Paradoks Tahun Ajaran Baru Dan Kehidupan Normal Baru

Poster Diskusi Online Paradoks Tahun Ajaran Baru & Kehidupan Normal Baru

SadarGizi.com – Mengawali diskusi, Syarifuddin Syaris selaku host menyampaikan tata-tertib diskusi lalu menyilakan kepada moderator Andi Mukramin Yusuf untuk memandu jalannya diskusi. Moderator memulai dengan menyapa serta mengenalkan narasumber satu persatu, setelah itu meminta kepada Zaenal Abidin untuk menyampaikan sambutan pengantar singkat mewakili penyelenggara diskusi.

Dalam pengantar singkatnya, Zaenal Abidin menyampaikan tema diskusi dan alasan serta harapan penyelenggaraan diskusi. Diskusi hari ini Sabtu (6/6-2020) merupakan Forum Berbagi Ilmu dengan mengangkat tema: “Paradoks Antara Pembukaan Tahun Ajaran dan Kehidupan Normal Baru.” Diskusi ini berlangsung atas kolaborasi antara: Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Literasi Sehat Indonesia (Lisan) dan, Dep. Kesehatan BPP. Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan.

Seperti pada forum berbagi ilmu sebelumnya, Zaenal kembali menyampaikan bahwa acaranya ini tidak lebih hanyalah semacam “Khutbah Jum’at” bagi orang Muslim pada setiap hari Jum’at. Forum ini diharapkan agar menjadi ajang saling berbagi nasihat . Nasihat tentang apa yang benar dan tentang apa yang baik serta bermanfaat bagi kehidupan kita sehari-hari sebagai warga masyarakat dan bangsa. Saling menguatkan agar selalu bersabar dan menahan diri dalam berbagai hal, termasuk menahan diri untuk tidak mengambil kebijakan yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan anak kita sendiri.

Di dalam Ilmu Kesehatan Masyarakat forum saling berbagi ilmu dan nasihat semacam ini lebih populer dengan istilah Promosi Kesehatan. Promosi kesehatan itu target sasarannya ada tiga kelompok manusia: 1). Individu (harapan terjadi perbaikan untuk diri; sendiri); 2. Tokoh Masyarakat (sasaran: untuk diri dan teladan bagi orang lain) dan; 3). Pejabat Publik (sasaran: untuk diri sendiri, teladan bagi orang lain, dan untuk membuat kebijakan publik yang tepat dan benar).

Kami sebagai penyelenggara hanyalah bertugas memfasilitasi berlangsungnya FORUM SEDEKAH ILMU, agar ajang saling berbagi ilmu, pengetahuan, pengalaman dalam menghadapi permasalahan masyarakat dan bangsa, terutama dalam satu pekan terakhir dapat ditemukan solusinya. Tentu saja sangat diharapkan agar kita saling membari informasi dan bagaimana menyikapi hal-hal yang kemungkinan akan terjadi satu pekan berikutnya. Ungkap Zaenal.

Lebih lanjut, Zaenal mengatakan bahwa, sebetulnya pada diskusi bertajuk “Pasca PSBB dan Kehidupan Normal Baru” pekan lalu telah disingging mengenai tahun ajaran baru ini, namun porinya amat sedikit. Karena itu kami bahwa persoalan anak, anak sekolah dan dan pembukaan tahun ajaran baru ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Saya teringat pesan guru saya beberapa tahun lampau, ketika masih Sekolah Kedokteran dan belajar Ilmu Kesehatan Anak. Guru saya selalu mewanti-wanti, “Kalian harus INGAT!, tubuh dan jiwa anak bukan orang dewasa dalam ukuran mini.” Sebab itu, hendaklah kalian berhati-hati bila menangani anak dan merawat pasien anak. Guru saya ketika itu berpesan bahwa anak itu memerlukan perhatian dan penanganan KHUSUS.

Apalagi beberapa waktu lalu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sebagaimana yang dikutip dari kompas.com (23/5-20), telah mengungkapkan bahwa hingga Senin (18/5/2020), jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 3.324 anak, 129 anak berstatus PDP meninggal, positif Covid-19 pada anak sebanyak 584 kasus, dan 14 kematian anak dari kasus positif Covid-19.

Jika data IDAI itu benar adanya, tentu seharusnya menjadi peringatan kearas kepada pemerintah untuk menjadikan perlindungan anak sebagai pertimbangan utama dibanding pertimbangan lain-lain dan alasan lain-lain. Di Layar kaca (3/6-2020), saya sempat nonton Ketua IDAI mengatakan, “Bagi kami SATU anak meninggal itu, TIDAK boleh.”

Terkait dengan itu pula, intervensi dan perlindungan anak seharusnya berbasis kebijakan perlindungan khusus. Yakni demi kepentingan terbaik bagi anak, dan perlindungan khusus hak kesehatan serta hak kelangsungan hidup, dan hak hidup anak, yang merupakan hak utama (supreme rights) yang tidak boleh dikurangi, yang dijamin konstitusi Pasal 28B ayat 2 UUD 1945, UU 35 Tahun 2014 Jo.UU 23 Tahun 2002,  juga Konvensi PBB tentang Hak Anak (UN’s Convention on the Right of the Child) yang sudah diratifikasi Indonesia pada tahun 1990.

Berkaitan dengan tema diskusi kita hari ini, kami ingin agar kita mencermati bahwa ada masalah antara pembukaan sekolah pada Tahun Ajaran Baru 2020 dan Kebijakan Kehidupan Normal Baru yang akan diterapkan. Karena itu, pemerintah wajib untuk memastikan dan mengedapankan perlindungan anak dalam skenario kebijakan tepat dan tindakan yang rinci serta serius, dengan sumberdaya dan biaya ekstra dan dengan tindakan yang matang TANPA TOLERANSI.

Kami tahu bahwa banyak anak-anak kita sudah bosan tinggal di rumah dan jenuh belajar di rumah. Banyak yang sangat ingin kembali ke sekolah seperti sedia kala, kangen berkumpul dengan teman sekolahnya. Namun, jika tanpa kepastian akan jaminan dan perlindungan dari resiko Covid-19, maka seharusnya pemerintah menghindari pembuatan kebijakan yang beresiko pada anak sekolah. Aapalagi tidak ada jaminan anak-anak tidak berkerumun, yang dapat menjadi sebab terjadinya penularan di sekolah.

Seandainya terjadi penularan di sekolah (semoga saja tidak terjdi). Ada hal kurang baik di masyarakat kita dan itu yang sering kami khawatirkan, yakni tertumpahnya kesalahan itu kepada pihak sekolah, guru, atau bahakan kepada orang tua dan anak sekolah sendiri. Masyarakat kita jarang sekali langsung menumpahkan kesalahan itu kepada pejabat publik yang karena kebijakannya mengakibaikan terjadinya kerugian pada dirinya (masyarakat).

Karena itu, mari kita dialogkan semua masalah ini dan juga merumuskan skenario kebijakan yang tepat, ketat, dan tindakan yang rinci bersama narasumber yang kompeten di bidangnya. Mulai dari Prof. Dr. Unifa Rosyidi, M.Pd., (Ketua Umum PGRI), Dr. dr. Aidah Juliaty A. Baso, Sp.A (K) (Dep. Ilmu Kesehatan Anak FK. Universitas Hasanuddin), Dr. Aminuddin Syam, S.KM., M.Kes., M.Med.Ed (Pakar Kesehatan Masyarakat/Dekan FKM. Universitas Hasanuddin), Dr. Seto Mulyadi, S.Psi, M.Si yang lebih dikenal dengan sapaan Kak Seto (Psikolog/Ketua Lembaga Perlidungan Anak Indonesia. Demikian Zaenal menutup pembicaraannya.

Selanjutnya moderator menyilakan kepada masing-masing narasumber menyampaikan paparannya, dengan memberi batas waktu 10-15 menit setiap nara sumber.

 

Pembukaan Sekalah Baru Di Era New Normal

(Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd.)

Pendidikan pada era new normal harus beradaptasi dengan kebiasaan baru agar para siswa dan guru dan warga sekolah terlindung dari wabah, dan dapat belajar kembali dengan normal. Para siswa, guru, dan warga sekolah dikondisikan agar mematuhi protokol kesehatan. Karena keselamatan dan kesehatan menjadi pertimbangan utama pada era new normal. Namun, hak anak untuk memperoleh layanan pendidikan juga harus tetap terlayani. Dengan demikian, dapat membawa pendidikan kita memasuki sistem yang baru, yang intinya adalah mengubah perilaku keseharian yang mungkin baru sama sekali.

Cara yang tepat melakukan pendidikan pada era new normal adalah siswa harus didorong untuk melakukan kebiasaan hidup bersih, seperti menggunakan masker, cuci tangan, olah raga serta makan makanan sehat dan bergizi. Social-distancing dikondisikan. Perilaku hidup bersih dan sehat sesuai protokol kesehatan. Mengatur ulang jumlah siswa per-kelas, jam istirahat, jam belajar, dan kerumunan keluar masuk sekolah. Keharusan mengajar 24 jam harus ditinjau ulang. Tata kelola Pendidikan harus diperbarui.

Untuk melakukan pendidikan era new normal, di mana saja bisa dilakukan yang penting aman, bisa di sekolah bisa juga di rumah. Pembelajaran dapat dilakukan secara online (daring), offline (luring), dan campuran daring-luring (blended learning). Dalam mewujudkan pendidikan era new normal maka perlu kerjasama guru, orang tua, dan siswa sebagai “Tri pusat pendidikan”, ditambah dengan sumber belajar terbuka dan dapat di akses oleh siswa dari mana saja. Pemerintah, pemerintah daerah, kepala sekolah, pengawas adalah aktor-aktor yang sangat menentukan keberlangsungan pendidikan new normal.

Kondisi objektif sekolah hari ini menurut survey internal, Prof. Unifah menjelaskan bahwa baru 45% jaringan internet masuk sekolah, siswa yang memiliki gadget terbatas, infrastruktur internet masih terbatas, cuaca dan letak geografis mempengaruhi kualitas koneksi, tegangan listrik tidak stabil dan sering terjadi pemadaman listrik, tidak ada tenaga khusus yang mengelola TIK di sekolah, guru terkadang merangkap teknisi, kurangnya kemampuan tenisi sekolah dalam mengelola jaringan, keterbatasan sarana dan prasarana TIK (kompouter/laptop), kurangnya pengetahuan guru dan siswa terhadap portal pembelajaran, lebih sering digunakan sebagai media komunikasi, 16% guru yang siap melakukan pembelajaran online, 46% guru yang baru mengenal pembelajaran online, kurikulum dan pelatiahan masih berorientasi konten dan pembelajaran terbiasa face to face relationship.

Kebijakan pendidikan yang kurang bermutu yang kini ditengarai telah melahirkan tata-kelola pendidikan yang kurang kondusif untuk melahirkan mutu dan keunggulan.

“Ibarat air yang keruh dari hulunya dan sulit memperoleh air bersih di hilirnya.” Pemeo ini mengatakan bahwa kebijakan yang buruk pasti melahirkan ekosistem tata-kelola pendidikan dan sistem operasi sekolah yang buruk, sehingga buruk pula dampaknya terhadap mutu pendidikan. Untuk itu, mutu pembelajaran hanya akan terwujud dalam ekosistem tata-kelola pendidikan yang kondusif, ini bergantung pada sistem hulunya, yaitu kebijakan yang bermutu.

Masa pandemi ini adalah momentum untuk kita melakukan hal-hal besar dan mendasar. Untuk mencegah penularan virus, sementara ini para siswa harus mematuhi protokol kesehatan, seraya melakukan berbagai upaya praktis agar pendidikan berjalan normal. Setelah pandemi berlalu, sekadar menormalkan praksis sekolah tidaklah cukup, yang diperlukan adalah transformasi, yaitu “desain besar” untuk merubah sistem pendidikan secara mendasar. Benang merahnya bukan menaikan APK atau APM seperti yang kini banyak dilakukan, tetapi melakukan perubahan menyeluruh dan mendasar kurikulum sekolah, baik dominasi kontennya maupun remodeling sistem pembelajarannya.

Untuk mewujudkan impian anak didik maka inovasi, riset, pengembangan model-model dan teknologi pembelajaran harus terus dikembangkan. Guru harus menjadi contoh bagi anak untuk berperilaku hidup sehat. Jika guru menjadi contoh maka anak-anak murid akan ikut.

Pada era pasca pandemi nanti, transformasi pendidikan akan sukses jika dalam kurikulum sekolah itu dirancang program-program pendidikan dengan standar-standar kompetensi yang jelas dan terukur. Kemendikbud harus merancang banyak aplikasi digital sistem mikro mulai dari pembelajaran, asesmen, pelatihan guru termasuk manajemen sekolah, baik online maupun offline. Untuk memastikan sistem mikro bekerja, kemdikbud juga perlu merancang berbagai aplikasi digital sistem makro tata-kelola pendidikan (seperti perencanaan guru, keuangan pendidikan, pendidikan guru, pengadaan sarana-prasarana, pengawasan dan sistem evaluasi.

Mengakhiri presentasinya, Prof Unifa mengakatakan, aplikasi mikro dan makro tersebut hanya dapat dilakukan ketika arah transformasi kurikulum dan pembelajaran sudah semakin kredibel dan akseptabel secara politis.

 

Kerentanan Anak Usia Dini Dan Anak Usia Sekolah Terhadap Covid-19

(Dr. dr. Aidah Juliaty A. Baso, Sp.A (K) )

Covid 19 pada anak :

  • Anak menunjukkan spektrum klinik dan laboratorik yang agak berbeda dibandingkan dengan dewasa. Mayoritas anak yang terkena adalah asimtomatik atau bergejala dan tanda ringan.

Covid 19 pada anak berbeda karena :

  • ACE2 Reseptor pada anak belum matur dan memiliki binding-ability yang rendah.
  • Perbedaan respon inflamasi terhadap patogen (kuantitatif dan kualitatif)
  • Antibodi Ibu

Imunitas pada anak :

  • Penurunan Jumlah CD4 sel T seiring bertambahnya usia.
  • Perubahan jumlah Limfosit T dikaitkan dengan perubahan dan atrofi timus.
  • Anak umumnya di rumah sehingga risiko menjadi sakit dan terinfeksi lebih rendah.

Menurut data IDAI, tren kasus Covid 19 pada anak menunjukkan peningkatan. pertanggal 1 Juni 2020, PDP anak sebanyak 4543 kasus, PDP meninggal sebanyak 163 anak, kasus konfirmasi sebanyak 955 kasus dan konfirmasi meninggal sebanyak 26 anak.

Kematian anak berdasarkan usia karena kasus covid 19 ditemukan pada usia 0-28 hari sebesar 4 persen, 29 hari – 11 bulan 29 hari sebesar 31 persen, usia 1 – 5 tahun 31 persen, usia 6 – 9 tahun 11 bulan 29 hari sebesar 7 persen dan usia 10 – 18 tahun sebesar 27 persen.

Anjuran IDAI menjelang akhir masa tanggap darurat covid 19 adalah :

  1. Dalam menyususun tatanan new normal, utamakan upaya pencegahan dan pemberantasan wabah covid 19,. Protokol kesehatan harus ketat, tentukan penentuan status infeksi dengan rapid test dan PCR, lakukan penelusuran kontak, karantina, isolasi dan pembatasan fisik
  2. Tatanan kehidupan normal baru disusun sesuai kebutuhan dasar tumbuh kembang dan kesehatan anak, untuk menentukan kualitas generasi bangsa dimasa depan.
  3. Upaya pemenuhan kebutuhan dasar tumbuh kembang dan kesehatan anak harus berjalan sesuai jadwal, seperti pelayanan kesehatan dasar : imunisasi, asuhan neonatal esensial, pemenuhan nutrisi, asuhan tumbuh kembang harus kembali berjalan optimal
  4. Pelayanan imunisasi harus diberikan untuk semua anak. Tidak lagi disarankan untuk menunda imunisasi, terutama bagi bayi dan anak yang sangat muda. Jika tertunda, harus merencanakan kembali untuk mengejar jadwal imunisasi anak.
  5. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan tetap dilakukan sesuai jadwal SDIDTK yang direkomendasikan kementerian kesehatan
  6. Kegiatan pendidikan anak usia dini sebaiknya dilakukan dirumah dalam lingkungan keluarga dlam bentuk stimulasi berbagai ranah perkembangan dengan penuh kasih sayang oleh anggota keluarga yang sehat.
  7. Kegiatan pembelajaran bagi anak usia sekolah dan remaja sebaiknya tetap dilaksanakan dalam pembelajaran jarak jauh mengingat kemungkinan bulan juli wabah belum teratasi dengan baik.
  8. Tatanan kehidupan normal baru harus tetap mengutamakan pembatasan fisik untuk mencegah penyebaran covid 19
  9. Pelonggaran, terlebih lagi penghentian psbb harus didasarkan analisi epidemiologis secara seksama
  10. Tetap menjaga kesehatan dengan nutrisi lengkap dan seimbang, istirahat cukup, dan aktifitas fisik sesuai usia
  11. Setiap anggota IDAI dihimbau untuk siap bekerja sama dengan berbagai pihak dalam mempersiapkan tatanan kehidupan normal baru. Koordinasi dilakukan melalui satuan tugas covid 19 IDAI.

Anjuran IDAI mengenai kegiatan belajar mengajar dimasa pandemi covid 19 :

  1. IDAI mendukung dan mengapresiasi kebijakan kementerian pendidikan dan kebudayaan untuk menjadikan rumah sebagai sekolah dan melibatkan peran aktif siswa, guru dan orang tua dalam proses belajar mengajar
  2. IDAI menganjurkan agar kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan melalui skema pembelajaran jarak jauh baik secara dalam jaringan maupun luar jaringan menggunakan modul belajar dari rumah yang sudah disediakan oleh kemendikbud.
  3. Anjuran untuk melanjutkan pembelajaran jarak jauh ini akan dievaluasi secara berkala. Mengantisipasi lonjakan kasus kedua, sebaiknya sekolah tidak dibuka sampai bulan Desember 2020. Pembukaan kembali sekolah-sekolah dapat dipertimbangkan jika jumlah kasus covid 19 telah menurun.
  4. Apabila sudah memenuhi syarat epidemiologi untuk kembali membuka sekolah, maka IDAI menghimbau agar semua pihak dapat bekerja sama dengan cabang-cabang IDAI sesuai area yang sudah memenuhi syarat pembukaan. Perencanaan meliputi kontrol epidemi, kesiapan sistem layanan kesehatan dan sistem surveilans kesehatan untuk mendeteksi kasus baru dan pelacakan epidemiologi.
  5. Untuk keperluan ekstrapolasi data secara akurat maka IDAI menyarankan agar pemerintah dan pihak swasta melakukan pemeriksaan Rapid Test dan PCR secara massif (30 kali lipat dari jumlah kasus konfirmasi covid 19) termasuk juga pada kelompok usia anak.

Pada akhir penyajiannya, dr. Aidah menyarankan kepada semua orang tua, terutama yang masih mempunyai anak usia dini, untuk tetap memantau tumbuh kembang anaknya. Anak memerlukan perhatian khusus disebabkan oleh adanya Fase Tumbuh Kembang ini. Pada fase tumbuh kembang inilah ditentukan kualitas generasi bangsa ke depan.

 

Pembukaan Tahun Ajaran Baru pada Era New Normal (Perpektif Kebijakan Publik)

(Dr. Chazali situmorang.,Apt., M.Sc.)

Sebagai pengantar, menurut pakar Kebijakan Publik ini, kebijakan itu hanya dikeluarkan oleh pemerintah bukan oleh pengamat ataupun masyarakat. Karena itu, ketika berbicara kebijakan publik berarti berbicara masalah kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Kebijakan publik yang bagus adalah kebijakan yang melihat substansi kebijakan, implementasi dan evaluasi kebijakan. Banyak kebijakan secara konsep indah namun minim implementasi, disisi lain terdapat implementasi namun tidak tepat sasaran maka perlu dilakukan evaluasi kebijakan dimana parameter perlu ditentulkan, manfaat dan implikasinya.

Kebijakan tahun ajaran baru dalam new normal life harus memberikan jaminan aman berupa keamanan anak-anak dan terbebas dari risiko transmisi virus di lingkungan sekolah, selain itu juga menjamin kesehatan dengan memenuhi konsumsi agar terjaga imunitas tubuh dan bagaimana aktivitas pendidikan di kehidupan normal dapat produktif sehingga dapat memenuhi target proses belajar mengajar itu harus dapat tercapai, supaya kualitas murid-murid itu tetap terjaga. Jangan karena Covid ini menyebabkan menurunnya mutu pendidikan.

Secara substansi new normal belum ada regulasinya secara nasional, adapun ide/gagasan pemerintah pusat masih berputar di birokrasi dan belum menyentuh ke lapisan masyarakat, selain itu new normal masih bergantung pada persepektif sektoral/kementrian, sehingga besar kemungkinan terjadi perbedaan cara pandang dan sikap. Pada masa new normal juga ada fase transisi dan belum sesuai dengan standar WHO sebagai syarat penerapan New Normal life

Dari formulasi kebijakan New Normal harus berbeda dari aspek sosial, ekonomi dan perilaku sehat dimasyarakat, dan yang menjadi tantangan adalah sanggupkah pemerintah membuat protokol di setiap satuan, misalnya pendidikan sehingga akan tetap mengikuti protokol dan syarat-syarat kesehatan yang telah ditentukan WHO.

Sebagai bentuk evaluasi dari penerapan kebijakan diperlukan parameter yang digunakan, manfaat dan implikasinya. Rekomendasi menurut pakar kebijakan publik terkait new normal dalam satuan pendidikan yaitu :

  1. Untuk anak sekolah dasar harus lebih hati-hati dan kuat dalam proses pengawasannya.
  2. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) agar digalakkan untuk pengawasan kesehatan setiap hari
  3. Pemberian makanan tambahan, gizi, dan vitamin
  4. Mengatur jumlah makanan tambahan, gizi, dan vitamin
  5. Mengatur jumlah murid setiap kelas dan memberlakukan batas maksimum perkelas
  6. Agar sebaiknya guru dibekali dengan pengetahuan praktis tentang Covid-19 dan gejala klinisnya
  7. Komunikasi lebih dimaksimalkan antara orang tua dengan guru terkait aktivitas masing-masing saat di sekolah maupun di rumah

Adapun rekomendasi tersebut jika dilakukan masih sangat dibutuhkan kerjasama lintas sektoral agar tercipta sebuah lingkungan yang aman bagi anak.

 

Pembukaan Tahun Ajaran Baru pada Era New Normal dalam Perspektif Kesehatan Masyarakat

(Dr. Aminuddin Syam, SKM., M.Kes., M.Med.Ed)

Menurut Aminuddin Syam, hingga saat ini belum ada kesepakatan pakar tentang perbedaan daya tahan tubuh antara anak-anak dan orang dewasa terkait dengan Covid-19.  Di sisi lain Covid-19 memiliki karakteristik yaitu agresif dengan tingkat penularan antar manusia yang tinggi, pola penyebaran yang luas dan berjalan dengan cepat, dapat menempel dan bertahan hidup pada permukaan benda, risiko komplikasi dan tingkat Fatality Rate yang tinggi. Hal ini berdampak pada berbagai bidang termasuk bidang pendidikan yang tercermin dari metode pembelajaran on site menjadi on line (Study From Home atau Belajar Dari Rumah)

Belajar dari rumah memiliki banyak tantangan di antaranya guru dituntut produktif dan kreatif agar bisa menggelar kegiatan belajar mengajar secara daring sama efektifnya dengan tatap muka. Selain itu diperlukan infrastruktur teknologi yang memadai dan koneksi internet yang stabil. Ketersediaan perangkat komunikasi seperti smartphone atau laptop akan mengakibatkan kesenjangan yang semakin tajam. Juga dibutuhkan biaya yang cukup besar untuk mengakses seluruh kelas yang digelar secara online (School is closed, but learning is open). Selain itu distraksi konten lain yang ada di internet selama proses belajar (sosial media, game, movie, dll) sehingga dibutuhkan kolaborasi yang baik antara guru dan orang tua.

Pembukaan sekolah di masa pandemi yang belum selesai berpotensi memunculkan klaster baru. Kita bisa mengambil lesson learned dari beberapa negara di Eropa, seperti Finlandia, Prancis, dan Inggris, yang memiliki sistem kesehatan yang baik dan membuka kembali sekolah dengan persiapan yang matang dan protokol kesehatan yang ketat, ternyata juga tidak aman dan malah menimbulkan klaster baru di lingkungan sekolah.

Pemerintah, Guru, Orang Tua dan Siswa sendiri harus berperan dan menyadari perannya masing-masing dalam menjalankan protokol new normal di Sekolah, rumah, dan moda transportasi umum.

Pada akhir paparan, Aminuddin Syam memberikan beberapa rekomendasi yaitu

  1. Jika terpaksa sekolah harus dibuka maka pemerintah harus menyusun protokol New Normal di sekolah yang spesifik menurut jenjang (TK-PAUD, SD, SMP, SMA) . Pendekatan harus berbeda untuk jenjang pendidikan yang berbeda.
  2. Spare waktu yang cukup untuk sosialisasi dan penyiapan sarana & prasarana
  3. Melakukan deteksi dini secara aktif dan respon segera jika ditemukan kasus
  4. Rekomendasi Upaya kesiapsiagaan kluster baru dari sekolah: kapasitas ruang perawatan, tenaga kesehatan, APD, penyediaan media dan teknologi pembelajaran untuk menyelenggarakan SFH yang efektif
  5. Sebagai upaya preventif, sangat ideal menunda tahun ajaran baru sampai Covid-19 dinyatakan terkendali.

 

Normal Baru Berbasis Hak Anak

(Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si )

Hak dasar yang dimiliki anak adalah hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk dilindungi dan hak untuk berpartipasi. Anak-anak memiliki kesenangan untuk belajar, senang bermain, senang bergerak, senang berpeluang, senang mencoba dan kreatif, dan senang melawan. Dunia anak adalah dunia bermain sehingga jika terpaksa harus belajar di rumah saja, jangan terlepas dari nuansa gembira saat bermain. Kalau perlu juga melibatkan unsur R.T.-R.W. Namanya rukun tetangga, jadi harus juga rukun dalam menghadapi Covid-19 dalam berbagai kekompakan. Salah satu seksi perlindungan anak di tingkat R.T., dikenal SPARTA  (Seksi Perlindungan Anak Rukun Tetangga).

Pendidikan karakter adalah inti dari pendidikan yaitu etika dan suasana penuh kasih sayang, maka stop kekerasan dalam dunia pendidikan jika terpaksa belajar di rumah. Belajar tidak harus dengan kekerasan. Kekerasan pada anak hanya akan merusak karakter anak. Impian anak adalah sekolah dan di rumah yang ramah anak. Dan hindari anak untuk menatap layar televisi dan gadget.

Sekolah rumah merupakan proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua/keluarga di rumah dan tempat-tempat lain dalam suasana gembira agar potensi unik dari setiap anak dapat berkembang optimal. Kelebihan sekolah di rumah bisa memberikan perhatian kepada anak, lebih mandiri, lebih kreatif, cocok pada anak berkebutuhan khusus, jauh dari pergaulan negatif, siap untuk kehidupan yang nyata dan kegiatan yang fleksibel.

Kunci sukses menghadapi anak harus kreatif. Saat ini, saat terpaksa belum bisa sekolah, jangan dipaksa. Tahun ajaran baru, kurikulum baru bisa dimulai dipertengahan Juni, tapi sekolah boleh tetap di rumah saja dulu.

Pendidikan profesional bisa dilakukan dengan cara menyanyi, mendongeng, melawak, menceritakan tokoh, bermain sulap dan lainnya. Membuat suasana belajar yang menarik adalah salah satu cara agar anak nyaman di rumah.

Sebelum mengakhiri penyajiannya, Kak Seto menyempatkan untuk membawa lagu yang berjudul “Mendidik Dengan Cinta.”

MENDIDIK DENGAN CINTA

Semua anak merindukan

Kasih sayang kita

Mari terus mendidiknya

Penuh senyuman

Jangan mulai sekolah dulu

Bila belum aman

Mari mendidik anak tetap

Di rumah dulu

Mari mendidik anak dengan

Kekuatan CINTA.

Demikian, semoga rangkuman diskusi ini bermanfaat bagi semuanya. Salam Sehat Indonesia. (Sy)