Sedekah: Sehat dan Menyehatkan

Poster Diskusi, Sedekah: Sehat dan Menyehatkan

SadarGizi.com – Pada Sabtu, 9 Mei 2020, Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi bersama Komunitas Literasi Gizi (Koalizi) menyelenggarakan diskusi online dengan tema “Sedekah : Sehat dan Menyehatkan”. Pada kesempatan tersebut, menghadirkan tiga pemateri, yaitu Ust Dr. dr. Muh. Khidri Alwy, M.Ag (dosen FKM Universitas Muslim Indonesia di Makassar), Ust. Dr. dr. Taufik Pasiak, M.Pd, M.Kes (Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial LPPM Unsrat), dan Ust. Dr. Muh. Sabri AR, MA (Ketua Dep. Cendekiawan BPP KKSS), dan adanya testimoni oleh Baho Jene, SH (Aktivis Sosial, Gerakan Dari Pintu ke Pintu).

Diskusi yang dimoderatori oleh dr. Abdul Halik Malik, M.K.M ini dibuka secara resmi oleh Dr. Zaenal Abidin, SH, MH yang merupakan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Dr. Zainal mengatakan bahwa sejauh ini kita selalu mengidentikkan sedekah itu lebih pada aspek spiritual dan sosial, dan kurang menghubungkannya dengan kesehatan. Sedangkan sehat itu sendiri, bagi kami yang berprofesi sebagai dokter, lebih banyak berbicara pada aspek fisik, dan kurang menyentuh aspek spiritual. Dr. Zainal pun dalam pembukaannya berkomentar bahwa orang yang tidak beragama, tidak akan mencapai sehat yang paripurna, karena lebih condong ke sehat fisik, sedangkan aspek jiwa, sosial dan spiritual menjadi kering.

  1. Halik untuk mengantar diskusi mengatakan bahwa di masa pandemic Covid 19 ini sangat dibutuhkan kesehatan fisik maupun kesehatan jiwa, yang tentunya untuk meningkatkan imunitas tubuh. Sebelum masuk ke sesi pemateri, terlebih dahulu terdapat testimoni dari Baho Jene, SH, yang merupakan aktivis gerakan Dari Pintu ke Pintu, “gerakan ini berawal dari munculnya kelompok masyarakat yang berburu sembako, misalnya Selasa di kampung A, kamis ada Caleg yang bagi sembako. Tapi, Saya melihat yang berburu sembako ini adalah pihak-pihak yang punya mobilitas tinggi. Hal inilah yang mendorong kami di Kab. Bogor, untuk langsung mendatangi mereka, sekaligus mengetahui kondisi ekonomi mereka”. Menurut Baho Jene, respon terhadap gerakan ini sangat positif, pertama dari donatur, terlebih pada para penerima bantuan, yang tidak menyangka dapat bantuan.

Sesi pertama diisi oleh Dr. dr. Muh. Khidri Alwy, M.Ag, yang mengantar peserta dengan salah satu ayat dari Kitab Suci Alquran, At-Taubah 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka. Fungsi zakat disini membersihkan harta dengan mengeluarkannya 2,5% untuk fakir miskin. Mensucikan diri dari jiwa dan hati kita dari dosa”. Selain itu, menurut riset David Klein, Psikolog Amerika Serikat, yang telah melakukan ujicoba pada orang yang senang memberi, kemudian diambil dan dianalisis air liurnya, ternyat terjadi penambahan protein yang berperan penting menambah sistem kekebalan tubuh yaitu protein Jenis A, yang dikenal dengan sebutan sel kekebalan (IgA), yaitu sel kekebalan yang bertugas melindungi tubuh dari bakteri dan mikroba yang sering menyerang sistem pernafasan dan pencernaan. Kesimpulan dari hasil riset tersebut, yaitu ketika seseorang merasa bahagia setelah memberikan zakat, tubuh akan memproduksi sel-sel kekebalan yang dibutuhkan untuk melindungi tubuh.

Dr. Muh Khidri juga mengatakan bahwa orang yang berperilaku baik dan peduli terhadap orang lain, dapat meningkatkan sinyal di otak yang diikuti dengan meluapnya tingkat kebahagiaan. Dengan  pemeriksaan FMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging) ini memperlihatkan bagian stratum ventral dan korteks orbitofrontal yang mengalami peningkatan. Di samping itu, juga akan meningkatkan hormon endorphin (rasa senang dan meningkatkan imunitas).

Tambahan dari Dr. Muh. Khidri, bahwa dengan rutin bersedekah, risiko kematian lebih rendah dalam periode 5 tahun ketimbang tidak bersedekah dan sekitar 76% orang yang aktif dalam kegiatan sosial mempunyai kesehatan yang lebih bagus. Selain itu, Pemberian/kebaikan akan menginspirasi banyak kebaikan lain seperti efek domino.

Pemateri kedua adalah Dr. dr. Taufik Pasiak, M.Pd., M.Kes, pernyataan dosen Universitas Samratulangi ini memperkuat pemateri pertama, yaitu jika kita memberi maka akan meningkatkan hormon dopamin dan oksitosin. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain akan memberi efek kebahagiaan. Memberi tak harus uang atau barang, dan yang paling kecil adalah senyuman. Dalam struktur otak kita ketika kita memberi, maka yang berfungsi adalah nucleus accumbens yang akan memberikan kesenangan. Sehingga dengan kita memberi maka kita akan diuntungkan, buka hanya orang yang diberi sedekah. Taufik Pasiak menjelaskan bahwa pada dasarnya manusia adalah mahluk yang baik, hal ini sesuai dengan pendapat Abraham Maslow dan dikuatkan oleh teori evolusi.

Pemateri ketiga adalah Dr. Muhammad Sabri AR., MA, yang memberi makna pada sedekah, dalam artian sedekah dapat membersihkan diri secara material dan spiritual. Sedekah adalah ujian iman dengan keberpihkan kepada kemanusiaan. Sehingga sedekah merupakan pengokohan keimanan selain memperoleh kesehatan secara materi dan fisik. Untuk itu, beriman tapi tidak bersedekah diasumsikan sebagai orang yang sakit. Menurutnya, ada dua karakter yang dianjurkan oleh Allah SWT: pertama; memberi makan pada orang miskin, dan; kedua, memberi perlindungan kepada orang-orang yang mengalami kecemasa dan lemah secara ekonomi. Sehingga kita dianjurkan untuk tidak menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin/yatim, karena akan mengurangi kualitas keimanan kita. (Sy)