Gizi Dan Otak Anak Untuk Bangsa

dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK – Ketua Yayasan Gerakan  Masyarakat Sadar Gizi

Oleh : Tirta Prawita Sari

Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir (2007-2010), program pembinaan gizi masyarakat telah berhasil menurunkan angka prevalensi gizi kurang, yakni dari 18,4 persen di 2007  menjadi 17,9 persen di 2010, yang berarti masih tersisa 3,7 juta balita yang kurang gizi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 juga mencatat 35,7% anak Indonesia tergolong pendek akibat masalah gizi kronis, estimasi ada 7,3 juta anak Indonesia yang jadi pendek.

Meskipun terjadi penurunan angka gizi buruk pada anak balita menjadi 17,9%, namun angka tersebut belumlah istimewa karena perbaikan prevalensi gizi hanya meningkat 0,5 persen, yang berarti pula masih ada 3,7 juta balita kurang gizi yang berisiko menjadi masalah bangsa di masa mendatang. Belum lagi bila kita memperhatikan pendapat Prof. A. Razak Thaha yang menyatakan “anggaran Kemenkes tiap tahun meningkat, mulai dari Rp.2 triliun menjadi Rp.20 triliun sekarang ini. Bahkan anggaran perbaikan gizi bukan hanya berasal dari Kemenkes, tapi juga ada Pertanian, Perdagangan, Kemenkokesra dan hampir di tiap Kementerian.” (Jurnas.com, 30/3/2011). Hal ini berarti bahwa pemerintah Indonesia masih memiliki “PR” serius yang harus diselesaikan jika ingin melihat bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan bermartabat.

Dari 3,7 juta balita yang kurang gizi di atas, bila tidak segera dipulihkan maka dapat diperkirakan akan mengalami sakit-sakitan, lesu, dan sering bolos, jika ia bersekolah kelak. Efek kurang gizi dalam jangka pendek mengakibatkan apatis, gangguan bicara, dan gangguan perkembangan lain. Sementara efek jangka panjang akan terjadi penurunan tes IQ, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan perhatian, dan penurunan rasa percaya diri. Konsumsi makanan kurang zat gizi dalam waktu lama mengakibatkan perubahan metabolisme dalam otak dan tidak berfungsi secara normal. Pada kondisi lebih berat dan kronis menunjukkan ukuran otak lebih kecil, jumlah sel otak yang berkurang, dan terjadi ketidak matangan serta ketidak sempurnaan organisasi biokimia dalam otak. Dalam kondisi anak semacam itu, stimulus apa pun yang diberikan kepadanya, otaknya tak akan mampu menangkap dan menyimpannya.

Asupan gizi pada anak memegang peran sangat penting terutama saat usia 0-2 tahun, yang dikenal dengan sebutan “golden period”. Pada usia inilah sel-sel otak berkembang pesat, dan 80% sudah saling berhubungan (interkoneksi). Inilah yang akan menentukan kecerdasannya. Jika pada masa ini asupan gizinya mengalami gangguan, seperti gizi buruk, perkembangan otak akan ikut terganggu. Keadaan gizi kurang yang dialami ketika masih dalam kandungan maupun pada saat usia 0-2 tahun  akan mengakibatkan otak kosong yang bersifat permanen dan tak terpulihkan. Akibatnya akan memiliki kemampuan yang rendah dan menjadi beban bangsa.

Mengutip pernyataan Dr. Muhammad  Akbar, Sp.S, PhD  (Ahli Penyakit Saraf/Ketua III PP PERDOSSI) dalam suatu diskusi di Jakarta (16/7/2011) lalu yang menyampaikan pengalamannya berdomisili di Jepang, saat menempuh pendidikan. Di Jepang menurutnya, “setiap wanita hamil diberi jatah dua botol susu segar perhari, yang diletakkan di depan pintu rumahnya. Itu adalah bukti kalau pemerintah Jepang sangat sayang kepada rakyatnya dan sadar betul bila pembentukan otak anak sangat bergantung pada gizi seimbang yang dikonsumsi dan stimulus yang diberikan oleh ibu yang mengandungnya. Dan juga amat sadar kalau kualitas suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas manusianya dan kualitas manusia ditentukan oleh kualitas otaknya. Karena tidak ada sedikit pun dari bagian tubuh manusia yang tidak dikontrol oleh otak”

Melihat pentingnya peran gizi dalam pembentukan otak serta amat setralnya kedudukan otak dalam menentukan kualitas hidup manusia yang akan membangun sebuah peradaban maka dalam rangka Hari Anak Nasional 2011, Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi menghimbau:

  1. Pemerintah yang merupakan mandatori Negara menjamin “keadilan pangan” (food justice), wajib menjamin ketersediaan dan akses untuk pemenuhan hak dasar anak dan ibu hamil dalam rangka memerangi gizi kurang serta memasukkannya dalam skema jaminan sosial yang bersifat universal coverage.
  2. Memasukkan pendidikan gizi ke dalam kurikulum sekolah sehingga anak Indonesia dapat terpapar sejak dini mengenai pola hidup sehat, cara memilih makanan/jajanan yang bergizi seimbang, membaca label informasi gizi pada kemasan makanan, dll.
  3. Sekolah memfasilitasi terbentuknya kelompok teman sebaya “anak sadar gizi”.
  4. Sekolah mengajarkan dan menganjurkan sarapan pagi dan atau membawa bekal sehat untuk perkembangan kecerdasan muridnya.
  5. Merevitalisasi kantin/warung sehat di sekolah dengan menu jajanan bergizi seimbang.
  6. Membudayakan gerakan “solidaritas gizi” dengan  membiasakan anak memberikan kepada kerabatnya yang membutuhkan sumber gizi.

Jakarta, 22 Juli 2011

Tulisan disampaikan dalam rangka Hari Anak Nasional 2011