Refleksi Semangat Kebangkitan Nasional Dr. Soetomo 2013: Kemerataan dan Keberadilan Pelayanan Kesehatan

dr. Zaenal Abidin, MH. – Ketua Umum PB IDI 2012-2015

Oleh: Zaenal Abidin

Di tempat ini, 105 tahun yang lalu, tepatnya 20 Mei 1908, diinspirasikan oleh seniornya dokter Wahidin Soedirohusodo, Soetomo, seorang remaja mahasiswa kedokteran bersama kawan-kawannya mendeklarasikan berdirinya Perkumpulan Boedi Oetomo. Perkumpulan Boedi Oetomo adalah organisasi modern pertama di Indonesia yang bertujuan meningkatkan derajat kehidupan bangsa. Tujuan dan cita Boedi Oetomo saat itu adalah “Kemajuan nusa dan bangsa yang harmonis dengan jalan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, kebudayaan mempertinggi cita-cita kemanusiaan untuk mencapai kedudukan bangsa yang terhormat“.  Suatu cita-cita yang melampaui zamannya.

Gerakan yang dipelopori oleh mahasiswa kedokteran tersebut tercatat di dalam sejarah sebagai perintis ide nasionalisme dan kemerdekaan bangsa Indonesia, yang mengawali gerakan nasional perjuangan kemerdekaan Indonesia. Itulah dasar ditetapkannya 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Sejak itu, bangsa Indonesia bangkit memulai sebuah perjuangan berat dan panjang, untuk memperoleh kemerdekaan dan memasuki gerbang emas kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Dr. Wahidin, Dr. Soetomo, Dr. Radjiman, dan dokter-dokter muda lainya adalah orang-orang amat terpilih dari kalangan elit pribumi, yang seharusnya memiliki kesempatan yang sangat besar untuk menikmati kehidupan yang mewah dan berkecukupan. Hidup berdampingan, terhormat dan nyaris sejajar dengan para penguasa Belanda. Mereka adalah hanya 11 orang yang terpilih dari jutaan rakyat Indonesia pada masanya. Tetapi mereka–para dokter muda ini, memilih berhadapan dengan penjajah, sebuah pilihan jalan hidup penuh risiko, sangat berbahaya dan jauh dari kenyamanan dan kenikmatan elitis, semata-mata untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsanya, membela rakyatnya yang tertindas, dan berjuang meningkatkan derajat kehidupan bangsanya yang miskin dan terbelakang. Semangat kebangkitan nasional para dokter ini lahir dari nilai-nilai luhur profesi dokter sebagaimana Sumpah Hipocrates yang telah dicanangkan sejak ribuan tahun yang lalu. Profesi dokter yang dalam menjalankan keprofesiannya tidak terpengaruh oleh pertimbangan suku, agama, status sosial, jenis kelamin, pilihan politik, serta kepentingan pribadi dan kelompok. Profesi yang selalu prihatin dan berpihak kepada yang miskin dan lemah.

Ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, sebagai buah dari perjuangan kemerdekaan Indonesia yang dimulai dari Kebangkitan Nasional Indonesia, semangat kebangkitan nasional Dr. Soetomo, dkk secara tegas direfleksikan di dalam Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan ….  maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya….   Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia……

Hari ini, 20 Mei 2013, di tempat bersejarah ini, setelah 105 tahun berlalu, bangsa ini patut bertanya: masihkah semangat kebangkitan nasional terefleksi di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?

Ketika masa penjajahan hingga awal kemerdekaan, Indonesia yang kaya raya, bagaikan hamparan samudera kemiskinan yang ditaburi oleh serakan pulau-pulau kemewahan, keserakahan dan keangkuhan penjajah Belanda. Kenyataan inilah yang melahirkan kebangkitan nasional 1908 dan perjuangan kemerdekaan yang diproklamasikan pada tahun 1945. Bagaimanakah gambaran hamparan samudera dan serakan pulau saat ini setelah 105 tahun kebangkitan nasional dan 65 tahun kemerdekaan?

Indonesia saat ini adalah Indonesia yang menunjukkan kemajuan dan pertumbuhan makroekonomi yang sangat menjanjikan. Indonesia yang adalah satu di antara sangat sedikit negara di dunia yang mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabil. Indonesia yang telah keluar dari kelompok negara miskin memasuki kelompok negara tidak miskin. Indonesia yang tak pantas lagi diilustrasikan sebagai hamparan samudera kemiskinan. Indonesia kini adalah hamparan samudera  menuju kemakmuran. Tetapi bagaimana dengan serakan pulaunya? Ilustrasi serakan pulau di Samudera Indonesia bisa tergambarkan pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang saat ini menempati posisi di atas 100. Jauh tertinggal dari negara-negara tetangga terdekat. kecuali Timor Leste. Kesehatan adalah salah satu dari 3 pilar IPM. Oleh karena itu pemihakan kepada penanggulangan masalah kesehatan adalah refleksi dari semangat kebangkitan nasional sekaligus amanah proklamasi kemerdekaan.

Berkah kemajuan dan pertumbuhan makroekonomi berdampak buruk terhadap masalah kesehatan kelompok miskin. Kelompok miskin pada saat ini menghadapi beban ganda kesehatan dalam bentuk “triple burden”. Mereka adalah kelompok yang sejak dulu mendominasi penyakit menular.  Masalah pertama, adalah penyakit menular lama belum teratasi dengan tuntas, disusul penyakit menular yang pernah selesai di masa lalu seperti malaria dan TB, namun kini merebak kembali. Kedua, adalah penyakit menular baru seperti HIV/AIDS, dan ketiga, adalah ancaman penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, penyakit jantung pembuluh darah, kencing manis, ginjal, dan kanker.  PTM yang beberapa dekade yang lalu mendominasi kelompok ekonomi menengah ke atas kini merasuk dengan cepat ke dalam kelompok miskin. Berkah kemajuan dan pertumbuhan makroekonomi dengan cepat mengubah perilaku hidup kelompok miskin. Mereka makin mudah memperoleh makanan-makanan enak yang kaya gula, kaya lemak, dan kaya garam. Mereka juga mulai menikmati kemajuan teknologi transportasi sehingga nyaris tidak lagi beraktivitas fisik yang memadai. Mereka menghabiskan nyaris sebagian besar waktu tanpa bergerak di depan televisi sambil ngemil “junk food” yang berisiko tinggi. Jadilah kelompok miskin adalah kelompok yang paling rawan dan menjadi kelompok utama yang menderita akibat masalah ganda kesehatan.

Sebagaimana amanah Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945, yang mewajibkan negara melindungi dan memenuhi hajat hidup kaum miskin, adalah penting–ketika kelompok miskin dihadapkan dengan besar dan beratnya masalah kesehatan, untuk mempertanyakan peran negara sesuai amanah UUD 1945. Perdebatan yang tak kunjung selesai mengenai besarnya premi yang dibayarkan negara kepada orang miskin dalam pelaksanaan UU BPJS misalnya, dapat menjadi indikator bagaimana negara menjalankan amanah UUD. Rencana pemerintah untuk mengalokasikan hanya sekitar 1,7 US Dolar untuk kaum miskin terasa terlalu kecil dibandingkan dengan berat dan besarnya masalah kesehatan yang dihadapi kaum miskin. Bandingkan 1,7 USD dengan GDP per kapita yang saat ini tercatat lebih dari 4.000 USD. Bandingkan pula dengan ratusan triliun rupiah yang dibakar melalui subsidi BBM yang sebagian terbesar dinikmati oleh kelompok menengah ke atas. Atau bandingkan dengan kebocoran besarnya uang negara yang dirampok oleh para koruptor.

Premi yang cukup diperlukan untuk menjamin kemerataan dan keberadilan pelayanan kesehatan kepada kelompok miskin terutama dari aspek aksesibiltas dan kualitas pelayanan. Kecilnya premi bagi kelompok miskin jelas tidak merefleksikan kemerataan dan keberadilan, yang menjadi roh kebangkitan nasional sekaligus belum merefleksikan tugas negara sebagaimana amanah UUD 1945, yakni suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia serta fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.

Ikatan dokter Indonesia melalui Muktamar XXVIII di Makassar sebagai instansi pengambilan keputusan tertinggi telah mengamanahkan kepada IDI untuk mengawal dan menyukseskan pelaksanaan jaminan kesehatan nasional dengan tujuan agar ikut andil menciptakan pelayanan kesehatan yang merata dan berkeberadilan kepada seluruh masyarakat Indonesia.  IDI menyadari bahwa di tengah-tengah turbulensi globalisasi, konsumerisme dan gaya hidup elitis yang melanda bangsa ini, sebagian amat kecil dokter, dari lebih 100.000 dokter Indonesia memperlihatkan gejala perilaku menyimpang dari nilai-nilai luhur profesi dan martabat dokter.  Kepada masyarakat terutama media pers yang secara kritis mengangkat perilaku menyimpang tersebut, IDI perlu mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena dengan kritik dan peringatan setajam dan sekeras apa pun akan menjadi peringatan dan memberi kesadaran baru kepada IDI untuk selalu mawas diri dan terus melakukan perbaikan dan penyempurnaan  menuju keluhuran dan martabat dokter yang sesungguhnya.

Di pihak lain, tidak banyak pihak yang mengetahui bahwa ada puluhan ribu Soetomo-Soetomo masa kini, para dokter yang bekerja di daerah-daerah terpencil dengan segala keterbatasan melayani masyarakat kapan saja diperlukan. Mereka bekerja melewati batas waktu normal seorang pekerja dengan gaji lebih kecil dari seorang sopir busway yang bekerja 8 jam sehari. Sesekali mereka dihargai ketika melakukan kerja profesi di luar jam tugas resmi. Untuk itu mereka dibayar per setiap orang yang dilayani lebih kecil dari ongkos parkir jam pertama di kota-kota metropolitan. Tidak banyak yang tahu, lebih banyak dokter yang tewas mengenaskan ketika menjalankan kewajiban profesinya dibandingkan jumlah dokter yang melakukan pelanggaran etika dan mencederai keluhuran profesi dokter.

Pada kesempatan peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini, yang juga merupakan Hari Bakti Dokter Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia dengan tulus mengajak semua komponen bangsa untuk saling mendukung dan bekerjasama memberikan yang terbaik  agar tercipta kemerataan dan keberadilan pelayanan kesehatan sebagai refleksi semangat kebangkitan nasional yang dipelopori oleh Dr. Soetomo dkk. Dengan kemerataan dan keberadilan pelayanan kesehatan, dan dengan dilengkapi oleh pendidikan dan tingkat ekonomi yang merata dan adil, InysaAllah cita-cita kebangkitan nasional dan proklamasi kemerdekaan akan tercapai.

Ikatan Dokter Indonesia meyakini dengan kerja keras, cerdas dan tulus, Indonesia akan menjadi sebuah hamparan lautan kemakmuran dengan serakan pulau-pulau yang dihuni oleh manusia-manusia yang sehat, kuat dan sejahtera. Pada saatnya Indonesia akan menjadi sumber mata air kehidupan yang mengalirkan kesejahteraan dan kemakmuran secara adil dan merata kepada seluruh anak bangsa.

Mengakhiri orasi ini, saya ingin mengajak kita semua untuk kembali memupuk semangat perjuangan dengan menggemakan pekik, MERDEKA! MERDEKA!! MERDEKA!!!

Terima kasih

Salam Sehat Indonesia !

Penulis adalan Ketua Umum pEngurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Periode 2012-2015

*) Disampaikan dalam Orasi Soetomo, di Gedung Stovia Jakarta, 20 Mei 2013