Ahli Epidemiologi: New Normal Life di Indonesia Terlalu Prematur

Poster Diskusi Pasca PSBB & Kehidupan New Normal

SadarGizi.com – Setelah pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menahan laju penyebaran covid 19, kini pemerintah mengeluarkan kebijakan baru yakni penerapan new normal life dan pelonggaran PSBB.

Kebijakan baru new normal life ini mendapat kritikan dari Ahli Epidemiologi dr. Syahrizal Syarif, MPH., Ph.D dan Prof. Ridwan Amiruddin, SKM, Ph.D yang dinilai terlalu dini. Hal ini disampaikan saat diskusi online dengan Tema Pasca PSBB & Kehidupan New Normal yang diselenggarakan Kamis (28/05) oleh Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (KoaLizi), Literasi Sehat Indonesia (LiSan) dan Departemen Kesehatan  BPP Kerukunan Masyarakat Sulawesi Selatan (KKSS).

dr. Syahrizal, ahli epidemiologi Universitas Indonesia ini mengungkapkan bahwa kasus covid 19 di Indonesia masih fluktuatif, dan belum mencapai puncaknya, sehingga wacana pelonggaran PSBB terlalu dini dan akan berdampak pada peningkatan kasus covid 19.

“Pertanggal 5 mei 2020, terdapat 210 negara terdampak covid 19 dari total 215 negera. Indonesia adalah satu-satunya negara di ASEAN yang saat ini tertekan. Dilihat dari data peningkatan mingguannya, minggu lalu kasus covid 19 di indonesi 535 sementara minggu ini  sekitar 677. Wabah di Indonesia masih meningkat belum mencapai puncak.”

dr. Syahrizal mengatakan bahwa wabah covid 19 masih lama akan berakhir. Untuk menilai penurunan kasus covid 19, maka ada indikator yang perlu kita perhatikan.

“Mengacu pada negara-negara di Afrika dan Amerika Latin, WHO mengatakan bahwa wabah covid 19 masih akan lama berakhir. Indikator sederhana penurunan kasus covid 19 dilihat jika konsisten menurun dalam 0 sampai 3 hari maka dikategorikan tertekan, 4 sampai 7 hari kategori menurun, 7 sampai 14 hari terkendali, lebih dari 14 hari tidak ditemukan kasus maka status wabah hampir selesai dan jika selama dalam 28 hari tidak ditemukan kasu maka wabah dianggap selesai.

Analisis Titik Lemah PSBB dan Syarat Menuju New Normal

Ahli Epidemiologi Universitas Hasanuddin, Prof. Ridwan Amiruddin, SKM, Ph.D menjelaskan bahwa PSBB sebenarnya cukup efektif untuk menahan laju kasus covid 19. Namun analisis titik lemah PSBB disebabkan oleh konsistensi pengambil kebijakan, penafsiran penegakan kebijakan dan tekanan psikologis masyarakat.

“Kebijakan yang dikeluarkan antar lembaga pemerintah tidak berada pada koridor pemerintahan yang solid. Kadangkala antara kebijakan kesehatan dan transportasi sering berbeda. Penegakan kebijakan PSBB sering ditafsirkan berbeda antara penyelanggara. Dan masyarakat mengalami tekanan psikologis tanpa solusi tepat, terutama kelompok marginal.”

Prof. Ridwan yang juga merupakan ketua PERSAKMI (Persatuan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia) menjelaskan bahwa new normal life bisa diterapkan jika syarat-syarat menuju new normal sudah terpenuhi.

“new normal bisa diterapkan jika syarat terpenuhi, dimana terkendali covid 19, sementara laju covid 19 di Indonesia masih dalam pertumbuhan. Seperti Negara Jepang melakukan new normal setelah enam pekan periode landai kurvanya, sementara d Indonesia kurvanya masih mau menuju titik puncak belum sampai pada pelandaian kurva. Jadi terlalu cepat, terlalu dini jika kita masuk pada kehidupan new normal.

Merujuk pada data WHO, Prof. Ridwan mengungkapkan bahwa syarat menuju new normal adalah terbukti bahwa tansmisi covid 19 telah dikendalikan, kesehatan masyarakat dan kapasitas sistem kesehatan mampu untuk mengidentifikasi, mengisolasi, menguji, melacak kontak dan mengkarantina, mengurangi resiko wabah dan pengaturan ketat terhadap tempat yang memiliki kerentanan tinggi, terutama dirumah orang lanjut usia, fasilitas kesehatan mental dan pemukiman padat. Pencegahan ditempat kerja ditetapkan seperti jarak fisik, fasilitas mencuci tangan, etiket penerapan pernapasan. Resiko penyebaran imported case dapat dikendalikan, dan masyarakat ikut berperan dan terlibat dalam transmisi.

Sehingga jika suatu negara ingin menerapkan new normal maka harus memiliki bukti bahwa penularan covid 19 diwilayahnya telah bisa dikendalikan. Sistem kesehatan yang ada dari rumah sakit hingga peralatan medis sudah mampu melakukan identifikasi, isolasi, pengujian, pelacakan kontak hingga melakukan karantina orang yang terinfeksi. Risiko wabah virus corona harus ditekan untuk untuk wilayah dengan kerentanan yang tinggi. Utamanya untuk rumah orang lanjut usia, fasilitas kesehatan mental maupun pemukiman yang padat. tutur Prof. Ridwan. (Sy)