Etika Lingkungan

dr. Zaenal Abidin, MH. – Ketua Umum PB. Ikatan Dokter Indonesia 2012-2015 dan Salah satu Pendiri Yayasan Gema Sadar Gizi 2010

Oleh: Zaenal Abidin

Di dalam Code of Hammurabi, terdapat salah satu klausul yang menyebutkan bahwa “sanksi pidana dikenakan kepada seseorang apabila ia membangun rumah dengan gegabahnya sehingga runtuh dan menyebabkan lingkungan sekitar terganggu.” Ini menunjukkan bahwa pada abad-abad lampau, sebelum masehi, telah ada pengaturan yang berorientasi lingkungan. Peraturan ini berorientasi untuk mencegah terjadinya gangguan keseimbangan lingkungan.

Ajaran Islam yang datang setelahnya, juga mengandung prinsip-prinsip etika lingkungan yang merupakan wujud nyata kekuatan moral untuk pelestarian daya dukung lingkungan hidup. Hal ini dapat ditemukan dalam ayat suci al-Qur’an, antara lain:

  1. “Dan janganlah kamu merusak di muka bumi setelah Tuhan membangun-Nya…” ( QS. al A’raaf; 56).
  2. “ …Dan janganlah kurangi hak-hak manusia, dan janganlah pula marusak di muka bumi, sesudah Tuhan membangun-Nya..” (QS. al-A’raaf: 85).
  3. “Dan berbuat kebajikanlah kepada sesama makhluk hidup, sebagaimana Allah telah berbuat kebajikan kepadamu. Lagi pula, janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, karena Allah tidak menyenangi orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. al-Qashash: 77).
  4. “Telah timbul kerusakan-kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia sendiri..” (QS. ar-Rum: 41)

Selanjutnya, pada tahun 1943 muncul Piagam Hak Asasi Manusia (HAM) yang berisikan “politik etis,” kemudian ditindaklanjuti oleh Pertemuan Bretten Wood tahun 1944, yang dihadiri oleh 44 negara. Pertemuan ini telah menghasilkan substansi yang intinya, yaitu pertolongan pada negara dunia ketiga.

Sebagai implementasi dari pertemuan Bretten Wood tersebut, tahun 1960 lahirlah International Monetery Fund (IMF) dan World Bank (WB). Celakanya, kemunculan kedua lembaga internasional ini justru menghadirkan utang yang demikian besar bagi negara dunia ketiga.

Atas dasar utang tersebut, membuat negara-negara dunia ketiga bergerak untuk membayarnya dengan cara mengeksploitasi sumber daya alamnya secara besar-besaran tanpa memperhatikan dampak kerusakan terhadap lingkungan.

Krisis lingkungan global yang terjadi dewasa ini tak lepas dari kesalahan fundamental-filosofis dalam pemahaman atau cara pandang manusia mengenai dirinya, alam, tempat manusia dalam keseluruhan ekosistem. Kesalahan ini pada gilirannya melahirkan kesalahan cara pandang manusia terhadap alam. Manusia keliru menempatkan diri dalam konteks alam semesta secara keseluruhan.

Kesalahan fundamental-filosofis di atas, kemudian yang melahirkan adegium di negara-negara dunia ketiga bahwa, “biarlah kami dicemari asal kami maju.” Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan.

Sebetulnya, masalah lingkungan dialami oleh semua negara, bukan hanya miliki negara berkembang. Perbedaannya, negara maju mengalami masalah lingkungan karena terlalu maju (over development). Sementara negara berkembang bagi negara berkembang menghadapi  dua tantangan sekaligus, yakni pencemaran, pengurasan, perusakan lingkungan yang semakin meningkat dengan kemajuan bidang industri, juga menghadapi masalah kemiskinan yang menjadi faktor penghalang terbesar dalam penanggulangan masalah lingkungan.

Mantan Perdana Menteri India, Rajiv Ghandi pernah mengatakan, “Dengan alasan menanam lebih banyak bahan makanan dan memperoleh kenikmatan lebih banyak, kita telah menggunduli hutan, mencemari sungai dan laut, memanasi bumi dengan akumulasi karbon dioksida, bahkan membocori lapisan ozon yang melindungi bumi dari radiasi yang merusak. Dampak degradasi ekologis pada negara-negara berkembang lebih mendasar daripada negara maju.”

Cara pandang yang keliru sebagaimana yang dikemukakan di atas ditengarai bersumber dari etika antroposentrisme, yang memandang manusia sebagai pusat dari alam semesta, dan hanya manusia yang mempunyai nilai, sementara alam dan segala isinya sekedar alat bagi pemuasan kepentingan dan kebutuhan hidup manusia. Manusia dianggap berada di luar, di atas, dan terpisah dari alam. Bahwa manusia dipahami sebagai penguasa atas alam yang boleh melakukan apa saja.   Padahal bila kita kembali ke definisi lingkungan hidup sebagai suatu kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya.

Jadi, sebetulnya manusia itu hanyalah salah satu unsur dalam lingkungan hidup, tetapi perilakunya akan mempenaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Makhluk hidup lain termasuk binatang, bahkan binatang buas sekali pun tidaklah merusak, mencemari, atau menguras lingkungan. Cara pandang dan perilaku manusia yang salahlah yang menyebabkan pencemaran dan perusakan lingkungan.

Cara pandang antroposentrisme melahirkan sikap dan perilaku eksploitatif tanpa kepedulian sama sekali terhadap alam dan segala isinya yang dianggap tidak mempunyai nilai pada dirinya sendiri. Ada tiga kesalahan cara pandang etika antroposentrisme Barat yang bersumber dari Aristoteles hingga filsuf modern:

Pertama,  manusia dipahami hanya sebagai makhluk sosial (social animal), yang eksistensi dan identitas dirinya ditentukan oleh komunitas sosialnya.

Kedua, etika dipandang hanya berlaku bagi komunitas sosial manusia Jadi, yang disebut norma dan nilai moral hanya dibatasi keberlakuannya bagi manusia. Etika tidak berlaku bagi makhluk di luar manusia.

Ketiga, cara pandang ini diperkuat lagi oleh paradigma ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang Cartesian dengan ciri utama mekanisme-reduksionistik, yang membela paham bebas nilai dalam ilmu pengetahuan. Menganut pemisahan tegas antara alam sebagai obyek ilmu pengetahuan dan manusia sebagai subyek. Ilmu pengetahuan bersifat otomon, dikembangkan dan diarahkan semata demi ilmu pengetahuan itu sendiri. Penilaian mengenai baik dan buruk ilmu pengetahuan dan teknologi serta segala dampaknya dari segi moral dan agama, adalah penilaian yang tidak relevan. Karena itu sikap dan prilaku manipulatif dan eksploitatif terhadap alam dan lingkungan adalah sah. Dan inilah yang akhirnya melahirkan krisis ekologi dewasa ini.

Sebenarnya pada tahun 1962 terjadi peringatan yang menggemparkan dunia ketiga, yakni peringatan “Rachel Carson tentang bahaya penggunaan insektisida. Peringatan inilah yang merupakan pemikiran pertama kali yang menyadarkan manusia mengenai lingkungan. Namun, adegium “biarlah kami dicemari asal kami maju,” lebih kuat menggoda negara-negara dunia ketiga.

Kini perkembangan baru etika lingkungan menuntut perluasan cara pandang dan prilaku moral manusia dengan memasukkan lingkungan atau alam semesta sebagai bagian dari komunitas moral. Hal ini tentu berbeda dengan pendekatan antroposentrisme. “Kesalahan terbesar semua pandangan etika selama ini karena etika-etika tersebut hanya berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan manusia.’

Dengan demikian, etika lingkungan hidup lebih dipahami sebagai sebuah kritik atas etika yang selama ini dianut oleh manusia yang dibatasi pada komunitas sosial manusia. Etika lingkungan hidup menuntut  agar etika dan moralitas tersebut diberlakukan juga bagi komunitas biotis atau komunitas ekologis. Etika lingkungan juga dipahami sebagai refleksi kritis atas norma-norma dan prinsip atau nilai moral yang selama ini dikenal dalam komunitas manusia untuk diterapkan secara lebih luas dalam komunitas biotis atau komunitas ekologis.

Hal di atas juga berarti bahwa etika lingkungan hidup tidak hanya berbicara mengenai prilaku manusia terhadap alam, tapi juga berbicara mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta. Antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau alam secara keseluruhan. Termasuk di dalamnya berbagai kebijakan politik dan ekonomi yang mempunyai dampak langsung atau tidak langsung terhadap alam.

Menurut “paradigma keberlanjutan ekologi,” untuk melepaskan ketergantungan Indonesia pada kekuatan asing dan sekaligus menyelamatkan lingkungan hidup di Indonesia, pemerintah harus berani memutuskan ketergantungannya dengan membangun kekuatan ekonomi rakyat. Pemerintah harus berani mengembangkan kekuatan ekonomi rakyat berupa modal yang digali dari kemampuan teknologi , termasuk mengembangkan kemampuan teknis budidaya dan keterampilan yang dimiliki masyarakat; pasar domestik untuk menyerap produk rakyat; manajemen dan informasi untuk mendukung kekuatan ekonomi rakyat.

Perkembangan kekuatan ekonomi rakyat tersebut dilakukan secara ramah lingkungan. Ekonomi rakyat dikembangkan dalam skala yang ramah lingkungan, tetapi efisien dan efektif untuk memenuhi permintaan pasar domestik dan pasar global.

Pola-pola budidaya dan pengembangan kegiatan produktif rakyat yang ramah lingkungan perlu diberi prioritas dan mendapat dukungan politik yang kuat dari pemerintah. Selama pemerintah tidak serius membangun dan memperkuat ekonomi rakyat, kita tetap akan bergantung pada dan menjadi mainan kekuatan-kekuatan asing. Selama itu pula masalah kemiskinan dan lingkungan hidup tidak akan benar-benar diatasi dan diselamatkan.

Beberapa waktu yang lampau terdengar arus keras dan suara yang nyaring, agar kita kembali ke alam. Seruan agar kembali melihat alam sebagai sebuah komunitas etis. Kembali belajar dari prilaku masyarakat adat, setelah sekian lama paradigma ilmu pengetahuan modern yang Castesian telah menjauhkan manusia dari alam. Menyebabkan manusia bersikap ekspotatif dan tidak peduli terhadap alam.

Masyarakat adat sejak awal sudah mempraktekkan cara pandang biosentrisme dan ekosentrisme. Mereka memandang bahwa manusia sebagai bagian integral dari alam. Sehingga dengan demikian manusia harus berperilaku penuh tanggung jawab, penuh sikap hormat, dan peduli terhadap kelangsungan semua kehidupan di alam semesta.

(Penulis adalah Ketua Umum PB. Ikatan Dokter Indonesia, periode 2012-2015 dan Salah satu Pendiri Yayasan Gema Sadar Gizi ,Tahun 2010)

 Griya Madani I, 20 Februari 2020