Anang Purwanto: Inkonsistensi Komunikasi Pemerintah Membingungkan Publik

Anang Purwanto

SadarGizi.com – Ditengah pandemi Corona Virus (Covid-19) saat ini, bukan hanya langkah penanganan atau tindakan medis yang  menjadi perhatian masyarakat. Langkah-kangkah kebijakan yang diambil pemerintah juga menjadi sorotan, khususnya dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Hal itu disampaikan oleh Wartawan Senior, Anang Purwanto dalam diskusi virtual menyongsong Hari Kebangkitan Nasional 2020. Dalam paparannya sebagai narasumber diskusi dengan tema, Kebangkitan Nasional: Saatnya Berdikari dari Keterpurukan, yang diselenggarakan Sabtu (16/05) oleh Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (KoaLizi), dan Departemen Kesehatan  BPP Kerukunan Masyarakat Sulawesi Selatan (KKSS), Direktur LK2PK, dr. Ardiansyah Bahar, M.K.M mengungkapkan bahwa Indonesia harus belajar dari Vietnam dalam penangan Covid-19, Anang menyayangkan  komunikasi publik yang dilakukan pemerintah dalam penangan pandemi covid-19.  Bahkan Anang menilai, komunikasi publik yang dilakukan pemerintah membingungkan masyarakat.

“Bagaimana Presiden Jokowi menetapkan kebijakan dan beberapa Menteri yang ikut berebut berbicara ternyata memperlihatkan adanya perbedaan sikap diantara mereka, hal ini malah menjadi masalah kemudian. Pada beberapa kebijakan pernyataan Presiden dengan Menteri dan lainnya saling bertentangan. Inkonsistensi pemerintah ini tentunya juga membingungkan publik.”

Anang bahkan menjelaskan bahwa inkonsistensi ini tidak hanya membuat masyarakat. Bahkan Wartawan yang sehari-hari bekerja untuk mewartakan informasi kepada publik juga menjadi bingung.

“Berdasarkan pengalaman saya di pemberitaan termasuk ketika menjadi wartawan kepresidenan. Bagaimana bingungnya teman-teman wartawan di tengah konsistensi pemerintah. Berbagai kalangan juga turut mengkritik kebijakan pemeritah yang tidak jelas dalam menangani pandemi Covid-19 di Indonesia. Bahkan pemerintah sendiri seakan-akan tidak siap menghadapi situasi ini. Ada beberapa wartawan yang ikut terdampak ketika seorang Menteri dinyatakan positif Corona, namun tidak mendapatkan kejelasan dalam penanganannya. Pada waktu itu ada sekitar 30 wartawan yang harus memeriksakan diri, tapi apa yang terjadi pada waktu itu RS Persahabatan tidak siap untuk melayani, apalagi jika yang datang ratusan bisa dibayangkan kesulitan yang dihadapi untuk pemeriksaan. Pada akhirnya karena fasilitas belum siap meskipun sudah datang ke RS semuanya diminta pulang dengan alasan belum menunjukkan gejala spesifik.”

Komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia selain inkonsisten, diaggap menggampangkan persoalan pandemi Covid-19, dan kepanikan pemerintah dianggap ditutupi.

“Pemerintah terkesan menggampangkan virus corona ini, padahal di belahan dunia yang lain seperti China dan negara lainnya mereka terlihat sangat responsif dan antisipatif terhadap permasalahan ini. Di Amerika sudah sangat panik tetapi di Indonesia santai-santai saja, bahkan ketika Anies (Gub DKI) mengatakan bahwa sudah memantau adanya pergerakan covid, menkes justru menyampaikan bahwa seakan-akan covid19 ini tidak akan masuk ke Indonesia karena cuaca panas dan sebagainya. Kepemimpinan yang dipandu oleh sains harus lebih dikedepankan.”

“Kepanikan pemerintah ditutupi dengan seakan-akan tidak panik. Pada awalnya Pemerintah sendiri panik tapi menutupinya kepada wartawan dan publik. Ketika ada seorang Pejabat Negara yakni seorang Menteri positif, Pemerintah sendiri gagap. Pada waktu itu belum jelas langkah penanganannya, baik pemeriksaan maupun penelusuran kasus di lingkaran Istana. Istana yang dikenal aman, mereka sendiri tidak mengerti siapa yang menularkan dan sudah menyebar ke siapa saja. Petugas tampak kebingungan mau memulai dari mana, meskipun sudah ada prosedur standarnya.”

Meskipun diawal sikap pemerintah Indonesia diaggap inkonsisten dan membuat masyarakat bingung, akhir-akhir ini pemerintah sudah dianggap lebih baik.

“Pemerintah sejauh ini sudah cukup baik dalam komunikasi publik, lebih transparan, dan responsif. Dari pandemi corona ini banyak pembelajaran, baik untuk pejabat, wartawan, tenaga medis, dan masyarakat pada umumnya.” (Sy)