Menuju New Normal Life Pasca PSBB; Begini Intervensi Kesehatan Masyarakat dan Keluarga Yang Perlu Dilakukan

Prof. Dr. Ridwan Amirudin, S.K.M, M.Kes. – Ketua Umum PERSAKMI (Perhimpunan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia)

SadarGizi.com – Kebijakan New Normal yang diambil pemerintah Indonesia setelah menerapkan PSBB, mendapat tanggapan dari Ketua Umum PERSAKMI (Perhimpunan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia), Prof. Dr. Ridwan Amirudin, S.K.M, M.Kes.

Dalam Diskusi Online yang bertajuk Pasca PSBB dan Kehidupan New Normal, Kamis (28/05) yang diselenggarakan oleh Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (KoaLizi), Literasi Sehat Indonesia (LiSan) dan Departemen Kesehatan  BPP Kerukunan Masyarakat Sulawesi Selatan (KKSS), Prof. Ridwan menyatakan bahwa dengan masih meningkatnya kasus covid 19, kebijakan tetang new normal terlalu dini dan terlalu cepat.

Prof. Ridwan yang juga merupakan Ahli Epidemiologi FKM Unhas ini mencontohkan negara Jepang sebagai salah satu negara yang merapkan new normal.

“seperti Negara Jepang melakukan new normal setelah enam pekan periode landai kurvanya, sementara d Indonesia kurvanya masih mau menuju titik puncak, belum sampai pada pelandaian kurva. Jadi terlalu cepat, terlalu dini jika kita masuk pada kehidupan new normal”.

Untuk menghindari banyak korban akibat kebijakan new normal yang terlalu dini dan cepat, Prof. Ridwan menyatakan bahwa perlu dilakukan intervensi kesehatan masyarakat dan keluarga untuk menahan laju covid 19.

Untuk menciptakan wilayah aman kesehatan, agar tidak tertular maka harus menjaga batas wilayah, supaya tidak jatuh sakit maka harus meningkatkan daya tahan tubuh. Demikian pula, agar tidak fatal harus intesifikasi pengobatan sehingga tidak meninggal.

Intervensi tingkat komunitas perlu mendorong kepatuhan dalam hal mengikuti apa yang direkomendasikan oleh ahli, memberi kasih sayang pada orang yang stress, dan meningkatkan kolaborasi. Hindari membandingkan antar anda dan orang lain, wilayah anda dengan wilayah orang lain, karena karakteristik dan budaya yang berbeda, hindari menyebarkan konten palsu dan negatif, dan hindari perilaku mengeluh dan menyalahkan orang lain. Masyarakat harus diberdayakan untuk memastikan layanan dan bantuan terhadap komunitas pendidikan, kelompok rentan, mendukung kesehatan pekerja, penemuan kasus, pelacakan kontak dan kerjasama dengan dukungan dari setiap bagian masyarakat yang terkena dampak.

Tingkat rumah tangga, harus melakukan fungsi pendidikan personal hygiene yang tepat kepada anak, update informasi dari sumber yang tepat, membuat protokol tingkat rumah tangga dan membatasi perjalanan. Dan direkomendasikan untuk saling mendukung dan memonitoring lingkungan sekitar. Tingkat individu harus bertanggung jawab pada praktek personal tindakan pencegahan, validasi sumber informasi, membuka saluran komunikasi, hidup dengan gaya hidup sehat dan disiplin. tutur Prof. Ridwan. (Sy)