Anak Dinilai Rentan, Begini Anjuran IDAI Jelang Akhir Masa Darurat Covid 19 Dan Kegiatan Belajar Mengajar

  • Dr. dr. Aidah Juliaty A. Baso, Sp.A (K)

  • SadarGizi.com – Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menemukan tren kasus Covid 19 pada anak menunjukkan peningkatan. Pertanggal 1 Juni 2020, PDP anak sebanyak 4543 kasus, PDP meninggal sebanyak 163 anak, kasus konfirmasi sebanyak 955 kasus dan konfirmasi meninggal sebanyak 26 anak. Sementra kematian anak berdasarkan usia karena kasus covid 19 ditemukan pada usia 0-28 hari sebesar 4 persen, 29 hari – 11 bulan 29 hari sebesar 31 persen, usia 1 – 5 tahun 31 persen, usia 6 – 9 tahun 11 bulan 29 hari sebesar 7 persen dan usia 10 – 18 tahun sebesar 27 persen.

Dr. dr. Aidah Juliaty A. Baso, Sp.A (K) dalam diskusi virtual pada hari Sabtu (6/6) yang diselenggarakan oleh Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Literasi Sehat Indonesia (Lisan) dan, Departemen Kesehatan BPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), menjelaskan bahwa kerentanan pada anak terhadap covid 19 disebabkan oleh ACE2 Reseptor pada anak belum matur dan memiliki binding-ability yang rendah, perbedaan respon inflamasi terhadap patogen (kuantitatif dan kualitatif) dan biasanya dipengaruhi oleh antibodi Ibu.

Tingginya tren kasus covid 19 pada anak, dr. Aidah yang juga merupakan pengrus IDAI dengan merujuk data dari IDAI menganjurkan bahwa menjelang akhir masa tanggap darurat covid 19 perlu memperhatikan hal-hal berikut :

  1. Dalam menyususun tatanan new normal, utamakan upaya pencegahan dan pemberantasan wabah covid 19. Protokol kesehatan harus ketat, tentukan penentuan status infeksi dengan rapid test dan PCR, lakukan penelusuran kontak, karantina, isolasi dan pembatasan fisik;
  2. Tatanan kehidupan normal baru disusun sesuai kebutuhan dasar tumbuh kembang dan kesehatan anak, untuk menentukan kualitas generasi bangsa dimasa depan;
  3. Upaya pemenuhan kebutuhan dasar tumbuh kembang dan kesehatan anak harus berjalan sesuai jadwal, seperti pelayanan kesehatan dasar : imunisasi, asuhan neonatal esensial, pemenuhan nutrisi, asuhan tumbuh kembang harus kembali berjalan optimal;
  4. Pelayanan imunisasi harus diberikan untuk semua anak. Tidak lagi disarankan untuk menunda imunisasi, terutama bagi bayi dan anak yang sangat muda. Jika tertunda, harus merencanakan kembali untuk mengejar jadwal imunisasi anak;
  5. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan tetap dilakukan sesuai jadwal SDIDTK yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan;
  6. Kegiatan pendidikan anak usia dini sebaiknya dilakukan di rumah dalam lingkungan keluarga dalam bentuk stimulasi berbagai ranah perkembangan dengan penuh kasih sayang oleh anggota keluarga yang sehat;
  7. Kegiatan pembelajaran bagi anak usia sekolah dan remaja sebaiknya tetap dilaksanakan dalam pembelajaran jarak jauh mengingat kemungkinan bulan Juli wabah belum teratasi dengan baik;
  8. Tatanan kehidupan normal baru harus tetap mengutamakan pembatasan fisik untuk mencegah penyebaran covid 19;
  9. Pelonggaran, terlebih lagi penghentian PSBB harus didasarkan analisi epidemiologis secara seksama;
  10. Tetap menjaga kesehatan dengan nutrisi lengkap dan seimbang, istirahat cukup, dan aktifitas fisik sesuai usia; dan
  11. Setiap anggota IDAI dihimbau untuk siap bekerja sama dengan berbagai pihak dalam mempersiapkan tatanan kehidupan normal baru. Koordinasi dilakukan melalui satuan tugas covid 19 IDAI.

Terkait kegiatan belajar mengajar dimasa pandemi covid 19 yang direncanakan oleh pemerintah akan dibuka pada bulan Juni 2020,  dr. Adiah menjelaskan bahwa IDAI menganjurkan :

  1. IDAI mendukung dan mengapresiasi kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menjadikan rumah sebagai sekolah dan melibatkan peran aktif siswa, guru dan orang tua dalam proses belajar mengajar;
  2. IDAI menganjurkan agar kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan melalui skema pembelajaran jarak jauh baik secara dalam jaringan maupun luar jaringan menggunakan modul belajar dari rumah yang sudah disediakan oleh kemendikbud;
  3. Anjuran untuk melanjutkan pembelajaran jarak jauh ini akan dievaluasi secara berkala. Mengantisipasi lonjakan kasus kedua, sebaiknya sekolah tidak dibuka sampai bulan Desember 2020. Pembukaan kembali sekolah-sekolah dapat dipertimbangkan jika jumlah kasus covid 19 telah menurun;
  4. Apabila sudah memenuhi syarat epidemiologi untuk kembali membuka sekolah, maka IDAI menghimbau agar semua pihak dapat bekerja sama dengan cabang-cabang IDAI sesuai area yang sudah memenuhi syarat pembukaan. Perencanaan meliputi kontrol epidemi, kesiapan sistem layanan kesehatan dan sistem surveilans kesehatan untuk mendeteksi kasus baru dan pelacakan epidemiologi; dan
  5. Untuk keperluan ekstrapolasi data secara akurat maka IDAI menyarankan agar pemerintah dan pihak swasta melakukan pemeriksaan Rapid Test dan PCR secara massif (30 kali lipat dari jumlah kasus konfirmasi covid 19), termasuk juga pada kelompok usia anak.

Dosen Departemen Fakultas Kedokteran Unhas ini juga menyarankan kepada semua orang tua, terutama yang masih mempunyai anak usia dini, untuk tetap memantau tumbuh kembang anaknya. Anak memerlukan perhatian khusus disebabkan oleh adanya fase tumbuh kembang ini. Pada fase tumbuh kembang inilah ditentukan kualitas generasi bangsa ke depan. (Sy)