Kepemimpinan Kesehatan (1)

dr. Zaenal Abidin, MH. – Ketua Umum PB. Ikatan Dokter Indonesia, periode 2012-2015 dan Salah satu Pendiri Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi ,Tahun 2010

Oleh: Zaenal Abidin

Sebagaimana telah diulas pada pembahasan sebelumnya, bahwa sehat dan kesehatan itu mencakup aspek yang sangat luas. Belum lagi pemahaman masyarakat mengenai kesehatan juga sangat beragam. Jangankan masyarakat awam, tokoh dan pejabat publik pun seringkali keliru memahami arti sehat dan kesehatan.  Karena pemahaman sudah bermacam-macam maka bagaimana kita mau membangun sistem kesehatan yang baik? Bagaimana mau meningkatkan status atau derajat kesehatan masyarakat? Oleh sebab itu dibutuhkan pemimpin dan kepemimpinan yang visioner, efektif dan handal untuk menjalankan fungsi dan tugas-tugas kepemimpinan bidang kesehatan dengan sebaik-baiknya agar terwujud masyarakat sehat.

Kepemimpinan di bidang kesehatan tentu saja tidak jauh berbeda dengan kepemimpinan secara umum. Namun karena fungsi dan tugasnya berkaitan dengan bidang kesehatan, maka tentu saja harus memiliki pemahaman atau pandangan yang luas tentang kesehatan. Ia harus punya kapasitas dan tekad yang kuat untuk mewujudkan masyarakat berwawasan kesehatan, sebagaimana yang telah dibahas di depan.

Kepemimpinan adalah setiap perbuatan yang ditentukan oleh individu atau kelompok yang tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Warren Bennis dan Burt Nanus (1997) dalam bukunya “Leaders Strategis for Taking Change” sebagaimana yang dikutif Samuel H. Tirtamihardja, dalam bukunya “Pemimpin adalah Pemimpi,” mengatakan, ada 850 definisi mengenai kepemimpinan. Karena itu, tak heran kalau kadang-kadang orang bertanya, apakah kepemimpinan itu sebenarnya, karena begitu banyaknya definisi mengenai kepemimpinan. Tanyakan saja kepada 10 orang yang berbeda mengenai apa arti kepemimpinan, maka kita akan mendapatkan 10 jawaban yang berbeda.

Definisi kepemimpinan itu amat luas, sebab memang kepemimpinan itu sendiri suatu jabatan yang sungguh kompleks. Chris Lowney, penulis buku “Heroic Leadership, Best Practices from a 450-Year-Old Company That Changed the World”, (New York, 2003), dalam Samuel H. Tirtamihardj, mengatakan ada empat prinsip kepemimpinan.

  1. Kita semua akan memimpin sepanjang waktu.
  2. Kepemimpinan itu timbul dari dalam.
  3. Kepemimpinan adalah cara hidup kita.
  4. Untuk menjadi pemimpin adalah proses pengembangan diri secara terus menerus.

Mempunyai koleksi definisi kepemimpinan saja tidak terlalu penting. Sebab, yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu menerapkannya. Jadi praktiknya yang lebih penting. Bagaimana dalam praktik kepemimpinan kita membawa dunia, lingkungan, serta keluarga/warga sekeliling kita kepada suatu perubahan, perubahan yang punya arah, harapan atau hidup yang lebih terbaik. Hidup yang lebih sehat dalam lingkungan yang sehat.

Dunia kesehatan yang cepat berubah seperti sekarang, yang tentu saja mengikuti perkembangan sektor lain, dibutuhkan pemimpin yang efektif dan handal, yang diharapkan mengubah keadaan yang rutin menjadi keadaan yang menantang dan lebih maju. Pemimpin yang baik akan selalu membawa keberuntungan bagi organisasi dan pengikutnya, bagi anggota, dan bagi masyarakatnya.

Akar kata dari pemimpin dalam bahasa Inggris adalah Lead yang berarti “harus pergi”. Jadi pemimpinlah yang pertama kali harus pergi. Mereka yang melangkah ke suatu tempat yang belum pernah dicapai organisasi atau pengikut mereka sebelumnya. Mereka akan memimpin dan menunjukkan arah, kemana organisasi ini akan dibawa, yakni ke tempat yang membawa keuntungan. Karena itu pula pemimpin harus mempunyai visi dan selalu mencari peluang untuk memenuhi visinya.

Seorang pemimpin hendaknya terus menerus meningkatkan kapasitas dirinya, mengikuti tangga karier kepemimpinan, agar ia berpengalaman menghadapi setiap lapisan permasalahan dan situasi yang berkembang. Baik itu masalah internal organisasi maupun ekternal organisasi. Dengan mengetahui setiap permasalahan di lapis jenjang organisasi maka dengan mudah kelak ia dapat menyelesaikannya bila ia telah duduk dalam level kepemimpinan tersebut.

Berikut ini  ada empat jenjang kepemimpinan umum, yang sebaiknya dijalani seorang calon pemimpin, yakni melalui Penunjukan (kedudukan), kemudian mengembangkan diri agar Diakui (diakui), Bertumbuh, dan Berwibawah.

Kedudukan. seringkali kepemimpinan seseorang dimulai dari ketika ia diberi kedudukan atau jabatan. Bila memang mendapatkan jabatan tersebut, seharusnya jangan bertahan di level tersebut. Perlu diingat, kepemimpinan bukanlah suatu kedudukan, ia adalah tanggung-jawab. Ia adalah amanah. Bila orang hanya berpikir bahwa kepemimpinan adalah kedudukan, biasanya ia akan lupa tanggung-jawabnya. John W. Garner dalam buku On Leadership (1990) mengatakan, “Kepemimpinan adalah suatu proses untuk membujuk atau memberi contoh di mana seseorang pribadi (atau pemimpin tim) termasuk sebuah grup mengejar tujuan yang dipegang oleh seorang pemimpin atau dibagikan antara pemimpin.”  Jadi jelas tujuan yang harus dicapai dan pemimpin harus menggerakkan orang untuk mencapainya.

Diakui. Ketika seseorang melangkah satu langkah dalam jenjang kepemimpinan maka ia akan sampai pada tingkatan diakui. Pada tingkatan ini, bawahan akan mulai menghargai pemimpinnya, setelah melihat hasil kepemimpinan yang meningkat. Perlu diingat bahwa dalam suatu jenjang kepemimpinan, dukungan  atau pengakuan itu sangat penting, baik itu dari bawahan (pengikut) maupun dari atasan.

Bertumbuh. Pada tingkatan ini organisasi dan para pengurus atau staf makin bertumbuh akibat kepemimpinan seorang pemimpin. Kondisi ini harus dapat dipertahankan agar tidak turun atau mengalami delusi. Organisasi yang tumbuh adalah organisasi yang sehat. Dan organisasi akan bertumbuh sesuai dengan kemampuan atau kapasitas yang dimiliki pemimpinnya dan pertumbuhan itu tidak akan melampaui batas kemampuan dari pemimpinnya.

Berwibawa.  Pada level ini pemimpin telah mencapai kematangannya. Ia dihargai, diakui dan telah menjadi matang. Bahkan ia telah menjadi panutan dari bawahannya. Ia telah mencapai suatu kewibawaan. Tidak semua pemimpin mampu mencapai level ini, sebab untuk mencapainya perlu kemauan belajar terus-menerus, sebagaimana ungkapan Rick Waren, “Begitu kita berhenti belajar, kita tidak lagi menjadi pemimpin.”

Bahwa seorang pemimpin dapat saja diangkat melalui penunjukan, namun bukan berarti  ia tak perlu berproses, mengembangkan diri  lebih lanjut sehingga diakui, bertumbuh dan mencapai puncak kematangannya. Terlebih lagi bagi organisasi yang pemimpinnya diangkat melalui proses demokrasi atau pemilihan. Karena itu, memang seharusnya setiap organisasi di bidang kesehatan, termasuk organisasi profesi memiliki “Institusi Pelatihan dan Pengembangan Kepemimpinan” sendiri, agar terbina calon-calon pemimpin yang handal dan memiliki wawasan yang jauh dan luas di bidang kesehatan. Bahkan, institusi pelatihan  dan pengembangan kepemimpinan milik profesi ini harus mampu berkolaborasi dengan institusi pelatihan yang dimiliki oleh organisasi sosial politik dan pemerintah. Tujuannya, agar para politisi atau calon politisi dan pemerintahan di semua level, sebelum menduduki jabatan tertentu, terlebih dahulu memperoleh pemaparan wawasan sehat dan kesehatan secara utuh.

Ciri Kepemimpinan

Ada empat bidang dasar yang menjadi ciri mendasar kepemimpinan, yakni: karakter, visi, perilaku, dan sikap.

Karakter. Pada saat berbeda pemimpin itu dinilai karena apa yang ingin mereka kerjakan, bagaimana mereka mengejar sasaran mereka, dan apa yang telah mereka capai. Namun lebih dari segalanya, kriteria ini merupakan hasil ukuran fundamental seorang pemimpin, yaitu bobot karakternya.

Pemimpin dalam bahasa Yunani, Thucidides, memiliki “pengetahuan tentang tugas, dan rasa kehormatan dalam tindakan.”  Pemimpin sejatinya bersifat jujur dan adil, dan bukan hanya karena hukum dan aturan. Mereka merupakan orang beretika, terbuka, dan dapat dipercaya. Akar dasar karakter ini mungkin lebih dari yang lainnya, menumbuhkan respek yang diperlukan untuk seseorang agar dapat disebut pemimpin.

Pemimpin yang efektif  tidak mengejar tujuan dengan segala cara, atau tanpa memperhitungkan bagaimana mereka mencapai sasaran mereka. Pemimpin efektif tetap terikat pada nilai dasar yang tidak dapat dikompromikan oleh upaya terus-menerus untuk mencapai tujuan, dan sekali lagi perlu ditegaskan atau digarisbahawi pentingnya karakter pemimpin dalam segala bidang. Jadi pemimpin dalam bidang apa pun integritas karakter merupakan hal yang paling penting.

VisiPemimpin yang dapat mencuatkan imajinasi  dengan visi yang tegas dari tujuan yang menjangkau melampaui apa yang diketahui dewasa ini, dan dapat menjabarkan ke dalam tujuan yang jelas, merupakan orang yang diikuti.

Menurut Sudaryono dalam buku Leadership, visi tercipta dari kreativitas pikir pemimpin sebagai refleksi profesionalisme dan pengalaman pribadi atau hasil elaborasi dari pemikiran mendalam dengan pengikut/personil lain, yaitu berupa ide ideal tentang cita-cita organisasi masa depan yang ingin diwujudkan bersama.

Visi menggambarkan masa depan yang ideal. Terbentuknya visi dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pendidikan, pengalaman profesional, interaksi dan komunikasi, penemuan keilmuan serta kegiatan intelektual yang membentuk pola pikir (mindset) tertentu. Visi berperan menentukan masa depan organisasi apabila diimplementasikan secara komprehensif.

Visi yang mengarahkan kita mencapai suatu tujuan. Kalau kita tidak punya tujuan maka kita tidak akan sampai di manapun. Visi yang memberi petunjuk, mendorong, memotivasi untuk mencapai tujuan. Dengan demikian visi terbentuk dari perpaduan antara inspirasi, imajinasi insight, nilai-nilai informasi, pengetahuan dan judgement. Dengan visi pula pemimpin mempunyai misi dan semangat yang menular di tengah pengikutnya. Mereka akan tertular mengikuti visi pemimpinnya dan mendapat semangat yang sama sampai cita-cita bersama itu terwujud.

Banyak kegagalan dalam kepemimpinan berasal dari kegagalan pemimpinnya untuk melihat sesuatu yang sepatutnya ia lihat, kegagalannya bertindak dari apa yang ia lihat, meski ia punya kebebasan bertindak. Visi adalah seperti peta jalan dalam pikiran kita atau dikenal juga dengan sebutan mental mapping. Dengan demikian visi adalah:

  1. Merupakan pernyataan yang jelas tentang tujuan dan misi, yang membedakan kita dari organisasi lain.
  2. Merupakan peta jalan untuk mencapai cita-cita.
  3. Merupakan alat pengendali yang membuat seluruh jalan berfokus padanya.
  4. Merupakan motor penggerak organisasi yang mempersatukan seluruh jajaran.
  5. Merupakan awal dari suatu keberhasilan yang nyata di dunia.

Agar menjadi pemimpin yang visioner, maka seseorang harus:

Pertama. Memahami konsep visi. Visi adalah idealisasi pemikiran tentang masa depan organisasi yang merupakan kekuatan kunci bagi perubahan organisasi yang menciptakan budaya dan perilaku organisasi yang maju dan antisipatif terhadap persaingan global sebagai tantangan zaman.

Kedua. Memahami karakteristik dan unsur visi.  Visi memiliki karateristik sebagai berikut: (i) memperjelas arah dan tujuan, mudah dimengerti dan diartikulasikan, (ii) mencerminkan cita-cita yang tinggi dan menetapkan standard of excellence, (iii) menumbuhkan inspirasi, (iv) menciptakan makna bagi anggota organisasi, (v) merefleksikan keunikan dan keistimewaan organisasi, (vi) menyiratkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh organisasi, (vii) kontekstual dalam arti memperhatikan secara seksama hubungan organisasi dengan lingkungan dan sejarah perkembangan organisasi yang bersangkutan.

Ketiga. Memahami tujuan visi. Visi yang baik memiliki tujuan utama, yakni: (i) memperjelas arah umum perubahan kebijakan organisasi, (ii) memotivasi karyawan untuk bertindak dengan arah yang benar, (iii) membantu proses mengakomodir tindakan-tindakan tertentu dari orang yang berbeda-beda.

Pemimpin itu menciptakan visi. Konrad Adenauer, mantan Kanselir Jerman berkata, “Semua orang hidup di bawah langit yang sama, tetapi tidak akan memperoleh horizon yang sama.” Hal yang sama juga dikemukakan oleh Helen Keller, walau ia adalah tuna netra namun ketika ia ditanya, keadaan apa yang lebih buruk daripada dilahirkan buta, ia menjawab, “Mempunyai penglihatan tetapi tidak memiliki visi.”

Visi memang tidak perlu besar, tapi seorang pemimpin harus memiliki VISI yang KUAT. Visi harus dapat diuraikan secara tertulis. Ia seperti suatu keinginan yang membakar hati kita, hati para pengikut, dan harus fokus.

Perilaku.  Sekalipun tujuan jelas dalam pemikiran seseorang, masalah berikutnya adalah apa yang akan dikerjakan seorang pemimpin, bagaimana ia bertindak sambil mengerjakannya bersama orang lain dalam mengejar sasaran akhir. Sekalipun pemimpin itu harus menyesuaikan pada serangkaian lingkungan spesifik dan senantiasa berubah, tetapi pemimpin yang paling berhasil akan menunjukkan serangkaian perilaku umum.

Kepercayaan.  Pemimpin memiliki ciri lain yang penting sekali bagi keberhasilan: kepercayaan pada diri sendiri.  Berbeda dengan kesombongan atau sikap mementingkan diri sendiri, suatu tingkat kepercayaan diri sendiri yang sehat, memungkinkan pemimpin mengerjakan tugas-tugas sulit yang diperlukan untuk memenuhi sasarannya. Percaya pada diri sendiri itulah yang mementingkan pemimpin mau menjadi pengambil risiko secara hati-hati yang menggerakkan orang lain mengambil risiko serupa.

Pemimpin sejati memahami apa yang diperlukan untuk mencapai visi dan sasaran mereka, sekali pun hal ini berarti mereka harus menolak untuk “mengikuti arus”.

Pemimpin harus mempunyai kepercayaan diri sendiri yang cukup sehingga bersedia dan siap memahami kegagalan, agar akhirnya berhasil. Kepercayaan diri sendiri pemimpin memungkinkan orang lain mempercayainya, dan mendukung kemajuan orang yang berada dalam organisasi.

Pemimpin yang percaya diri sendiri tidak merasa terancam oleh keberhasilan orang lain dalam organisasi. Ia bahkan dengan tulus menyampaikan pujian atas keberhasilan orang lain dalam organisasi. Dan itu adalah sikap. Sikap seorang pemimpin sejati.

Sumber tulisan:

  1. Samuel H. Tirtamihardja; Pemimpin adalah Pemimpin. Penerbit: Yayasan YASKI, Tangerang, 2007
  2. The Drucker Foundation; The Leader of The Future / Pemimpin Masa Depan. PT. Elex Media Komputindo-Kelompok Gramedia, Jakarta 2000.

Griya Madani I, 28 Februari 2020

(Penulis adalah Ketua Umum PB. Ikatan Dokter Indonesia, periode 2012-2015 dan Salah satu Pendiri Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi ,Tahun 2010)