Membagi Kasih Sayang Pada Anak

dr. Zaenal Abidin, MH.

Oleh: Zaenal Abdin

Dalam rangka memperingati Hari Anak-Anak Nasional maka  penulis tertarik untuk mendiskusikan masalah berkaitan dengan anak.. Dewasa ini tidak jarang kita temui adanya prilaku yang aneh dari anak-anak, akibat kekurangan atau kesalahan dalam pembagian perhatian orang tua terhadapnya.

Sudah menjadi hal yang normal, bila dalam suatu rumah tangga kedatangan anggota keluarga baru. Hanya saja keadaan itu bisa menimbulkan masalah tersendiri, sebab akan  memaksa orang tua dan anggota keluarga lain untuk menata ulang sistem dalam rumah tersebut.  Dalam hal ini, mereka  dituntut untuk menata ulang kemudian merelakan kasih sayangnya terbagi kepada si pendatang baru tadi.

Kegagalan dalam pekerjaan ini, biasanya menimbulkan situasi yang kurang menguntungkan bagi perkembangan anak-anak yang terlahir lebih duluan. Bagaimana tidak, sebab ia yang selama ini menerima kasih sayang dan perhatian penuh dari orang tuanya, tiba-tiba merasakan adanya peralihan perhatian kepada pendatang baru yang bernama “adik”.

Tampaknya perubahan status in tidak mungkin disembunyikan oleh ibu, sekalipun tidak begitu sulit untuk mempersiapkan dengan haik. Begitu pula, tidak sulit bagi ibu untuk melihat bahwa terjadinya perubahan tersebut membawa dampak bagi anaknya, termasuk dalam susunan anggota keluarga yang baru.

Ibu yang meremehkan anak pertamanya demi menyenangkan anak kedua (baru lahir) atau menolak campur tangan anak pertama, maka secara emosional telah menolak anak pertama dan memperlihatkan ketidak acuan  serta permusuhan kepadanya. Hampir mustahil bagi orang dewasa untuk mengira bagaimana intensitas perasaan yang dialami anak pertama terhadap anggota keluarganya yang baru.

Anak pertama sangat menikmati adanya hubungan intim bersama ibunya, sehingga biasanya ia tidak ingin berbagi kepada orang lain. Bahkan terhadap ayahnya sekalipun dianggap ‘rivalnya’. Sebagai contoh, bila Sang ayah pergi bekerja maka si anak berusaha sedemikian rupa untuk memiliki ibunya (sepenuhnya). Namun demikian, tingkat rivalitas semacam ini tetap berada pada tataran yang berbeda.

Lain halnya terhadap adik barunya. Adik yang baru lahir, dianggap sebagai rivalitas jenis lain karena ia senantiasa ada di sekitarnya (di rumah), siang maupun malam. Tingkat kompetisinya pun sama, yaitu pada level anak kecil. Oleh karena itu biasanya anak yang lebih tua akan melakukan taktik ‘agresif’ atau ‘regresif’ untuk mengembalikan keberadaan miliknya yang seolah-olah hilang atau meninggalkannya. Anak pertama berusaha melakukan tindakan balas dendam terhadap kasih sayang ibunya yang dirasakan sudah mulai berkurang. Apabila upaya itu tidak berhasil atau gagal dan anak itu terlanjur menutup diri, maka ia akan terlantar, hidup dalam ‘fantasinya’, serta bermain sendiri .

Fenomena tersebut biasanya mengejutkan bagi orang tua. Sebab tak disangka anak yang lebih kuat dan lebih tua tersebut, memilih melakukan agresi sederhana untuk memenangkan kompetisi dengan adiknya.

Anggota keluarga, sebetulnya sejak awal merupakan saingan paling potensial bagi anak untuk sebuah cinta dan perhatian. Oleh karena itu terlalu berlebihan jika mengharapkan seorang anak kecil mau mengerti dan memahami situasi baru serta keberadaan seorang bayi. Anak kecil tidak mungkin bisa mengerti dunia yang lebih kompleks, tempat ia hidup. Makanya, jangan heran jika yang dilakukannya adalah melakukan penyekapan, mengikat, meninju, mendorong adiknya sampai jatuh, dan seterusnya.

Lahirnya anggota keluarga baru mengakibatkan anak yang lebih besar memperlihatkan tingkah laku regresif dalam pembawaannya atau kadang dibarengi tingkah laku agresif. Anak akan kehilangan beberapa sifat kedewasaan yang telah diperolehnya dan kembali bersikap seperti anak-anak yang lebih kecil dari usianya. Tingkah laku agresif ini sering muncul secara tiba-tiba pada anak yang tua dengan gangguan emosi umum dalam menghadapi situasi baru dan  berbeda dengan yang dilakukan sebelumnya, ketika dalam keadaan sendiri atau mengalami konflik.

Regresi, kadang-kadang ditunjukkan langsung berupa kompetisi terbuka terhadap adik barunya. Ia sering berbicara seperti bayi, sering ngompol, berbaring di lantai, merangkak seperti bayi atau bahkan kembali ingin minum pakai botol susu. Kegemaran-kegemaran temporer dari agresi tersebut tidaklah berbahaya dan akan berlangsung terus sampai si anak mengerti bahwa perhatian ibunya yang beralih itu tidak akan berlangsung selamanya. dan ibu tetap memahami serta menyayanginya.

Taktik agresif dan regresif akan hilang pada saat  anak mulai mengerti bahwa dirinya tetap dicintai, diinginkan, berarti, dan dilindungi. Yang tidak hilang sama sekali adalah  kompetisi antar anggota keluarga. Kompetisi akan mengalami sosialisasi bersama tingkah laku yang lain. Keadaan ini dapat saja memberi nilai positif, membangun nilai sosial, dan efek maturasi dalam perkembangan anak.

Demikian halnya perhatian orang tua yang terbagi, dengan sendirinya akan berguna memberi kepada setiap anak perasaan bahwa dia harus saling berbagi waktu dengan orang lain. Sehingga saudara kandung tidak hanya dipahami sebagai rival semata, tapi juga sebagai sahabat. Sahabat dikala dalam kesendirian maupun sahabat jika menghadapi gangguan anak-anak lain yang berniat tidak baik kepadanya. Wallahu ‘allam bisawwab.

Jakarta, 21 Juli 2010