Psikolog: Inkonsistensi Kebijakan Pemerintah Dapat Menyebabkan Publik Stres

Dinuriza Lauzi, M.Psi – Psikolog, Penulis & Conten Creator

SadarGizi.com – Beberapa hari terakhir, masyarakat Indonesia diramaikan dengan taga Indonesia Terserah di media sosial. Hal ini merupakan reaksi stres dan emosi yang diakibatkan oleh kebijakan pemerintah yang inkonsisten. Kebijakan yang diputuskan pemerintah menjadi berbeda dalam penerapannya dilapangan sehingga menyebabkan kritikkan bahkan sikap apatis khususnya tenaga kesehatan.

Psikolog, Dinuriza Lauzi, M.Psi dalam diskusi virtual “Cerdas Mengelola Stres dan Emosi” Jumat (19/06) yang diselenggarakan oleh Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (KoaLizi) dan Departemen Kesehatan BPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) menyampaikan bahwa akibat dari tidak konsistennya antara kebijakan pemerintah dan fakta yang terjadi dilapangan sehingga menimbulkan stres yang memicu munculnya tagar Indonesia Terserah sebagai respon terhadap kondisi yang terjadi.

“Tidak ada perhargaan dan apresiasi terhadap pengabdian dan upaya yang telah dilakukan oleh tenaga kesehatan sehingga memicu emosi dari para tenaga kesehatan.”

Dinuriza yang juga merupakan penulis dan conten creator ini menjelaskan bahwa kejadian dan respon emosi bergantung pada apa yang kita butuhkan, apa skala prioritas kita, apa yang kita pikirkan dan berkaitan dengan kepribadian.

“Pada situasi dan kondisi covid 19, kebijakan pemerintah tergantung pada kepribadian yang dimilikinya. Ada yang memberikan respon emosi bahkan memicu kegaduhan dan ada yang menanggapi persoalan dengan tetap tenang.”

Sebagai psikolog, Dinuriza menyarankan bahwa untuk masyarakat agar terhindar dari stres dan emosi, yang perlu dilakukan adalah memilah media sosial atau berita-berita yang mampu mempengaruhi diri kita sehingga menghindarkan kita dari stress dan emosi, dan pentingnya kontrol emosi, dimana kita akan menentukan sikap apakah kita akan berdamai keadaan, atau melawan keadaan.

“Jika situasi sudah diluar control, yang perlu kita lakukan adalah mengidentifikasi perasaan yang kita alami, menyehatkan jiwa kita dengan kembali pada dimensi agama bahwa kita pasrahkan semuanya pada Tuhan dan melakukan self terapi atau terapi dengan mengikhlasan segala sesuatunya.” tutur Dinuriza (Sy)