dr. Hartati; Menjadi Relawan Adalah Jalan Panjang Pengabdian

dr. Hartati B. Bangsa – Koordinator Medis RSDC Wisma Atlet

SadarGizi.com – Relawan adalah seorang yang secara suka rela menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran dan keahliannya untuk menolong orang lain. Dalam situasi pandemi covid 19 saat ini banyak yang rela berkorban untuk menjadi relawan khususnya tenaga medis. Namun, pengorbanan relawan medis tersebut banyak mendapat tudingan negatif dari oknum-oknum yang tidak memahami kondisi relawan medis. Bahkan, keberadaan relawan diasumsikan ingin disebut pahlawan.

Dalam diskusi virtual yang bertajuk “Suka Duka Relawan Medis Covid 19”, Senin (15/06) yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian dan Konsultasi Pembangunan Kesehatan (LK2PK), Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (KoaLizi) dan Departemen Kesehatan BPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, dr. Hartati B. Bangsa, menjelaskan pengalamannya ketika menjadi relawan di RSDC Wisma Atlet.

dr. Tati sapaan akrab dr. Hartati B. Bangsa, menjelaskan bahwa menjadi relawan atau aktivis kemanusiaan ini adalah jalan panjang pengabdian, bagi saya ini adalah panggilan jiwa. Dengan atau tidak disematkan sebagai “pahlawan” jalan ini akan tetap kami tempuh dan lakoni.

“Bagi kami yang berjuang digaris akhir masa pandemik ini, keluar dari redzone (area terisolir dengan high risk transmision) dalam keadaan hidup atau tidak terinfeksi covid19 saja kami sudah cukup bersyukur .“

Sebagai dokter perempuan pertama sekaligus koordinator medis RSDC Wisma Atlet, dr. Tati mengungkapkan bahwa menjadi relawan pertama kali, jaminan kesehatan ataupun kecelakaan saja tak terpikirkan apalagi soal insentif.

“Kami tidak pernah berpikir soal itu, karena memang belum ada kebijakan apa-apa saat tim relawan medis di gelombang pertama saya recrut. Kami hanya saling menyemangati dan saling menjaga satu sama lain bahwa ini adalah perjuangan kita bersama.”

Jika masyarakat paham dengan kondisi medis, maka oknum yang sekarang menuding negatif relawan tidak akan melakukannya. Karena banyak kondisi sulit yang dialami relawan medis.

“awal recruitment relawan medis, kendala yang dihadapi adalah sulitnya relawan mendapatkan surat izin dari orangtua atau keluarga. Banyak yang mengundurkan diri oleh sebab tersebut. Saya ingat betul, saat diresmikan tanggal 23 Maret 2020, pukul 18.00 WIB kurang lebih 250 pasien mengantri untuk diberikan layanan, hari kedua sebanyak 300 pasien. Yang paling berat adalah menguatkan mental pasien sementara mental kami sendiri down. Saat itu, jumlah kami masih sedikit, terbagi dalam 5 tim. Setiap tim berjumlah 5 – 6 orang, bisa dibilang saya adalah relawan dokter sipil pertama yang bergabung bersama personil TNI dan Polri di RSDC wisma atlet. Kami menggunakan APD waktu itu bukan hanya delapan jam tapi sempat sampai 16 jam karena kondisi pasien tidak berhenti masuk dan harus melayani bila ada rujukan. Berat badan turun sampai 8 kg dalam 10 hari. Bagaimana tidak, saat itu kami 1 dokter bisa mencover 5 – 10 lantai. Yang setiap lantai terisi hampir  50 – 60 Pasien”

Jika ditanya perasaan saya saat itu ketika menjadi relawan, rasa was–was, gelisah dan ketakutan, tapi tetap semangat bekerja ikut campur aduk. Saya menerima hampir 200 panggilan telepon perhari dari keluarga, teman dan kerabat yang ikut mengkhawatirkan keadaan saya, terutama ibu. Tutur dr. Tati.

Sebagai relawan sekaligus koordinator medis RSDC Wisma Atlet yang memahami kondisi pengabdian yang ditempuh relawan medis, bukan hanya terkontaminasi covid 19 bahkan banyak relawan medis yang meninggal dunia, dr. Tati berpesan bahwa tolong teman–teman pakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dan dekontaminasi ketat. Pesan dr. Tati. (Sy)