Puasa Ditengah Pandemi Covid-19: Amankah Untuk Tenaga Medis ?

Poster Diskusi, Puasa: Sehat & Menyehatkan

SadarGizi.com – Jelang Puasa Ramadhan yang akan dilaksanakan umat islam beberapa hari kedepan, Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (KoaLizi), Departemen Kesehatan Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), menggelar diskusi Rabu (22/04).

Diskusi online dengan tema ; “Puasa: Sehat dan Menyehatkan”menghadirkan Akademisi dan Praktisi Gizi, dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK dan Pimpinan Pesantren Syawarifiyyah Rorotan Jakarta Utara, Ustad Abul Hayyi Nur, S.Pd.I, S.Sos.

Ditengah pandemic Covid-19 banyak kekhawatiran muncul dari masyarakat. Hal ini dikarenakan pandemic covid-19 yang selalu dikaitkan dengan daya tahan tubuh dan gizi. Apakah kita aman dari infeksi jika kita berpuasa ? Apakah beresiko terhadap tenaga medis yang mudah terinfeksi ?

Pimpinan Pesantren Syawarifiyyah Rorotan Jakarta Utara, Ustad Abul Hayyi Nur, S.Pd.I, S.Sos, menjelaskan bahwa merujuk kepada Lembaga Fatwa Mesir Darul Ifta menekankan tiga hal terkait puasa Ramdahan saat pandemi covid-19 :

  1. Apabila seorang muslim sehat tidak terinfeksi virus dan memiliki kondisi yang lengkap dan sempurna untuk berpuasa, makai ia tetap wajib puasa
  2. Bagi yang terinfeksi, maka tergantung saran dokter.
  3. Para dokter dan perawat yang terpapar covid 19 boleh tidak berpuasa sebab justru akan berbahaya bagi mereka.

Berlandaskan dengan ayat al quran Surah Al Baqoroh

أَيَّامٗا مَّعۡدُودَٰتٖۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدّة من أيَّامٍ أخر وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدۡيَةٌ طَعَامُ مِسۡكِينٖۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيۡرٗا فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥۚ وَأَن تَصُومُواْ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

Artinya: “(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui,” (QS.Al-Baqarah:184)

Akademisi dan Praktisi Gizi, dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK menjelaskan bahwa puasa memberikan efek medis yang baik bagi kesehatan, karena memberikan kesempatan kepada tubuh untuk menjalani metabolisme switch, mengubah penggunaan sumber energi dan memakai simpanan energi yg selama ini disimpan dalam bentuk lemak.  Penggunaan sumber energi yg berbeda ini menjadi salah satu bentuk detoksifikasi yg memberi dampak metabolisme yang berbeda bagi tubuh.

“Di tengah pandemi seperti ini, ada baiknya tidak mengonsumsi makanan yang men-trigger atau memicu terjadinya inflamasi. Itu sebabnya, disarankan menjauhi makanan bergula tinggi, lemak jenuh dan trans yang tinggi seperti teh manis dan minuman manis lainnya serta aneka gorengan yang seringkali menjadi tipikal menu berbuka di Indonesia.

Dr. Tirta yang juga merupakan Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi menyarankan untuk lebih baik mengkonsumsi kurma dan buah-buahan yang banyak mengandung air untuk mensuplai vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.

“Seperti halnya ketika dalam kondisi normal, saat puasa konsumsi makanan dengan gizi seimbang sangat diperlukan untuk menjaga imun / daya tahan tubuh terlebih dalam situasi pandemi seperti sekarang ini.”

Indikator seimbangnya makanan yang dimakan dapat dilihat dari variasi jenis dan warna yang terhidang dalam piring makan.

“Pastikan selalu menghadirkan protein (hewani dan nabati), sumber karbohidrat (makanan pokok, diutamakan yang mengandung serat tinggi seperti nasi merah, umbi, jagung atau nasi putih yang ditambahkan dengan aneka biji-bijian) serta sumber lemak baik yg bisa diperoleh dari alpukat dan minyak tak jenuh ganda lainnya,” ungkap dr. Tirta. (Sy)