Optimalisasi Gizi Keluarga Ditengah Pandemi Covid-19 di Bulan Ramadhan

dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK (foto: liputan6.com)

Oleh : Tirta Prawita Sari

Dunia dikejutkan dengan peristiwa yang menjadi perhatian sangat luar biasa pada masyarakat di berbagai negara. Peristiwa yang terjadi tersebut bukanlah disebabkan oleh kejadian luar biasa seperti gempa besar maupun perang fisik melainkan munculnya berbagai gejala penyakit yang disebabkan oleh covid-19. Sampai saat ini secara global penyebaran virus tersebut menjadikannya sebuah wabah pandemi yang sangat massif. Penyebaran dari manusia ke manusia, jarak yang berdekatan, dan kontak langsung secara fisik dengan orang.

Pandemi covid-19 tertanggal 4 Mei 2020 telah mencatatkan kasus positif 3,52 juta orang, kasus sembuh 1,13 juta orang, dan kasus meninggal dunia 248 ribu orang. Catatan ini merupakan akumulasi dari berbagai kasus pandemi covid-19 di seluruh dunia. Berbagai kebijakan dan perhatian pemerintah di setiap seluruh negara adalah menghentikan segala aktivitas manusia baik bekerja, bersekolah, dan yang paling populer dilaksanakan yakni lockdown negara. Hal ini menjadikan aktivitas yang selama ini berlangsung menjadikannya terhenti untuk waktu yang sementara. Akibat dari kebijakan tersebut, maka akan berdampak pada kegiatan perekonomian, interaksi sosial, kebutuhan sandang pangan dan papan, dan budaya kehidupan di tengah masyarakat sosial.

Indonesia merupakan salah satu negara yang terdampak dari pandemi covid-19. Hal ini diketahui publik sejak diumumkannya kasus pertama pada bulan Maret 2020. Kabar yang mengejutkan ini ditanggapi oleh berbagai kalangan masyarakat. Tak khayal, pasca diumumkannya kasus positif pertama di Indonesia, terjadi panic buying di beberapa supermarket. Hal ini dijadikan sebagai langkah antisipatif warga untuk memenuhi kebutuhan hidup selama mengalami pandemi yang sedang terjadi. Pasalnya ditengah begitu cepatnya menyebar virus corona seluruh masyarakat harus mengantisipasi dirinya sendiri khususnya dalam persoalan gizi mereka. Hal ini disebabkan, gizi menjadi faktor penentu agar tubuh dapat mendapatkan pasokan yang cukup demi terhindar dari paparan sebuah virus.

Oleh sebab itu, kita perlu melakukan optimalisasi gizi keluarga di tengah pandemi covid-19. Artinya ketahanan pangan untuk memaksimalkan kebutuhan gizi dalam keluarga harus terjamin mengingat efek daripada pandemi covid-19 diketahui menurunnya produksi pangan yang disebabkan oleh kegiatan perekonomian yang melambat. Untuk menjamin ketahanan pangan rumah tangga agar terpenuhinya gizi yang optimal maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan yakni: availability (ketersediaan), accessibility (aksesibilitas), utilization (penggunaan), dan stability (stabilitas). Dalam memenuhi ketahanan pangan tersebut diperlukan langkah prioritas dalam mendukung gizi optimal contohnya memprioritaskan makanan yang memberikan efek gizi optimal dan melihat implikasi yang diberikan.

Persoalan gizi di Indonesia cukup menjadi perhatian. Hal dapat dilihat pada kasus stunting tahun 2018 yang cukup tinggi yakni berada pada angka 30,8 %. Mengapa persoalan stunting ini menjadi penting bagi kita? Hal ini dapat dilihat yakni: menggambarkan asupan gizi yang tidak adekuat dalam waktu yang lama, Menggambarkan faktor lingkungan penderitanya serta menjelaskan keterkaitan yang kuat, memberikan dampak jangka pendek yang signifikan, keterlambatan intervensi berakibat permanen, memberikan dampak jangka panjang, intervensi yang cepat tepat akan sangat efisien dan efektif menyelesaikan masalah, secara politis menggambarkan komitmen pemerintah terhadap kesehatan rakyat.

Pada level gizi optimal di lingkungan keluarga harus memiliki prioritas peerhatian yakni pada ibu hamil dan anak < 2 tahun, balita dan anak sekolah, manula, penderita penyakit tertentu utamanya penyakit degenerative. Kebutuhan gizi di masa pandemi covid-19 kita harus memperhatikan untuk cukup energi yakni karbohidrat dan lemak, cukup protein yakni hewani dan nabati, cukup vitamin dan mineral. Hal ini menjadi indikator sederhana ketersediaan zat gizi, selanjutnya jumlah menjadi penentu adekuasi.

Dimasa pandemi covid-19 apakah untuk memenuhi kebutuhan gizi itu mahal? Jawabannya tidak. Jika kita memiliki penghasilan yang cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan keluarga, kehilangan pekerjaan dan telah menggunakkan seluruh tabungan untuk melunasi cicilan, sekeluarga sehat, tidak sakit dan punya jaminan kesehatan sehingga anda tidak pusing mengatur keuangan karena ada pengeluaran rutin yang cukup besar karena kesehatan terganggu.

Apa yang harus kita lakukan saat masa pandemi covid-19 mengharuskan kita untuk optimalisasi gizi keluarga yakni :

Pertama, terapkan gizi seimbang, sesuai kebutuhan individu: usia, jenis kelamin, aktifitas fisik, faktor penyulit (stress),

Kedua, pantau kelompok rentan: bumil dan anak, orang-orang dengan penyakit kronik/degenerative terutama DM dan hipertensi,

Ketiga, berpuasalah, itu baik dan terbukti baik,

Keempat, terapkan pola makan Rasulullah untuk mendapatkan manfaat puasa.,

Kelima, berpikir positif dan bersyukur. Stress adalah faktor utama pengganggu kekebalan tubuh,

Keenam, stay at home dan bantu sesama.

Penulis adalah Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi

*) Disampaikan saat Diskusi Online Pandemi Covid-19 Bakornas LKMI PB HMI, Minggu (3/5/2020)