Suka Duka Relawan Medis Covid 19 RSDC Wisma Atlet

dr. Muh. Fachrurrozy Basalamah – Relawan Medis RSDC Wisma Atlet / Direktur Bakornas LKMI PB HMI

Oleh : Muh. Fachrurrozy Basalamah

Menjadi relawan bukan hal yang pertama bagi saya, karena sebelumnya saya sering terjun sebagai relawan seperti relawan banjir, tsunami, gempa bumi dan bencana-bencana lainnya. Tapi menjadi relawan medis covid 19 menjadi pengalaman yang sangat berbeda dari saya. Perbedaannya adalah melawan bencana yang tak terlihat bahkan akhir dari bencana ini, tidak ada yang tahu, sehinggga hal tersebut membuat para relawan medis covid 19 haru bekerja ekstra termasuk saya.

Dari awal pandemi ini, saya sebagai direktur Bakornas LKMI PB HMI telah bekerjasama dengan organisasi-organisasi kemahasiswaan, kesehatan dan lainnya, seperti KAHMI, KNPI dan beberapa OKP Cipayung langsung terjun untuk berbagi masker, hand senitizer, sembako, dan makanan kepada masyarakat yang membutuhkan. Dan sampai saat ini kegiatan tersebut masih berjalan berupa giat berkampanye serta memberikan edukasi kepada seluruh lapisan masyarakat.

Selain itu, saya sebagai direktur LKMI bekerjsama sama dengan PB HMI mengadakan rapid test gratis kepada para tenaga medis yang dilaksanakan di sekretariat PB HMI pada pertengahan april lalu. Setelah itu karena rasa kemanusian saya medorong untuk lebih aktif lagi, saya pun memberanikan diri dan memilih RSDC wisma atlet untuk menjadi relawan medis disini.

Sebenarnya, dihari pertama menjadi relawan di RSCD Wisma Atlet pasti ada rasa takut karena akan menghadapi pasien yang positif. Tapi, ini sudah menjadi pilihan saya dan dengan tekad yang kuat.

Awalnya orang tua juga keberatan dengan pilihan saya menjadi relawan medis di Wisma Atlet, tapi saya berusaha menjelaskan baik-baik ke orang tua dan alhamdulillah seiring berjalannya waktu mereka sudah menerima karena ini tanggungg jawab saya yang telah disumpah sebagai dokter. Disitu ada tanggung jawab besar yang menjadikan seorang dokter untuk berani berada di garda terdepan atas dasar kemanusiaan.

Dengan niat baik dan tulus dan yakin Allah selalu berada disamping kita dan sebagai dokter ini merupakan sebuah amanah yang harus dikerjakan, dan orang tua juga menyampaikan bahwa jangan pernah menyusahkan orang tua, karena seorang dokter harus siap kapan saja untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan, maka jalan menjadi relawanpun saya tempuh. Intinya, perjuangan orang tua sehingga saya bisa menjadi dokter merupakan penyemangat bagi saya dalam setiap pekerjaaan.

Dalam perjalan saya menjadi relawan saya menemukan didalam RSDC Wisma Atlet terkumpul semua teman-teman dari berbagai profesi kesehatan, baik dokter, perawat, apoteker, petugas lab, dan tenaga medis lainnya. Mereka semua berasal dari berbagai daerah, suku, dari berbagai almamater saling membantu, bekerjasama, bahu membahu, dan saling menyemangati. Seiiring proses adaptasi, alhamdulillah kami bisa menyesuaikan diri. Inilah yang membuat saya terkesan dan juga membuat  saya semakin bersemangat membantu masyarakat Indonesia melawan covid-19 ini.

Hal menarik selama menjadi relawan, salah satunya ketika memakai APD, biasanya saya memakai APD delapan jam, dan memakai dua masker, membuat udara yang kami hirup sangat terbatas, tapi kami siap  berperang.

Di RSDC Wisma Atlet kami terbagi menjadi lima tim jaga dan  saya berada di tim dua. Setiap tim dipimpin oleh ketua tim, dimana di tim saya dipimpin oleh dr. Indranu, dan dr. dodi. Tugas kami adalah selalu memantau pasien dari obat, terapi hingga kami memfollow up satu per satu.

Sebagai relawan dengan berbagai macam profesi didalamnya, dalam sehari kami dibagi dalam tiga tim. Jadi setiap tim itu delapan jam waktu jaganya. Dan kami saling melengkapi antar tim. Alhamdulillah sampai sekarang sudah banyak pasien yang negatif covid 19 dan dinyatakan sembuh.

Salah satu tantangan selama menjadi relawanmedis covid 19 yaitu selama jaga delapan jam lamanya, kita harus menahan BAK dan BAB. Hal ini secara pribadi menjadi tantangan tersendiri buat saya. Bahkan selama delapan jam kita tidak boleh makan dan minum, tapi sebagai seorang muslim yang sering menjalankan ibadah puasa maka lapar sudah tidak menjadi kendala.

Selama menjadi relawan, saya pernah down karena memang kondisi saya menurun drastis. Mungkin karena kurang istirahat, tapi alhamdulillah hal tersebut tidak membuat saya mundur sedikit pun. Saya tetap bersemangat berjuang melawan badai ini.

Di RSDC Wisma Atlet fasilitas buat kami sebagai relawan cukup terjamin, sehingga kami relawan juga tetap semangat membantu. Banyak relawan tim medis di sini betah menjadi relawan tim medis di RSDC dan terus memperpanjang gelombang menjadi relawan tim medis.

Motivasi saya sehingga masih bertahan menjadi relawan medis covid 19 sampai sekarang adalah yaitu semangat dari dalam diri untuk membantu mereka sampai sembuh dari covid-19.  Setiap saya bertugas menjadi relawan pasti saya sangat senang berdialog, bercerita, dan menyemangati setiap pasien disini dengan jarak 4-5 meter.  Saya semakin bersemangat dan sangat senang ketika melihat pasien sembuh dan keluar dari RSDC wisma atlet ini.

Dalam situasi pandemi covid 19 ini, mari kita tetap saling berpikir positif dan berharap kepada semua masyarakat untuk tetap rilex, tetap santai, dan jangan mudah terprovokasi dengan hoax yang bereder, apalagi diluar sana sudah banyak terprovokasi dengan teori konspirasi.

Intinya mari kita berjuang bersama-sama, mari kita saling dukung. Tolong jangan berpikir negatif sebab sudah banyak dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya yang terinfeksi (positif). Bahkan sudah banyak yang meninggal. Sangat disayangkan masih banyak masyarakat yang berpikiran negatif, yang mengganggap dokter mendapat keuntungan, astaghfirullahalladzim. Sekarang ini para tenaga medis berjuang bahkan sampai ada yang meninggal masa tetap dianggap mendapat keuntungan.

Pernah suatu waktu saya follow up seorang pasien, pasien tersebut bertanya mengenai konspirasi ini. Singkat cerita, saya hanya menyampaikan untuk mendengar hal-hal yang positif dan berbasis data, jangan mudah terprovokasi. Ungkapku kepada pasien tersebut.

Saya juga sebanrnya bingung ketika muncul pertanyaan dan tudingan seperti itu dengan kondisi yang saya alami sebagai relawan. Mari kita tetap saling mengedukasi dan saling berbagi berita postif. Dalam perang melawan pandemi ini, harus ada kerja sama antara pemerintah, masyarakat dan tenaga kesehatan. Bila salah satu komponen ini abai, maka pandemi ini akan semakin berkepanjangan.

“Mari kita saling mendukung dan memotivasi. Bukan saling menuding dan memprovokasi. Yakinlah tenaga kesehatan akan tetap bekerja dengan penuh tanggung jawab atas nama kemanusiaan dan sesuai dengan sumpah profesi masing-masing.”

Penulis adalah Relawan Medis RSCD Wisma Atlet & Direktur Bakornas LKMI PB HMI

*) Disampaikan dalam Diskusi Virtual “Suka Duka Relawan Medis Covis 19” Jumat (16/6) yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian dan Konsultasi Pembangunan Kesehatan (LK2PK), Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (KoaLizi) dan Departemen Kesehatan BPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS).