Direktur LK2PK: Indonesia Perlu Belajar Penanganan Covid 19 Dari Vietnam

Direktur Eksekutif LK2PK, dr. Ardiansyah Bahar, M.K.M

Sadar Gizi.com – Hingga saat ini, Pemerintah  Indonesia masih mencatat adanya penambahan kasus positif Covid-19.  Berdasarkan data Jumat (15/05), total yang terinfeksi menjadi 16.496 orang.

Merujuk data diatas, dalam diskusi virtual menyonsong Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2020 dengan tema Kebangkitan Nasional: Saatnya Berdikari dari Keterpurukan, yang diselenggarakan Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (KoaLizi), dan Departemen Kesehatan  BPP Kerukunan Masyarakat Sulawesi Selatan (KKSS), Direktur LK2PK, dr. Ardiansyah Bahar, M.K.M mengungkapkan bahwa Indonesia harus belajar dari Vietnam dalam penangan Covid-19.

Dr. Ardi membandingkan Vietnam dengan negara lain dalam laju infeksi dan tingkat kematian.

“Dibandingkan dengan negara lain, laju infeksi di Vietnam ternyata jauh lebih rendah dari Cina, Italia, Korsel, UK, dan AS. Pada 4 April, jumlah infeksi Covid-19 di Vietnam sebesar 239, tanpa ada kematian yang tercatat.”

Vietnam, sebuah negara berpenduduk padat (hampir 100 juta jiwa) dengan sumber daya terbatas, telah berhasil menekan penyebaran Covid-19. Padahal Vietnam adalah negara yang berbatasan langsung dan melakukan banyak perdagangan dengan Cina, jelas dr. Ardi.

Berhasilnya negara Vietnam dalam penanganan Covid-19 ini, dr. Ardi merekemonedasikan beberapa tindakan yang perlu diambil oleh pemerintah yang sudah jelas berhasil dilakukan oleh vietnam.

“Pandemi Covid-19 merupakan domain dari pelayanan kesehatan masyarakat karena merupakan penyakit menular yang penanganannya membutuhkan pendekatan health protection. Sehingga berikut adalah beberapa rekomendasi sebagai pembelajaran dari apa yang telah dilakukan oleh Vietnam:
1. Koordinasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah menerima masukan dan berani mengakui kesalahan;
2. Selain arahan langkah-langkah kesehatan masyarakat, pemerintah menjaga persediaan kebutuhan dasar masyarakat;
3. Koordinasi antara lembaga pemerintah dilakukan dengan baik;
4. Memperhatikan semua sumber daya manusia yang pekerjaannya mendukung infrastruktur;
5. Meningkatkan dan Melengkapi Rumah Sakit Regional;
6. Menentukan strategi komunikasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, termasuk penguatan jurnalisme sains;
7. Kerjasama yang tulus dari ketiga pilar masyarakat (pemerintah, masyarakat sipil, pihak swasta).

Sebagai informasi, diskusi yang diselenggarakan pada hari Sabtu (16/05) ini juga dihadiri oleh Narasumber Dr. Kurnia Akmal (Ketua IDI Cabang Lombok Timur/Founder Kampung Bahagia Indonesia), Dr. Mahesa Paranadipa, MH. (Ketua Umum Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia/MHKI), Hasanuddin, S.IP., M.AP. (Dosen Universitas Bhayangkara Jakarta Raya), dan Anang Purwanto (Jurnalis Senior/Produser MNC Trijaya FM). Dan diskusi dipandu oleh Praktisi Kesehatan Dr. Abd. Halik Malik, MKM. (Sy)