Psikolog: Karakter Dapat Merusak Peradaban

Dra. Nunki Nilasari, Sc.,Psi (foto: facebook)

SadarGizi.com – Memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada taggal 2 Mei, Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (KoaLizi), Departemen Kesehatan Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) mengadakan Diskusi Online dengan tema ; “Membangun Generasi Unggul”.

Diskusi yang dilaksanakan pada Jumat (01/05) menghadirkan narasumber dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK (Akademisi / Ketua Gerakan Masyarakat Sadar Gizi), Dra. Nunki Nilasari, Sc.Psi (Psikolog), Ustad Abul Hayyi Nur, S.Pd.I, S.Sos (Pimpinan Pesantren Syawarifiyyah Rorotan) dan diskusi tersebut pandu oleh dr. Mahesa Paranadipa, MH. (Praktisi Kesehatan).

Dra. Nunki Nilasari, Sc.,Psi yang biasa disapa Bunda Nunki yang juga ahli psikologi bawah sadar menyampaikan bahwa masalah karakter yang muncul sekarang ini yaitu rendahnya human capital index dimana Indonesia menepati urutan ke 87 dari 157 negara. Tingginya angka korupsi dan peringkat kedua dalam mengakses situs pornografi.

Bunda Nunki, juga menjelaskan bahwa karakter yang buruk sangat berbahaya dan merusak peradaban.

“bahaya karakter yang dapat merusak peradaban yakni meningkatnya kekerasan dikalangan remaja. Penggunaan bahasa dan kata-kata kotor, pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan. Meningkatnya perlaku yang merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas. Semakin kaburnya pedoman baik dan buruk. Menurunnya etos kerja. Semakin rendahnya rasa hormat kepada kedua orang tua dan pendidik, rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara. Rendahnya rasa tanggung jawa pada individu dan warga negara dan adanya rasa saling curiga dan benci antar sesama”

Untuk itu, Bunda Nunki juga menjelaskan bahwa kondisi sekarang ini banyak masalah dan tantangan pembangunan karakter yang dihadapi bangsa yang menjadi PR bersama. Tidak hanya pemerintah tapi juga keluarga atau orang tua.

“masalah dan tantangan yang kita hadapi sekarang adalah adalah kurangnya teladan. Ketiadaan visi. Tidak adanya pewarisan nilai-nilai budaya yang baik. Kurang memberi penghargaan pada sikap dan kecenderungan memberi penghargaan pada materialisme. Kurang menumbuhkan apresiasi positif meskipun pada hal-hal kecil. Mengembangkan responsibility. Orang tua memberi penghargaan lebih ketika anak melakukan hal negatif. (Sy)