dr. Abdul Azis; Banyak Isu Simpang Siur, Pemerintah Perlu Menyediakan Media Center Untuk Mengedukasi Masyarakat

dr. Abdul Azis, Sp.U. – Ketua Satuan Tugas Covid-19 IDI Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat

SadarGizi.com – Beberapa hari terakhir, masyarakat Indonesia diresahkan dengan isu-isu yang simpang siur dalam situasi pandemi covid 19. Isu tersebut menuding profesi tenaga kesehatan melakukan konspirasi ditengah pandemi covid 19.

Isu tersebut menarik simpati ketua satuan tugas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, dr. Abdul Azis, Sp.U. Hal itu disampaikan dalam diskusi virtual yang bertajuk “Suka Duka Relawan Medis Covid 19”, Senin (15/06) yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian dan Konsultasi Pembangunan Kesehatan (LK2PK), Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (KoaLizi) dan Departemen Kesehatan BPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan.

dr. Azis yang juga merupakan relawan covid 19 menyayangkan sikap dari oknum-oknum yang sengaja memprofokasi masyarakat. Sehingga mengharapkan kehadiran pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut.
“Ada oknum yang membuat situasi tidak kondusif. Untuk itu, kehadiran pemerintah seharusnya ada untuk menenangkan masyarakat. Sehingga tidak menjadikan profesi tenaga kesehatan menjadi reaktif. Media center sangat penting untuk dibuat untuk menjadi sumber informasi. Yang memuat tentang target, capain dan kinerja yang telah dilakukan oleh pemerintah sehingga masyarakat bisa bersama untuk menangani covid-19.”

Sebagai relawan yang terlibat langsung dalam penanganan covid 19, dr. Azis mengungkapkan bahwa banyak hal yang membuat kendala bagi relawan. Di antaranya adalah edukasi kurang massif dan kebijakan dari pemerintah yang simpang siur. Sehingga dokter dan tenaga kesehatan menjadi korban dari kebijakan pemerintah yang menganggarkan biaya perawatan terhadap pasien covid-19.

“Ini tidak dijelaskan secara mendetail. Padahal di Makassar ini dana-dana besar digunakan untuk membangun fasilitas kesehatan, membangun ruangan-ruangan hampir di seluruh rumah sakit pemerintah untuk melawan covid-19. Untuk tenanga kesehatan, sampai sekarang “satu sen” pun saya belum pernah lihat.

Menanggapi pengambilan paksa jenazah yang terjadi dimasyarakat, dr. Azis mengatakan bahwa karena mereka, masyarakat tidak mengerti. Sehingganya perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat.

“Ajak tokoh masyarakat, tokoh agama yang didengar masyarakat untuk bersama-sama mengedukasi mereka. Terkait ketidakpercayaan segelintir orang terhadap tenaga kesehatan, kita cukup menunjukkan apa kerja kita, apa capaian yang telah kita lakukan, dan target apa yang akan kita lakukan sehingga menjadi bahan edukasi kepada masyarakat agar kita tetap dapat dipercaya oleh masyarakat.”

Untuk meredam isu-isu dan tudingan oknum tertentu terhadap tenaga kesehatan melakukan konspirasi dengan WHO dalam situasi pandemi covid 19, dr. Azis menyarankan bahwa tenaga kesehatan tidak perlu terlalu reaktif. Sehingga menjadikan provokasi menjadi lebih besar.

“Seharusnya tenaga kesehatan tidak perlu terlalu reaktif. Kalau kita reaktif, masyarakat akan jauh lebih reaktif dari kita. Jadi kita harus melihat lebih jernih. Cukup kita klarifikasi saja. Sebagai profesi medis, kita harus introspeksi diri juga, apakah yang dikatakan oleh oknum-oknum itu benar atau tidak, apakah kita harus mempolisikan mereka. Kemudian kita harus mengetahui tugas dan tanggung jawab masing-masing.”

Sebagai program untuk mememerangi penularan covid-19, saat ini satuan tugas Covid-19 IDI Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat membuat alur rumah sakit sesuai standar kementerian kesehatan dan WHO, sehingga masyarakat tidak tertular covid-19. Tutur dr. Azis. (Sy)