Ramadhan 30

Dr. dr. Muh. Khidri Alwi, M.Ag – Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia, Makassar

Oleh : Muhammad Khidri Alwi

#Shalaiddirumahaja

Ibnu Hajar al-‘Asqalani, seorang ulama hadis menceriterakan bagaimana penyakit Tha’un (menular) mulai mewabah di Mesir tahun 833 H. Jumlah penderita yang wafat tidak sampai 40 orang. Sebulan kemudian, orang berbondong-bondong dari masyarakat awam sampai pembesar negeri menuju tanah lapang untuk berkumpul berdo’a, bermunajat dalam acara istighatsah, setelah sebelumnya mereka berpuasa selama 3 hari. Apa yang terjadi kemudian, jumlah angka kematian melonjak luar biasa. Dilaporkan lebih dari 1.000 orang yang wafat setiap harinya, dan terus bertambah.

Beliau juga mencatat bagaimana peristiwa wabah penyakit yang melanda Makkah tahun 827 H, dan menelan korban meninggal dunia 40 orang setiap harinya, hingga berjumlah 1.700 jiwa. Pada masa tersebut masjid-masjid di Makkah al-Mukarramah termasuk Masjidil Haram ditutup. Di antara sebab mengapa kaum muslimun tidak mendatangi masjid adalah karena kekhawatiran terjadinya penularan penyakit.  Apa yang diceritakan Ibnu Hajar, terulang kembali enam abad kemudian, dimana Kerajaan Arab Saudi melakukan lockdown terhadap Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dua masjid termulia di muka bumi ini. Bahkan Mufti Agung Arab Saudi Syaikh Abdulaziz al-Sheikh mengumumkan isolasi total mulai 23 Mei sampai 27 Mei dan berfatwa, umat Islam dimungkinkan shalat Id di rumah.

Wabah Covid-19 yang melanda dunia adalah pengulangan sejarah yang pernah ada dan terjadi disepanjang kurun abad yang banyak menelan korban jiwa. Bahkan Indonesia sendiri pernah mengalami lebih dua  juta orang meninggal akibat flu Spanyol yng terjadi pada tahun 1916-1918. Untuk menakar dan sekedar memperkirakan kapan wabah ini berakhir, tidak ada satupun pakar yang berani memprediksi. kalaupun ada hanyalah asumsi belaka. Dengan adanya pelonggaran PSBB dengan alasan karena menjelang Idul Fitri dan ada pejabat beserta sebagian tokoh agama yang memberikan izin untuk melakukan shalat Id di mesjid, rasanya sulit dipertanggungjawabkan transmisi local terhadap penyebaran kuman tidak terjadi.

Kita sama pahami, Islam hadir untuk kemaslahatan seluruh dimensi hidup umatnya. Para ulama, tokoh otoritas agama yang paling tinggi dalam Islam memastikan tujuan pokok dan fundamental Syari’ah (maqãshid Syari’ah) terlaksana dengan baik dengan mewujudkan maslahat dan meniadakan kerusakan dalam kehidupan dengan “menjaga jiwa manusia” (hifdhu-n-nafsi). Datang ke masjid untuk shalat (Id) memang baik apalagi hanya setahun sekali. Namun resiko tertular atau menularkan kuman (ini terutama bagi orang yang suspek Corona dan tanpa sadar sebagai OTG/ Orang Tanpa Gejala) jauh lebih berbahaya.

Dalam kaedah disebutkan “Menghilangkan kemudharatan itu lebih didahulukan daripada Mengambil sebuah kemaslahatan.” Maksudnya, kalau berbenturan antara menghilangkan sebuah kemudharatan dengan sesuatu yang membawa kemaslahatan maka didahulukan menghilangkan kemudharatan.

Sahabat saya Pakar Epidemologi Unhas, Prof Ridwan Amiruddin sudah mengingatkan resiko tertular pada saat shalat Idul Fitri jika shalat di mesjid. Kota Makassar dengan CFR 7% dan angka kesembuhan 40,56% dengan kasus mutlak yang masih terus menanjak (Sulsel per-21 Mei 20 sudah 1.106 kasus dan Makassar > 588 kasus). Ini menunjukkan Makassar sebagai epicentrum Covid-19 dengan wilayah yang tidak terkendali. Menurutnya, Transmisi lokal penyebaran virus corona tipe baru yang menjadi penyebab penyakit Covid-19 di Kota Makassar sudah tidak terbendung. Ini diperparah karena kota Makassar adalah wilayah terbuka dengan jumlah penduduk yang sangat padat.

Kalaupun dipaksakan Shalat Id di Mesjid, harus tetap mengikuti protokol kesehatan penanganan Covid-19. Dibentuk panitia yang mengatur dan mengawasi jamaah yang akan shalat Id di mesjid. Setiap jamaah yang datang tidak bergerombol dan yang tidak memakai masker tidak boleh masuk di area masjid. Sebelum masuk di lingkungan masjid, pastikan hanya ada satu atau dua pintu yang bisa dilewati yang dijaga petugas. Petugas mencek sepintas kondisi tubuh dan mendeteksi suhu jamaah dengan  termometer digital infrared . Jaga jarak jangan lupa antara jamaah, minimal 1 meter disetiap shaf. Pengurus mesjid juga menyiapkan tempat cuci tangan atau hand zenitiser. Shalat dan khutbah Id tidak lebih 20 menit. Usai shalat jamaah langsung tinggalkan tempat, teratur dan tidak bergerombol serta tetap menjaga jarak. Selain itu tidak ada acara bersalaman, apalagi cipika-cipiki. Wallahu ‘alam

Penulis adalah Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia, Makassar

*) Tulisan telah terbit di FAJAR, Kolom RISALAH, Jum’at 22 Mei 2020