Ketua Umum PGRI: Pendidikan Di Era New Normal Harus Beradaptasi Dengan Kebiasaan Baru

Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd – Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)

SadarGizi.com – Pendidikan pada era new normal harus beradaptasi dengan kebiasaan baru agar para siswa dan guru dan warga sekolah terlindung dari wabah, dan dapat belajar kembali dengan normal. Para siswa, guru, dan warga sekolah dikondisikan agar mematuhi protokol kesehatan. Karena keselamatan dan kesehatan menjadi pertimbangan utama pada era new normal. Namun, hak anak untuk memperoleh layanan pendidikan juga harus tetap terlayani. Dengan demikian, dapat membawa pendidikan kita memasuki sistem yang baru, yang intinya adalah mengubah perilaku keseharian yang mungkin baru sama sekali.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd dalam diskusi virtual pada hari Sabtu (6/6) yang diselenggarakan oleh Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Literasi Sehat Indonesia (Lisan) dan, Departemen Kesehatan BPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan.

Cara yang tepat melakukan pendidikan pada era new normal adalah siswa harus didorong untuk melakukan kebiasaan hidup bersih, seperti menggunakan masker, cuci tangan, olah raga serta makan makanan sehat dan bergizi. Social-distancing dikondisikan. Perilaku hidup bersih dan sehat sesuai protokol kesehatan. Mengatur ulang jumlah siswa per-kelas, jam istirahat, jam belajar, dan kerumunan keluar masuk sekolah. Keharusan mengajar 24 jam harus ditinjau ulang. Tata kelola Pendidikan harus diperbarui, ucap Prof. Unifah.

Untuk melakukan pendidikan era new normal, di mana saja bisa dilakukan yang penting aman, bisa di sekolah bisa juga di rumah. Pembelajaran dapat dilakukan secara online (daring), offline (luring), dan campuran daring-luring (blended learning). Dalam mewujudkan pendidikan era new normal maka perlu kerjasama guru, orang tua, dan siswa sebagai “Tri pusat pendidikan”, ditambah dengan sumber belajar terbuka dan dapat di akses oleh siswa dari mana saja. Pemerintah, pemerintah daerah, kepala sekolah, pengawas adalah aktor-aktor yang sangat menentukan keberlangsungan pendidikan new normal.

Kondisi Objektif Sekolah

Kondisi objektif sekolah hari ini menurut survey internal, Prof. Unifah menjelaskan bahwa baru 45% jaringan internet masuk sekolah, siswa yang memiliki gadget terbatas, infrastruktur internet masih terbatas, cuaca dan letak geografis mempengaruhi kualitas koneksi, tegangan listrik tidak stabil dan sering terjadi pemadaman listrik, tidak ada tenaga khusus yang mengelola TIK di sekolah, guru terkadang merangkap teknisi, kurangnya kemampuan tenisi sekolah dalam mengelola jaringan, keterbatasan sarana dan prasarana TIK (kompouter/laptop), kurangnya pengetahuan guru dan siswa terhadap portal pembelajaran, lebih sering digunakan sebagai media komunikasi, 16% guru yang siap melakukan pembelajaran online, 46% guru yang baru mengenal pembelajaran online, kurikulum dan pelatiahan masih berorientasi konten dan pembelajaran terbiasa face to face relationship.

Kebijakan pendidikan yang kurang bermutu yang kini ditengarai telah melahirkan tata-kelola pendidikan yang kurang kondusif untuk melahirkan mutu dan keunggulan.

“Ibarat air yang keruh dari hulunya dan sulit memperoleh air bersih di hilirnya.” Pemeo ini mengatakan bahwa kebijakan yang buruk pasti melahirkan ekosistem tata-kelola pendidikan dan sistem operasi sekolah yang buruk, sehingga buruk pula dampaknya terhadap mutu pendidikan. Untuk itu, mutu pembelajaran hanya akan terwujud dalam ekosistem tata-kelola pendidikan yang kondusif, ini bergantung pada sistem hulunya, yaitu kebijakan yang bermutu.

Masa pandemi ini adalah momentum untuk kita melakukan hal-hal besar dan mendasar. Untuk mencegah penularan virus, sementara ini para siswa harus mematuhi protokol kesehatan, seraya melakukan berbagai upaya praktis agar pendidikan berjalan normal. Setelah pandemi berlalu, sekadar menormalkan praksis sekolah tidaklah cukup, yang diperlukan adalah transformasi, yaitu “desain besar” untuk merubah sistem pendidikan secara mendasar. Benang merahnya bukan menaikan APK atau APM seperti yang kini banyak dilakukan, tetapi melakukan perubahan menyeluruh dan mendasar kurikulum sekolah, baik dominasi kontennya maupun remodeling sistem pembelajarannya.

“Untuk mewujudkan impian anak didik maka inovasi, riset, pengembangan model-model dan teknologi pembelajaran harus terus dikembangkan. Guru harus menjadi contoh bagi anak untuk berperilaku hidup sehat. Jika guru menjadi contoh maka anak-anak murid akan ikut.” tutur Prof. Unifah.

Pada era pasca pandemi nanti, transformasi pendidikan akan sukses jika dalam kurikulum sekolah itu dirancang program-program pendidikan dengan standar-standar kompetensi yang jelas dan terukur. Kemendikbud harus merancang banyak aplikasi digital sistem mikro mulai dari pembelajaran, asesmen, pelatihan guru termasuk manajemen sekolah, baik online maupun offline. Untuk memastikan sistem mikro bekerja, kemdikbud juga perlu merancang berbagai aplikasi digital sistem makro tata-kelola pendidikan (seperti perencanaan guru, keuangan pendidikan, pendidikan guru, pengadaan sarana-prasarana, pengawasan dan sistem evaluasi. Harap Prof. Unifah. (Sy)