Ahli Gizi; Kemampuan Kognitif Anak Sangat Dipengaruhi Asupan Zat Gizi

dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK (foto: liputan6.com)

SadarGizi.com – Menyambut hari pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei, Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (KoaLizi), Departemen Kesehatan Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) mengadakan Diskusi Online dengan tema ; “Membangun Generasi Unggul”.

Diskusi yang dilaksanakan pada Jumat (01/05) menghadirkan narasumber dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK (Akademisi / Ketua Gerakan Masyarakat Sadar Gizi), Dra. Nunki Nilasari, Sc.Psi (Psikolog), Ustad Abul Hayyi Nur, S.Pd.I, S.Sos (Pimpinan Pesantren Syawarifiyyah Rorotan) dan diskusi tersebut dipandu oleh dr. Mahesa Paranadipa, MH. (Praktisi Kesehatan).

Dr. Tirta yang juga merupakan ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi menjelaskan bahwa perkembangan kemampuan kognitif anak sangat dipengaruhi oleh asupan zat gizi yang diperoleh anak tersebut. Gizi memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kecerdasan anak. Kecerdasan anak adalah sesuatu yang berjalan dinamis dan berkembang seiring berjalannya waktu.

“ada masa keemasan dalam perkembangan kognitif anak untuk mencapai puncak tertinggi. Pemenuhan kebutuhan gizi pada masa golden period akan menentukan kecerdasan seorang anak dikemudian hari.”

dr. Tirta juga menambahkan bahwa perkembangan kemampuan kognitif anak tidak dimulai saat anak dilahirkan.

“Perkembangan kognitif dimulai jauh sebelum anak lahir, sejak masa kehamilan ibu bahkan sebelum orangtuanya menikah. Sehingga setiap hambatan dan tantangan yang dihadapi pada masa itu, akan memberikan implikasi yang luar biasa baik bagi kecerdasan anak. Jadi jauh sebelum anak lahir sudah harus disiapkan, dibangun atau dibentuk.”

Seorang perempuan sebelum mengandung harus menyiapkan dirinya seoptimal mungkin, memastikan dirinya memiliki asupan gizi yang adekuat sehingga ketika memasuki masa kehamilan ia memiliki status gizi dan kesehatan yang baik. Pencapaian status gizi yang baik ini diupayakan tidak hanya saat sang ibu mengandung, namun dilakukan jauh sebelumnya.

“pembentukan organ tubuh janin dalam kandungan kebanyakan dimulai sejak usia kandungan 8 minggu. Pada kebanyakan kehamilan, ibu biasanya baru mengetahui setelah janin berumur 4 minggu. Jika perbaikan gizi baru dilakukan saat kehamilan diketahui, maka berpotensi terlambat. Buruknya pemenuhan kebutuhan gizi pada kehamilan akan berimplikasi pada kesejahteraan janin dalam kandungan. Janin akan tumbuh dalam keterbatasan zat gizi dan tentunya akan mempengaruhi pertumbuhannya. Ketidakterpenuhan ini bisa dilihat dari pertambahan berat badan ibu saat hamil yang tidak adekuat dan bayi yang dilahirkan dengan berat lahir rendah.” terang dr. Tirta. (Sy)