Pasca PSBB dan Kehidupan New Normal

Poster Diskusi Online: Pasca PSBB dan Kehidupan New Normal

SadarGizi.com -Diskusi yang diselenggarakan pada hari Kamis (28/5) ini berlangsung atas kolaborasi Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Literasi Sehat Indonesia (Lisan) dan, Departemen Kesehatan BPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan.

Dalam sambutan pengantarnya dr. Zaenal Abidin, S.H., M.H. mewakili penyelenggara diskusi, mengatakan bahwa diskusi yang dilakukan hanyalah semacam “Khotbah Jum’at” bagi orang Muslim pada setiap hari Jum’at. Komunitas kecil ini berkeinginan agar kita saling mengingatkan tentang apa yang benar, baik dan bermanfaat bagi kehidupan ini. Saling mengingatkan agar bisa bersabar dan menahan diri dalam berbagai hal, termasuk dalam menghadapi wabah covid-19. Sebab, bila kita semua tidak bisa menahan diri tentu persoalan wabah yang kita hadapi akan semakin kompleks, rumit, dan buruk, apalagi sampai sekarang vaksinnya belum ditemukan. Ingin saling memberi solusi atas permasalahan yang ada di masyarakat satu pekan terakhir dan juga memberi nasihat mengenai apa yang perlu dilakukan sampai Jum’at pekan berikutnya.

Pada diskusi pekan lalu Kamis (21/5), dr. Zaenal, mengungkapkan bahwa  telah diselenggarakan diskusi dengan tema “LEBARAN SEHAT 1441 H”. Salah satu topik bahasan dalam diskusi tersebut, yakni: “Lebaran Sehat: Tidak Tertular dan Tidak Menularkan Covid -19.” Topik ini disajikan oleh Henry Suhendra, Ph.D, seorang peneliti epidemiologi dari Eijkman.

Di antara kesimpulan dalam diskusi tersebut, disebutkan bahwa situasi di Indonesia saat ini BELUM memungkinkan untuk melonggarkan PSBB dan upaya pengendalian lainnya. Peran serta masyarakat sangat penting dalam pengendalian penularan Covid – 19. Dan Protokol pencegahan penularan yang tepat adalah physical dan social distancing, menggunakan masker, menjaga higienitas dan membatasi mobilitas.”

Diskusi hari ini merupakan pendalaman dari kesempulan Lebaran Sehat pekan lalu. Karena itu, kami mengangkat tema: PASCA PSBB DAN KEHIDUPAN NORMAL BARU. Berkaitan dengan pasca PSBB dan kehidupan normal baru ini, terdapat beberapa pertanyaan yang sering muncul di masyarakat belakangan ini, terutama masyarakat jurnalis. Antara lain pertanyaan itu: Seperti apa PSBB itu telah diberlakukan? Kabarnya sudah mau dilonggarkan, namun apa betul sudah pernah dilaksanakan secara ketat?  Seperti apa pula Kehidupan Normal Baru kelak setelah PSBB resmi dilonggarkan?

Pertanyaan lain menurut Zaenal, apakah Covid -19 sudah bisa diajak hidup besama berdampingan, semacam “Mengarungi Bahtera Rumah Tangga Baru dengan Sakinah Mawaddah” ataukah belum? Bila belum, apa yang perlu dipersiapkan oleh keluarga dan masyarakat yang harus bekerja? Begitu pula bagi yang anaknya harus masuk sekolah?

Kami cukup tahu bahwa pengendalian wabah Covid-19 itu adalah domain Public Health, bukan domain pelayanan medis. Sebab menurut Leavels and Clark dalam Hanlon (1974), dalam tingkatan pencegahan penyakit, “diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment)” hanya menempati urutan ketiga. Di atasnya masih ada promosi kesehatan (health promotion) dan perlindungan khusus melalui imunisasi (specific protection).

Karena itu, ketika orang mulai ramai berbicara tentang pandemi global, maka kami sudah menaruh dan menumpukkan harapan besara itu kepada kepada Pemerintah NKRI. Sebab, hanya pemerintah Negaralah yang mampu “Memasang Badan, menjadi Garga Terdepan, menjaga masyarakat dan keluarga agar tidak tertular dan tidak menularkan, membuat  Strategi Perlawan jitu dan membuat Strategi Penyerangan dan Pertahanan yang handal” untuk menahan laju menularan wabah ini.

Pemerintahlah yang seharusnya menjadi Komandan atau Pemegang tongkat Komando Operasi Pemberantasan setiap Wabah. Pengalaman sejarah bangsa Indonesia yang telah diterpa wabah penyakit yang silih berganti. Bangsa Indonesia pun mempunyai banyak pengalaman membetuk Komando Pembasmian Wabah di bawah komando Menteri Kesehatan pada masa itu. Tentu saja dengan mendengarkan pendapat dan apa kata para ahli kesehatan (ahli epidemiologi, ahli kesehatan masyarakat, dokter klinisi, dan lainnya). Bahwa, bila kemudian ada yang sakit, dan harus dirawat dengan pelayanan medis, tentu ya. Tapi hemat kami, semua itu harus bekerja dalam wilayah penanganan wabah di sektor Public Health dan harus selalu dipantau oleh instansi yang memiliki otoritas di bidang kesehatan.  Demikian, sambutan pengantar yang disampaikan oleh dr. Zaenal

Diskusi yang diikuti diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai dari daerah dengan latar belakang keilmuan yang berbeda, termasuk kalangan jurnalis ini, dipandu oleh moderator Andi Mukramin Yusuf, S.Gizi, M.K.M. (Komunitas Literasi Gizi dan dosen Universitas Al Azhar Jakarta), dengan narasumber: dr. Rizalinda Syahril, M.Sc., Ph.D., dr. Syahrizal Syarif, M.PH., Ph.D., Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, S.K.M., M.Kes., dan Dr. dr. Andi Alfian Zainuddin, M.K.M. Berikut ini kami sampaikan rangkuman papasan dari masing-masing nara sumber.

Mengetahui Karakteristik Virus SARS-CoV-2
oleh : dr. Rizalinda Syahril, M.Sc., Ph.D. (Peneliti Virus, Dep. Mikrobiologi FK Unhas)

Sumber corona virus (covi-19) yang menginfeksi manusia sebenarnya asal mulanya diduga dari beberapa hewan yang aslinya dari keleawar, karena adanya perubahan-perubahan pada susunan genetik akhirnya terjadi penyesuaian atau adaptasi dari protein yang dimiliki oleh virus sehingga mampu dikenali oleh resptor pada hewan mamalia termasuk manusia.

Klasifikasi Covid 19 termasuk family coronaviridae yang berdasarkan tes serologi terdiri dari alfa, beta, gamma, dan delta. Struktur virus Covid: 19 bentuknya bulat dilihat menggunakan mikroskop elektron, ada tonjolan dipermukaan sehingga menyerupai mahkota atau bentuk matahari sehingga disebut corona virus.

Gejala klinis yang terjadi yaitu demam, batuk-batuk, flu dan gangguan pernafasan berat, sementara kecepatan transmisi atau berapa orang yang bisa terinfeksi covid 19 adalah 2-4 orang akan menjadi sakit karena satu orang yang terinfeksi.

Cara penularan dari covid 19 ini yakni penularan dari orang (pasien) ke orang lain melalui percikan, sputum seperti batuk, bersin, bercakap-cakap), melalui airborne atau tindakan-tindakan yang menimbulkan aerosol, melalui kontak atau bersentuhan dengan cairan tubuh yang keluar melalui saluran nafas, melalui sentuhan permukaan yang sudah terkontaminasi, dan fecal oral di mana virus masuk ke mulut melalui benda, makanan, atau minuman yang sudah terkontaminasi tinja penderita covid 19. Penularan juga bisa melalui orang yang tanpa gejala, dan dari hewan peliharaan.

Masa inkubasi covid 19 DlH 2 sampai 11 hari (rata-rata 6 hari) sejak terpapar covid 19. Metode pencegahan transmisi covid 19 yaitu sering mencuci tangan dngan sabun dan air mengalir selama 20 detik atau menggunakan larutan berbasis alkohol dengan kadar minimal 60%. Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang tidak dicuci, praktek etika batuk termasuk menghalangi ketika batuk dan bersin, hindari kontak dengan orang yang sakit, diam dirumah saja jika sedang  sakit, dan ketahui factor risiko diri sendiri yaitu orang tua dengan penyakit lainnya seperti jantung, paru atau DM.

Terkait teori konspirasi dimana covid 19 disebut sebagai senjata biologis, dr. Rizalinda mengatakan bahwa dengan kemampuan manusia yang sudah cerdas sangat memungkinkan, tapi pembuktian kearah itu belum terbukti. Sehingga tidak bisa dikatakan sebagai konspirasi karena tidak ada atau belum ada bukti.

Selanjutnya, dr. Rizalinda menyimpulkan paparannya dengan mengatakan:
1. Emergin virus: Asal mula virus tipe hewan, beradaptasi, hingga mampu menginfeksi manusia.
2. Conspiracy theory tidak/belum dapat dibuktikan.
3. cOVID 19 tergolong virus baru sehingga tidak ada kekebalan silang dari tipe virus corona lainnya. Vaksin harus dikembangkan atau tunggu kekebalan dari infeksi alamiah.
4. Kemampuan transmisi pra-gejala menjadi alasan mengapa sangat penting melakukan social distancing dan tidak berkumpul di tempat ramai/padat.
5 Pencegahan yang adapat dilakukan adalah sering cuci tangan dengan sabun/handrub, kenakan masker, etika batuk/bersin yang benar, perbaiki kekebalan tubuh dengan gizi yang baik.

Tren Covid19 secara Global dan Nasional
oleh : dr. Syahrizal Syarif, M.PH., Ph.D. (Epidemiolog FKM UI)

  1. Syahrizal memaparkan terkait tren covid19 secara global diawali dengan pengantar bahwa manusia selama ini khawatir dengan adanya ancaman dunia yaitu perang nuklir dan pencemaran lingkungan, dan ternyata saat ini menyaksikan secara langsung wabah global covid19 sebagai ancaman nyata.
    Menurut epidemiolog FKM UI ini, secara global adanya wabah sebenarnya sudah hadir sejak 2400 tahun lalu, data yang ada menunjukkan terdapat kurang lebih 150 wabah yang telah tercatat didunia dengan berbagai variasi jumlah kematiannya, peristiwa wabah paling besar dikenal dengan istilah black death (pes) yang memakan korban paling banyak yang terjadi terutama di eropa dan middle east, ini terjadi saat era maritim pelayaran dan perdagangan melalui darat. Adapun dari banyak infeksi virus masih ada yang belum tertangani misalnya HIV.

Saat ini dengan adanya pandemic Covid-19 kegiatan karantina menjadi ranah public health, Masyarakat internasional sudah mengalami kemajuan pesat dalam bidang kesehatan, terkait virology. Hari ini kita bisa melihat Cina yang hanya butuh 3 hari mempelajari special genetic covid19. Adapun tantangan WHO sebagai pengendali pandemic harus mengahadapi kenyataan pengendalian pada negara low dan middle income yaitu afrika dan amerika latin yang datanya fluktuatif, sama seperti indonesia.

Dari aspek yang berbeda lainnya dapat dilihat bagaimana kota Wuhan menjadi indikator baru yang telah menerapkan lockdown, penerapan lockdown selain ditopang dengan kemampuan ekonomi, juga harus di topang dengan kemampuan leadership yang kuat. Covid 19 hadir saat era industry 4.0, saat-saat dimana tiga sektor sedang ramainya yaitu, bidang tourist, travel dan trade (ekonomi global) berdampak pada penurunan seiring dengan hadirnya pandemic covid-19 dan dapat dikatakan masyarakat secara global mengalami destruksi sosial ekonomi. Pada peristiwa ini dapat dilihat perbedaan penanganan wabah negara-negara low, middle dan high income terutama dalam dukungan sosial negara terhadap masyarakat (sosial safety net).

Penanganan Covid-19 jika dipahami dengan baik maka berbagai pendekatan dapat dilakukan, salah satunya pendekatan penanganan covid-19 yang sebaiknya dilakukan misalnya dengan penanganan pada tingkat hulu ke hilir, dimana pada hulu dimulai pada tingkat individu dan keluarga, kemudian ditengahi dengan hadirnya PSBB dan dihilir dapat dilakukan manajemen kasus dan kelompok berisiko (ODP, PDP, PTG) sehingga tidak terjadi beban besar dalam pelayanan kesehatan.

Indonesia satu-satunya Negara di Asean yg mengalami fluktuasi, dapat dikatakan respon Indonesia termasuk lambat, strategi komunikasi kurang baik, regulasi yang simpang siur, sedangkan dari aspek peraturan sendiri yang digunakan yaitu Undang-Undang karantina, bencana alam, darurat sipil, darurat kesmas dan bencana nasional non alam tanpa menyinggung sedikitpun tentang Undang-Undang Wabah.

Indonesia belum mencapai puncak pandemi, Jakarta menjadi provinsi yang paling berisiko dengan pergerakan manusia yang besar. Kasus yang terus meningkat disandingkan dengan wacana pelonggaran PSBB terkesan terlalu dini, melihat pada masing-masing wilayah yang berbeda dan belum mencapai puncak kasus. Selain itu melihat beberapa respon pemerintah dengan rencana lab diagnostic rencananya 1000 perhari belum tercapai, keterbatasan faskes, data kematian dan kasus konfirmasi dan larangan mudik. Maka dengan “adanya pelonggaran PSBB dapat memberikan dampak positif berupa adanya pengendalian dengan protokol baru serta terjadi penurunan kasus harian, dan negatifnya menjadi risiko kasus makin bertambah.”

Arah kedepannya akan ada normalitas baru pada masyarakat disemua bidang, bukan berarti pandemi covid19 berakhir tetapi dibutuhkan kesiapsiagaan dalam menghadapinya, misalnya dalam hal belajar, ibadah, dan bekerja begitupun dengan penggunaan masker untuk pencegahan infeksi, jaga jarak, menghindari kerumunan yang tidak bisa ditawar lagi.

Terdapat standar ideal dalam penanganan yaitu dengan lockdown, adapun standar esensial yaitu PSBB. Prinsip dasar PSBB dengan mamatuhi phsycal distancing, social distancing, proteksi diri (masker, sanitizer dan lainnya), restriksi movement (pergerakan) dengan tetap dirumah. Dari standar tersebut jika terjadi pelonggaran PSBB ataupun menghadapi new normal maka memakai masker, jaga jarak dan hindari kerumunan menjadi syarat yang tidak bisa ditawar lagi.

Menanggapi new normal. dr. Syahrizal mengatakan bahwa problem terbesar sebenarnya adalah menyambut aktivitas persekolahan, bagaimana protokoler yang tepat dan perlunya dukungan pskisosial anak yg selama ini mengalami stress dirumah dan adanya ketakutan masuk sekolah, bebas stigma, maka seharusnya pemerintah jangan hanya melihat aktivitas seperti di mall, MRT, tapi juga melihat kondisi pesantren, sekolah, pasar tradisional.

Menanggapi informasi Covid-19, New Normal kaitannya dengan Herd Imunity yang berkembang di masyarakat, dr. Syahrizal mengatakan tidak relevan untuk dihubungkan. Herd imunity hanya bisa dibangun dengan cara vaksinasi yang saat ini belum ada kemudian Herd imunity cocok untuk penyakit seperti campak atau rubella yang ketika terkena akan memberikan kekebalan permanen sedangkan covid19 tidak memberikan dapat kekebalan permanen.

Intervensi Kesehatan Masyarakat dan Keluarga untuk Menahan Laju Covid 19 Menuju New Normal Life
oleh : Prof. Dr. Ridwan Amirudin, S.K.M, M.Kes. (Ahli Epidemiologi FKM Unhas / Ketua Umum PERSAKMI – Perhimpunan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia)

Prof. Ridwan Amirudin menjelaskan bahwa tujuan strategi global pengendalian covid-19 yaitu: 1. Memobilisasi semua sector dan komunitas; 2. Control kasus sporadic dan cluster; 3. Menekan transmisi komunitas; 4. Mengurangi angka kematian dengan memberikan perawatan klinis yang tepat; 5. Mengembangkan vaksin dan terapi yang aman dan efektif. Keterlibatan semua pihak sangat penting.

Ahli Epidemiologi dari Universitas Hasanuddin ini, menjelaskan bahwa PSBB sebenarnya cukup efektif untuk menahan laju kasus covid-19. Namun analisis titik lemah PSBB disebabkan oleh konsistensi pengambil kebijakan, penafsiran penegakan kebijakan dan tekanan psikologis masyarakat.
“Kebijakan yang dikeluarkan antar lembaga pemerintah tidak berada pada koridor pemerintahan yang solid. Kadangkala antara kebijakan kesehatan dan transportasi sering berbeda. Penegakan kebijakan PSBB sering ditafsirkan berbeda antara penyelenggara. Dan masyarakat mengalami tekanan psikologis tanpa solusi tepat, terutama kelompok marginal.”

Sasaran new normal ditujukan untuk tempat kerja instansi pemerintahan, perusahaan swasta, BUMN, dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota. Target program new life adalah mitigasi, OTG, ODP, pasien dalam pengawasan, kasus konfirmasi positif, karantina mandiri dan kontak erat.

Hirarki intervensi harus diutamakan adalah keamanan dan kesehatan masyarakat baru masuk pada masalah ekonomi dan reputasi. Sementara masalah kesehatan masyarakat kita belum tuntas kita sudah masuk pada sektor ekonomi. Negara-negara lain menyelesaikan masalah keamanan dan kesehatan masyarakat dulu baru masuk pada masalah ekonomi, dan setelah itu reputasi. Untuk menciptakan wilayah aman kesehatan, agar tidak tertular maka harus menjaga batas wilayah, supaya tidak jatuh sakit maka harus meningkatkan daya tahan tubuh. Demikian pula, agar tidak fatal harus intesifikasi pengobatan sehingga tidak meninggal.

Intervensi tingkat komunitas perlu mendorong kepatuhan dalam hal mengikuti apa yang direkomendasikan oleh ahli, memberi kasih sayang pada orang yang stress, dan meningkatkan kolaborasi. Hindari membandingkan antar anda dan orang lain, wilayah anda dengan wilayah orang lain, karena karakteristik dan budaya yang berbeda, hindari menyebarkan konten palsu dan negatif, dan hindari perilaku mengeluh dan menyalahkan orang lain.

Masyarakat harus diberdayakan untuk memastikan layanan dan bantuan terhadap komunitas pendidikan, kelompok rentan, mendukung kesehatan pekerja, penemuan kasus, pelacakan kontak dan kerjasama dengan dukungan dari setiap bagian masyarakat yang terkena dampak. Tingkat rumah tangga, harus melakukan fungsi pendidikan personal hygiene yang tepat kepada anak, update informasi dari sumber yang tepat, membuat protokol tingkat rumah tangga dan membatasi perjalanan. Dan direkomendasikan untuk saling mendukung dan memonitoring lingkungan sekitar. Tingkat individu harus bertanggung jawab pada praktek personal tindakan pencegahan, validasi sumber informasi, membuka saluran komunikasi, hidup dengan gaya hidup sehat dan disiplin.

Prof. Ridwan juga menjelaskan bahwa new normal life bisa diterapkan jika syarat-syarat menuju new normal sudah terpenuhi. Seperti Negara Jepang melakukan new normal setelah enam pekan periode landai kurvanya, sementara d Indonesia kurvanya masih mau menuju titik puncak, belum sampai pada pelandaian kurva. Jadi terlalu cepat, terlalu dini jika kita masuk pada kehidupan new normal.

Merujuk pada data WHO, ungkap Prof. Ridwan, bahwa syarat menuju new normal adalah terbukti bahwa tansmisi covid 19 telah dikendalikan, kesehatan masyarakat dan kapasitas sistem kesehatan mampu untuk mengidentifikasi, mengisolasi, menguji, melacak kontak dan mengkarantina, mengurangi resiko wabah dan pengaturan ketat terhadap tempat yang memiliki kerentanan tinggi, terutama di rumah orang lanjut usia, fasilitas kesehatan mental, dan pemukiman padat. Pencegahan ditempat kerja ditetapkan seperti jarak fisik, fasilitas mencuci tangan, etiket penerapan pernapasan. Resiko penyebaran imported case dapat dikendalikan, dan masyarakat ikut berperan dan terlibat dalam transmisi.

Dengan demikian, jika suatu negara ingin menerapkan new normal maka harus memiliki bukti bahwa penularan covid 19 di wilayahnya telah bisa dikendalikan. Sistem kesehatan yang ada dari rumah sakit hingga peralatan medis sudah mampu melakukan identifikasi, isolasi, pengujian, pelacakan kontak hingga melakukan karantina orang yang terinfeksi. Risiko wabah virus corona harus ditekan untuk untuk wilayah dengan kerentanan yang tinggi. Utamanya untuk rumah orang lanjut usia, fasilitas kesehatan mental maupun pemukiman yang padat. tutur Prof. Ridwan.

Tren Covid19 di Sulawesi Selatan
oleh : Dr. dr. Andi ALfian Zainuddin (Dosen Dep. Kedokteran Komunitas FK Unhas)

  1. Andi Alfian, yang merupakan dosen Departemen Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin memaparan bagaimana Gugus tugas Covid-19 sulsel bekerja. Ia memaparkan aktivitas gugus tugas covid-19, diantaranya:

1.Memberikan pemetaan kasus Covid-19;
2. Memberikan usulan penanganan kasus Covid-19 berbasis bukti;
3.Melakukan  angkah-langkah dukungan bagi fasilitas kesehatan dalam merawat pasien covid-19; dan
4.M langkah-langkah promotive dan preventif terhadap penyebaran kasus covid-19.

  1. Andi Alfian yang juga merupakan anggota Gugus Tugas Covid-19 Unhas ini mengatakan, dengan melihat peningkatan jumlah dan sebaran kasus terkonfirmasi positif di Sulawesi Selatan pada tanggal 30 Maret 2020 sebanyak 27 pasien positif mengalami kenaikan drastis sampai dengan tanggal 9 Mei 2020, yaitu sebanyak 710 pasien positif di kota Makassar dan sekitarnya. Meningkatnya angka kasus ini disebabkan oleh beberapa faktor, dan data sampai tanggal 28 Mei 2020, Sulsel mengalami ledakan yang cukup besar sampai menempati peringkat ke empat Nasional. Dari hasil pemantauan tersebut, lahirlah usulan untuk melakukan intervensi pencegahan yang bertujuan untuk pengawasan sumber infeksi, menahan rute infeksi, dan mencegah infeksi baru.

Dr. Andi Alfian kembali menjelaskan aktivitas gugus tugas covid-19 yang meliputi pengawasan sumber infeksi yang terdiri dari intervensi medis dan pengelompokan pasien. Intervensi medis dilakukan melalui sistem pelaporan kasus pneumonia (demam+batuk/sesak) dari masyarakat, puskesmas/klinik, rumah sakit penyangga dan rumah sakit rujukan, selain itu juga melakukan tes Swab PCR secara massif pada pasien OTG, ODP, PDP terutama dalam satu rumah tangga (kasus kontak erat). Sedangkan pengelompokan pasien (termasuk yang komorbid dan populasi rentan) dengan cara isolasi mandiri, isolasi terpusat dan isolasi di rumah sakit.

Pandangan dr. Andi Alfian melihat tren covid-19 di Sulawesi Selatan yang belum menunjukkan penurunan angka, maka dibutuhkan proyeksi kebijakan, yaitu dengan adanya political will dan political act pemerintahan dan aparat serta keterpaduan geraknya. Selain itu edukasi massif ke masyarakat, pendampingan oleh relawan, penegakan aturan melalui aparat keamanan, Pemetaan kelompok rentan terutama usia lanjut dan memiliki komorbid (penyerta) seperti DM, Hipertensi, dan sebagainya.

Dengan hadirnya media promosi kesehatan berupa flyer, leaflet dan poster terkait protokoler pencegahan covid-19 sangat mengedukasi yang tidak hanya bersumber dari kementerian kesehatan tetapi juga dari sumbangsih komunitas-komunitas peduli yang ada di masyarakat. Kita belum menemukan model yang pas terkait penanganan covid-19 dengan karakter masyarakat yang ada, kedepannya New Normal menjadikan kita menciptakan hal-hal baru dan gaya hidup lebih sehat. Perlunya pemerintah memperhatikan dan membuat “protokoler khusus bagi anak sekolah” yang sebentar lagi akan masuk tahun ajaran baru. Perlu pemahaman khusus yang dimulai dari keluarga tentang menyiapkan masker, hand sanitizer dan perlengkapan pribadi lainnya jika memang harus mengikuti proses belajar mengajar secara tatap muka langsung (offline).

Menanggapi jumlah kasus yang ada di Sulawesi Selatan, khusunya di kota Makassar, menurut dr. Andi Alfian, tidak bisa menentukan data real jumlah kasus berdasarkan awal terjadinya, namun data yang ada berhasilkan data laboratorium, jadi semakin banyak yang di swab semakin banyak kasus dan tidak melihat awal terjadinya lagi. Menurutnya para epidemiolog telah berpendapat bahwa kita memang belum memiliki kurva epdidemi sesungguhnya.

Masih Menanggapi jumlah kasus yang ada di Sulawesi Selatan, sudah disiapkan tiga laboratorium, dengan kapasitas 600 – 700 sehari, Makassar dan Gowa melakukan PSBB memberikan pola adaptasi baru yang harus diterapkan. Kita tidak memperhatikan kasus sembuh kemudian terinfeksi kembali, artinya kedepannya kita akan tetap berhadapan dengan covid-19 dan menjadi bagian hidup kita dan tidak bisa memprediksi kapan berakhirnya dimasa depan sehingga new normal akan selalu ada, masyarakat harus belajar bagaimana normalitas yang ada nantinya.

Menanggapi Pemberhentian PSBB di Kota Makassar, dr. Andi Alfian menekankan bahwa kita tidak pernah fokus memberikan edukasi ke masyarakat terkait PHBS, lebih banyak fokus ke proses PSBB dimana ada sanksi bagi pelanggar misalnya toko yang tetap buka akan dicabut izinnya namun disisi lain edukasi cuci tangan yang baik juga tidak ada.

Tinjauan akademis PSBB belum bisa dihentikan, butuh waktu dengan melihat angka kejadian di Makassar belum sama sekali ada penurunan kasus hal ini dengan mempertimbangkan faktor sosial ekonomi saja dan mengesampingkan tinjaun epidemiologi.

Di akhir diskusi, dr. Andi Alfian menekankan pendidikan ke masyarakat harus massif karena menuju new normal, edukasi ke masyarakat menjadi hal yang penting. Pasar di era new normal dan pemahaman role model disetiap lini. Tidak bisa hanya sektor kesehatan dalam new normal, semua harus mengikuti protokoler pemerintah dari setiap terminal, pasar, dan sekolah pada saat new normal.

Yang dikhawatirkan adalah proses transisi dari PSB ke new normal akan tidak maksimal dikarenakan pemahaman masyarakat yang masih sangat minim terkait model pemerintah dalam penanganan covid-19. Dimulai dari peserta webinar hari ini sudah harus membantu memberikan edukasi ke masyarakat terkait pentingnya protokoler selama pandemi dan menyambut new normal, ujar dr. Andi Alfian menutup pemaparannya. (Sy)