Cinta Bangsa Lindungi Anak

dr. Zaenal Abidin, MH.

Oleh: Zaenal Abidin

Beberapa hari terakhir, hampir semua media memberitakan mengenai peringatan Hari Anak 23 Juli tahun ini. Walaupun peringatan tersebut terbilang agenda rutin tahunan, namun pada saat ini tergolong spesifik karena di DPR-RI sedang dibahas mengenai RUU Perlindungan Anak.

Sedianya UU tersebut akan ditandatangani oleh Presiden RI bertepatan dengan tanggal 23 Juli 2002, tetapi karena terjadinya perdebatan pada pasal tertentu menyebabkan DPR-RI belum memutuskannya. Namun demikian, kita masih tetap optimis sebab DRR-RI menjanjikan untuk mengesahkan RUU Perlindungan Anak menjadi UU bertepatan pada Hari Anak Nasional sebagai hadiah bagi anak-anak Indonesia.

Di layar TV oleh Dr. Seto Mulyadi (Kak Seto) mengungkapkan bahwa sekitar 1,5 juta anak Indonesia hidup terlantar, tinggal di jalanan. Juga diperkirakan, ada 40-70% anak-anak di setiap provinsi belum memiliki Akte Kelahiran. Ini juga berarti bahwa hak atas identitas diri mereka belum terpenuhi.

Belum lagi dengan anak-anak yang kurang gizi yang jumlah tidak berkurang.  Di Media Indonesia (17/7/2002) disebutkan,  ribuan anak-anak di perkotaan maupun daerah terpencil di Sulawesi tenggara kini terancam kekurangan gizi akibat kemiskinan atau ketidakpahaman orang tua mereka terhadap pentingnya pemberian gizi yang seimbang. Itu untuk wilayah Sulawesi Tenggara, tentu di provinsi lain kondisinya tidak jauh berbeda.

Di negara seperti Indonesia, ada hal yang sedikit unik mengenai anak-anak ini. Betapa tidak, dalam usia yang terbilang muda, kurang gizi, pengetahuan dan keterampilan yang tidak memadai, tetapi ternyata masih harus bekerja mencari nafkah, berkompetisi bebas dengan orang dewasa untuk mencukupi kebutuhan keluarganya yang memang miskin. Hasilnya, pasti kalah total. Idealnya anak seusia itu bermain dan sekolah, namun apa boleh buat kenyataan berkata lain. Sungguh tragis nasib anak negeri ini.

Masalah anak-anak, memang masalah besar. Itulah sebabnya sehingga pada KTT Anak tahun 1990, masyarakat internasional menyepakati serangkaian sasaran yang khusus dan dapat diukur bagi perlindungan jiwa, kesehatan dan pertumbuhan serta pengembangan normal anak-anak. Sasaran tersebut mencakup pengurangan dengan separuh kekurangan gizi pada anak, penanggulangan penyakit masa kanak-kanak, pemberantasan polio dan dracunculiasis, penghapusan kekurangan makro-nutrien, pengurangan dengan separuh kematian ibu bersalin, pencapaian pendidikan dasar untuk paling kurang 80% dari seluruh anak, penyediaan air bersih dan sarana sanitasi yang aman untuk seluruh masyarakat, dan ratifikasi Hak-Hak Anak oleh semua negara.

Melihat semakin rumitnya masalah anak-anak ini, maka hampir tidak ada jalan lain kecuali kita mengimplementasikan hasil-hasil KTT Anak di atas. Dan yang tak kalah pentingnya adalah adanya keinginan semua pihak terutama orang dewasa untuk mau bekerjasama dengan anak-anak dalam penyelesaiannya. Bukannya orang dewasa yang sibuk sendiri menyusun program untuk anak-anak, sementara hal tersebut tidak dikehendaki atau dibutuhkan oleh anak-anak. Tentu upaya komprehensif semacam itu membutuhkan biaya yang cukup besar, tetapi saya pikir kita tidak perlu berhitung panjang soal itu, kalau ternyata masa depan bangsa yang jadi taruhannya. Bukankah mempersiapkan sebuah generasi memang tidak terbilang nilainya.

Bangsa yang besar dan memiliki masa depan yang cemerlang  adalah bangsa yang mencintai anak-anaknya. Hal ini berarti bahwa kelangsungan suatu bangsa termasuk Indonesia, sangat ditentukan apakah anak-anak dapat hidup sehat, tumbuh, dan berkembang dengan sebaik-baiknya. Wallahu ‘alam bissawwab.

Jakarta, 29 Februari 2012