekurangan gizi pada usia muda akan bersifat permanen. Alan Berg, dalam buku “The Nutrition Factor” menyebutkan bahwa gangguan kesehatan dan gizi pada usia dini adalah suatu irreversible loss of opportunity atau hilangnya kesempatan yang tidak dapat direbut lagi.

Begitu pula dengan defisiensi zat besi (anemia) dan vitamin B1 sangat mempengaruhi kemampuan fisik dan mental seseorang. Defisiensi tersebut akan menyebabkan turunnya kesegaran jasmani, kesiagaan mental, dan produktivitas. Dalam beberapa studi disebutkan bahwa zat besi dan B1 sangat berpengaruh pada kemampuan berpikir dan performance akademis anak sekolah.

Demikian halnya dengan masalah kekurangan yodium dan Vitamin A. Menurut laporan KTT untuk Anak 1990, gangguan akibat kekurangan zat yodium telah mengakibatkan jutaan anak menjadi kreatinin, puluhan juta menderita keterbelakangan mental, ratusan juta menderita gangguan mental dan fisik yang lebih ringan. Kekurangan yodium ini sebagian besar terjadi di daerah-daerah pegunungan atau yang sering dilanda banjir dimana zat yodium cenderung terkuras di dalam tanah.

Hal yang sama terjadi pula pada kekurangan Vitamin A. Lebih dari setengah juta ibu, pertama kali melihat bahwa ada sesuatu yang terjadi pada anaknya. Tanda pertama dan permasalahannya adalah ketidak mampuan anak untuk melihat secara jelas pada waktu fajar atau senja. Tidak lama kemudian, bercak berbuih berwarna putih mulai tampak pada mata anak. Awalnya bercak itu masih gampang dibersihkan, namun kemudian lebih sering timbul.  Selang beberapa bulan, anak itu tampak lemah, kadang menderita diare, campak, dan mengalami kesulitan memulihkan kesehatannya secara penuh. Beberapa hari kemudian, anak itu mulai menghindari cahaya sama sekali dan jarang keluar rumah serta kerap menutup matanya untuk jangka waktu lama. Dan akhirnya, kornea mata anak itu pudar, dan setelah kira-kira 3 atau 4 bulan, menghilang. Dalam jangka setahun, separuh dari setengah juta anak itu meninggal akibat penyakit umum karena terlalu lemah menangkalnya, Sementara mereka yang masih hidup sudah pasti kehilangan penglihatan.

Keseluruhan persoalan di atas menggambarkan betapa besarnya pengaruh kekurangan zat gizi terhadap kesehatan dan kelangsungan hidup anak-anak yang nota bene adalah generasi penerus. Gizi yang jelek dan kesehatan yang tak terjamin merupakan dua serangkai yang dapat menyebabkan kematian pada anak, atau kalaupun hidup pasti fisik dan mentalnya sangat lemah, cacat, dan bodoh. Akibatnya, mungkin kita akan berkata, ”apa yang bisa diperbuat oleh generasi semacam ini?”

Dengan demikian, jelaslah bahwa gizi dan kesehatan itu sangat vital dalam mewujudkan bangsa yang berkualitas. Mungkin inilah makna dari sebuah Hadits Nabi Muhammad, SAW, “Pergunakanlah lima perkara, sebelum datangnya lima perkara.”  Dan, salah satu dari lima perkara itu adalah “Pergunakan waktu sehatmu sebelum datangnya waktu sakit.” Kenapa waktu sehat?  Pertama, karena masa sehat itu sering dilupakan oleh manusia dan nanti diingat setelah ia jatuh sakit. Kedua, sehat itu sendiri adalah suatu modal utama dalam bekerja, berproduksi, serta berbuat sebanyak mungkin kebajikan untuk kemanusiaan, sebagai wujud pengabdian kepada Sang Pencipta. Wallahu alam bissawwab.

Jakarta, 12 November 2001

*) Tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional Tahun 2001