Membangun Generasi Unggul

Poster Diskusi Membangun Generasi Unggul Memperingari Hari Pendidikan Nasional 2020

SadarGizi.com – Saat ini, fokus pembangunan sumber daya manusia (SDM) salah satunya adalah pendidikan karakter yang menjadi prioritas pada jenjang pendidikan dasar, serta penyiapan generasi yang cakap dan terampil.

Hal ini dikarenakan masih ditemukan tingginya angka kriminalitas dikalangan siswa dan remaja (tawuran, geng motor), budaya mencontek disekolah, sex bebas, alkoholik, narkoba, bullying, bahkan sikap tidak santun terhadap orang tua dan guru.

Menyambut hari pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei, Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (KoaLizi), Departemen Kesehatan Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) mengadakan Diskusi Online dengan tema ; “Membangun Generasi Unggul”.

Diskusi yang dilaksanakan pada Jumat (01/05) menghadirkan narasumber dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK (Akademisi / Ketua Gerakan Masyarakat Sadar Gizi), Dra. Nunki Nilasari, Sc.Psi (Psikolog), Ustad Abul Hayyi Nur, S.Pd.I, S.Sos (Pimpinan Pesantren Syawarifiyyah Rorotan) dan diskusi tersebut dimoderatori oleh dr. Mahesa Paranadipa, MH. (Praktisi Kesehatan)

Dr. Tirta yang menjelaskan topik; “gizi dan kecerdasan anak” dalam diskusi menyampaikan bahwa perkembangan kemampuan kognitif anak sangat dipengaruhi oleh asupan zat gizi yang diperoleh anak tersebut. Gizi memmiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kecerdasan anak.

Kecerdasan anak adalah sesuatu yang berjalan dinamis dan berkembang seiring berjalannya waktu. Ada masa keemasan dalam perkembangan kognitif anak untuk mencapai puncak tertinggi. Pemenuhan kebutuhan gizi pada masa golden period akan menentukan kecerdasan seorang anak dikemudian hari.

Perkembangan kemampuan kognitif anak tidak dimulai saat anak dilahirkan. Perkembangan kognitif dimulai jauh sebelum anak lahir, sejak masa kehamilan ibu bahkan sebelum orangtuanya menikah. Sehingga setiap hambatan dan tantangan yang dihadapi pada masa itu, akan memberikan implikasi yang luar biasa baik bagi kecerdasan anak. Jadi jauh sebelum anak lahir sudah harus disiapkan, dibangun atau dibentuk. Seorang perempuan sebelum mengandung harus menyiapkan dirinya seoptimal mungkin, memastikan dirinya memiliki asupan gizi yang adekuat sehingga ketika memasuki masa kehamilan ia memiliki status gizi dan kesehatan yang baik.

Pencapaian status gizi yang baik ini diupayakan tidak hanya saat sang ibu mengandung, namun dilakukan jauh sebelumnya. Pembentukan organ tubuh janin dalam kandungan kebanyakan dimulai sejak usia kandungan 8 minggu. Pada kebanyakan kehamilan, ibu biasanya baru mengetahui setelah janin berumur 4 minggu. Jika perbaikan gizi baru dilakukan saat kehamilan diketahui, maka berpotensi terlambat. Buruknya pemenuhan kebutuhan gizi pada kehamilan akan berimplikasi pada kesejahteraan janin dalam kandungan. Janin akan tumbuh dalam keterbatasan zat gizi dan tentunya akan mempengaruhi pertumbuhannya. Ketidakterpenuhan ini bisa dilihat dari pertambahan berat badan ibu saat hamil yang tidak adekuat dan bayi yang dilahirkan dengan berat lahir rendah.

Status gizi ibu utamanya status zat besi ibu harus dipersiapkan sejak dini. Pemberian suplementasi zat besi yang dilakukan sejak remaja sangat penting untuk menjamin cadangan zat besi saat ia hamil nantinya. Cadangan besi ibu ini akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan semasa kehamilan, saat persalinan dan saat menyusui. Cadangan besi ibu turut membentuk cadangan besi bayi. Cadangan besi bayi akan menjadi sumber pemenuhan kebutuhan zat besi bayi pada masa 6 bulan pertama. Jika cadangan ini tidak adekuat, maka ibu dan bayi akan berpotensi mengalami anemia defisiensi zat besi. Zat besi merupkan unsur penting yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan kecerdasan anak. Kemampuan kognitif anak akan sangat dipengaruhi oleh ada atau tidaknya anemia.

Periode terpenting perkembangan kemampuan kognitif anak adalah pada masa sebelum anak berusia 5 tahun. Pada masa ini puncak perkembangan terjadi, sehingga di masa ini segala bentuk intervensi yang dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan anak menjadi sangat efektif. Untuk berlajar, seorang anak tidak boleh kekurangan energi, tidak boleh anemia dan diharapkan memiliki status kesehatan yang optimal. Dukungan fisik dalam hal ini gizi bersama dengan stimulasi psikis menjadi bahan baku yang sangat penting. Dalam masa tersebut, terdapat masa perkembangan dengan plastisitas tertinggi, yaitu pada 1000 hari pertama kehidupan, yaitu pada 9 bulan kehamilan dan hingga dua tahun setelah ia dilahirkan. Tubuh anak memiliki kemampuan tertinggi dalam penyesuaian atas trigger apapun yang diberikan padanya, termasuk didalamnya asupan zat gizi. Masa ini adalah masa yang tepat untuk melakukan perbaikan apabila terjadi kekurangan asupan yang terjadi sebelumnya. Karena bila koreksi tak segera dilakukan pada masa ini, maka dampak pada kesehatan anak akan permanen. Sehingga masa 1000 hari pertama kehidupan ini dikenal pula dengan nama window of opportunity. Anak yang melewati masa ini dengan baik akan memiliki kualitas yang baik dimasa depan.

Untuk memperbaiki generasi harus memberikan faktor-faktor protektif supaya anak tumbuh bagus dan berkembang dengan baik. Faktor proteksi yaitu responsive care, skilled birth attendant, social and group support, birth registration, immunisations, support for early child development, school achievement, parity in education, safe learning environments ICT Literacy dan universal access to SRH.

Anak juga harus dihindarkan dari asupan gizi yang jelek, kondisi psikis yang kurang bagus, berat bayi lahir rendah, premature, malnutrisi pada saat anak, child labour, commercial exploitation, child marriage, dan adolesent birth.

Zat besi sangat dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin yang merupakan kendaraan untuk oksigen yang digunakan pada banyak metabolisme. Vitamin A erat kaitannya dengan sistem imunitas. Kelompok usia balita sangat rentan menderita anemia dan karenanya akan rentan mengalami gangguan pertumbuhan.

Kebutuhan gizi terbesar terjadi pada usia balita. Pada usia 0 – 1 tahun, bayi membutuhkan sekitar 110 – 120 kkal per kilogram berat badannya dan akan menurun seiring pertambahan usia. Kebutuhan protein pun sangat tinggi yaitu sekitar 2,5 gram perkilogram berat badan anak. Hal ini menjadikan balita merupakan kelompok umur yang rentan terhadap malnutrisi apabila upaya pemenuhan kebutuhan zat gizi tidak adekuat. Balita harus mendapatkan makanan dengan kualitas yang baik disertai dengan kuantitas yang adekuat sesuai dengan kebutuhannya.

Pada usia 0 – 2 tahun, masalah asupan gizi anak biasanya berupa kurangnya energi, protein, zat besi dan vitamin A. Makanan pendamping ASI untuk usia tersebut harus didesain untuk memenuhi kekurangan ini.  Ada kriteria penting makanan pendamping ASI yang baik, yaitu harus terdiri dari setidaknya 4 bahan dan 7 bahan yang harus ada dalam makanan pendamping ASI, yaitu: makanan pokok (nasi, ubi, tepung, jagung dll), daging-dagingan (ikan, ayam, sapi, hati), kacang-kacangan, telur, produk susu, buah dan sayur berwarna jingga tinggi vitamin A serta sayuran lainnya. Setiap anak sebaiknya mendapatkan setidaknya satu porsi protein hewani dalam bentuk daging (sapi, ayam, ikan, hati) setiap harinya. Jenis protein ini akan memenuhi kebutuhan zat besi anak perhari. Selain itu untuk menjamin asupan protein, jenis protein lainnya seperti telur, kacang-kacangan dan atau produk susu juga harus ada setidaknya setiap kali anak makan. Harus diingat, kemampuan anak untuk makan akan menjadi salah satu penyulit dalam pemenuhan protein dan zat gizi lainnya yang sangat tinggi di usia tersebut, sehingga diperlukan upaya yang luar biasa agar kebutuhan anak terpenuhi.

Selain zat besi dan protein, problem lainnya adalah vitamin A, sehingga diperlukan untuk selalu memasukkan makanan tinggi vitamin A pada setiap kali anak makan. Sumber vitamin A bisa diperoleh dari sayuran dan buah-buahan berwarna jingga dan merah. Vitamin A ini merupakan vitamin larut dalam lemak sehingga saat memberikan makanan sumber vitamin A akan sangat baik jika disertai dengan pemenuhan lemak.

Kebutuhan zat gizi anak bila ditinjau dari perkilogram berat badannya akan mengalami penurunan seiring dengan pertambahan usia dan akan meningkat lagi setelah anak memasuki masa pubertas. Masa ini kemudian menjadi masa kritis kedua setelah masa balita tadi, terutama pada remaja putri (rematri). Problem besar yang dihadapi oleh rematri adalah karena mereka menyiapkan organ reproduksinya. Kebutuhan zat besi menjadi sangat tinggi utamanya saat haid. Karenanya sangat penting untuk memberikan suplementasi zat besi ditambah dengan asam folat sekali seminggu sepanjang tahun. Hal ini untuk memastikan status zat besi rematri aman hingga menjadi dewasa dan saat hamil nanti. Suplementasi ini merupakan program pemerintah sehingga seharusnya tablet tambah darah ini tersedia di puskesmas.

Dra. Nunki Nilasari, Sc.,Psi yang juga ahli psikologi bawah sadar menyampaikan Topik: Tantangan dan Masalah Pembangunan Karakter”. Dalam penjelasannya Dra. Nunki menjelaskan bahwa bahaya karakter yang dapat merusak peradaban yakni meningkatnya kekerasan dikalangan remaja. Penggunaan bahasa dan kata-kata kotor, pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan. Meningkatnya perlaku yang merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas. Semakin kaburnya pedoman baik dan buruk. Menurunnya etos kerja. Semakin rendahnya rasa hormat kepada kedua orang tua dan pendidik, rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara. Rendahnya rasa tanggung jawa pada individu dan warga negara dan adanya rasa saling curiga dan benci antar sesama.

Masalah karakter yang muncul sekarang yaitu rendahnya human capital index dimana Indonesia menempati urutan ke 87 dari 157 negara. Tingginya angka korupsi dan peringkat kedua dalam mengakses situs pornografi.

Masalah dan tantangan pembangunan karakter yang dihadapi bangsa ini adalah adalah kurangnya teladan. Ketiadaan visi. Tidak adanya pewarisan nilai-nilai budaya yang baik. Kurang memberi penghargaan pada sikap dan kecenderungan memberi penghargaan pada materialisme. Kurang menumbuhkan apresiasi positif meskipun pada hal-hal kecil. Mengembangkan responsibility. Orang tua memberi penghargaan lebih ketika anak melakukan hal negatif.

Ustad Abul Hayyi Nur, S.Pd.I, S.Sos yang memaparkan tentang Islam dan Pembentukan Karakter Anak Didik menjelaskan bahwa untuk mendidik anak memiliki karakter yang baik kita harus mengikuti nasehat Lukman al Hakim. Dimana karakter anak didik harus tidak mempersekutukan allah artinya memiliki akidah yang baik. Berbuat baik kepada orangtua. Harus meyakini bahwa ada allah yang mengawasi segala perbuatannya, dan harus rajin mendirikan shalat serta memiliki kepribadian yang tidak sombong.

Kepada orang tua diharapkan untuk tidak meninggalkan akan-anak atau generasi kita yang lemah dan mengkhawatirkan, baik dari IQ, maupun kesejahterannnya.

*) Rangkuman Diskusi Online Memperingati Hari Pendidikan Nasional, Tema : Membangun Generasi Unggul, Jumat (01/05/2020)