Issu Ham Di Balik Sebatang Rokok

dr. Zaenal Abidin, MH.

Oleh : Zaenal Abidin

Dalam dunia ekonomi terdapat sebuah pandangan bahwa konsumen biasanya memiliki penilaian yang terbaik bagaimana mengatur pengeluaran uangnya untuk pembelian barang dan jasa. Asumsi tersebut didasari oleh adanya hak-hak yang melekat pada diri seorang konsumen. Hak-hak tersebut, antara lain: pertama konsumen berhak membuat pilihan yang rasional dan berdasarkan informasi setelah mempertimbangkan biaya dan manfaat pembeliannya; kedua, bahwa konsumen memikul semua biaya yang dikeluarkan. Seandainya semua konsumen menggunakan hak-hak mereka dengan cara seperti ini serta mengetahui risiko dan beban biaya yang akan ditanggung, maka secara teoritis pasti sumber daya yang ada pada masyarakat sejauh mungkin akan teralokasikan secara efisien.

Berikut ini akan kita bedah, apakah pilihan-pilihan yang dilakukan oleh seorang perokok sama persis pada pilihan untuk konsumsi barang lain, dan seterusnya. Orang yang merokok jelas merasakan keuntungan seperti perasaan nikmat dan perasaan terbebas. Selanjutnya mereka mencoba membandingkan keuntungan-keuntungan ini dengan biaya yang dikeluarkan secara pribadi atas pilihan yang diambil. Dengan rumusan semacam ini, keuntungan akan dirasakan melebihi biaya yang diperkirakan, karena jika tidak, pasti perokok tidak akan mengeluarkan uang untuk merokok. Meski demikian, bisa saja pilihan untuk membeli rokok berbeda dengan pilihan untuk membeli barang konsumsi lain, bila ditilik dari tiga kaca mata berikut.

Pertama, ada bukti bahwa banyak perokok tidak mengetahui atau menyadari penyakit dan kematian dini akibat pilihan bebas mereka.

Kedua, merokok biasanya dimulai sejak remaja atau menjelang dewasa. Remaja mungkin kurang menyadari risiko kesehatan yang dihadapi akibat merokok . Sebagai akibatnya, mereka meremehkan biaya-biaya yang akan dihabiskan untuk merokok, yaitu biaya yang harus dipikul dimasa tua nanti (biaya perawatan kesehatan dan kehilangan kesempatan yang lain) akibat tidak mampu mengubah keputusan yang diambil diwaktu muda.

Ketiga, merokok memberi beban biaya pada orang yang tidak merokok. Dengan membebankan sebagian biaya kepada orang lain, perokok mungkin akan terdorong untuk merokok lebih banyak lagi dibanding jika harus memikul sendiri semua biaya itu. Mereka yang bukan perokok jelas harus mengeluarkan biaya ekstra akibat ketidaknyamanan, gangguan kesehatan, dan  iritasi yang disebabkan tersebarnya kepulan asap di lingkungan sekitarnya. Selain itu, perokok disinyalir membebankan biaya finansial secara tidak langsung kepada masyarakat bukan perokok. Paling tidak, bila biaya pelayanan kesehatan pada tingkat tertentu dibayar dengan pajak umum, maka mereka yang bukan perokok ikut kebagian dari biaya itu.

Selain menimbulkan masalah sosial ekonomi, perokok akan menerima berbagai konsekuensi kesehatan akibat dari kebiasaannya. Konsekuensi tersebut, seperti cepat ketagihan nikotin. Sifat kecanduan nikotin telah tersebar dengan baik melalui brosur, spanduk, maupun poster-poster, namun masih saja diremehkan oleh konsumen (perokok). Merokok dapat mengakibatkan penyakit serta kecacatan yang fatal, dan bila dibandingkan dengan perilaku berisiko lainnya, risiko kematian dini akibat merokok adalah luar biasa tingginya. Separuh dari perokok jangka panjang pada akhirnya akan meninggal karena tembakau, dan setengah diantara mereka terpaksa harus mengakhiri hidupnya  dalam usia masih produktif.

Penyakit yang berhubungan dengan  rokok ini, juga telah terdokumentasikan dengan baik, seperti kanker paru-paru dan organ lainnya, penyakit jantung ischemic dan penyakit yang berhubungan dengan peredaran darah, penyakit pernapasan seperti emfisema (emphysema) . Di daerah-daerah dimana TBC masih berkembang, risiko perokok untuk terpapar kuman TBC, jauh lebih besar dibanding mereka yang tidak merokok. Bahkan dalam banyak diskusi, rokok pun disebut dapat menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh, sehingga akan mudah terjangkit suatu penyakit.

Rokok, juga mempengaruhi kesehatan orang yang tidak melakukan atau mengisap. Sebagai contoh, bayi-bayi dari ibu yang perokok, lahir dengan berat badan rendah Selain itu ia pun  menghadapi risiko tinggi terjangkit penyakit pernapasan dan menghadapi risiko “sindrom bayi meninggal secara mendadak” (sudden death syndrome) yang lebih tinggi dibanding bayi-bayi yang lahir dari ibu yang bukan perokok. Begitu pula orang dewasa bukan perokok, menghadapi risiko kecil, tapi risiko untuk mendapat penyakit dan kecacatan yang fatal terus meningkat karena berhadapan dengan orang lain yang merokok.

Keseluruhan kisah tentang rokok dan perokok di atas, jika ditarik lebih jauh, maka kita akan bertemu dengan issu kemanusiaan yang mendasar, yakni “sehat sebagai hak azasi manusia dan sehat sebagai investasi.  Di sini, seorang perokok betul-betul harus memperhitungkan tentang hak-haknya. Bahwa dengan merokok mereka melaksanakan hak kebebasannya, itu juga tidak salah. Tapi bukankah sebagai manusia, ia memiliki hak yang lebih luhur, yaitu hak asasi untuk hidup sehat dan terhindar dari semua akibat buruk dari rokok? Baru menyentuh persoalan hak individu si perokok sudah rumit, bagaimana lagi kalau sudah menyinggung hak dan HAM orang lain yang terganggu atau menderita penyakit akibat kepulan asap si perokok (perokok fasif)? Wallahu‘allam bisawwab.

 Jakarta, 11 Juni 2010