Sosiolog; Covid 19 adalah Bencana Global, Pemerintah Haru Lebih Kompeten, Transparan Dan Mendisiplinkan Diri

Dr. Sawedi Muhammad, S.Sos, M.Sc – Sosiolog Universitas Hasanuddin

SadarGizi.com – Manusia selalu mengalami tingkat risiko seperti bencana alam, polusi, penyakit yang baru ditemukan, kejahatan, teroris, IT, Ardtificial Inteligen dan banyak lagi. Seperti halnya Covid 19, merupakan salah satu risiko umat manusia. Risiko tidak hanya memengaruhi kelas atau tempat sosial tertentu.

Hal ini disampaikan oleh Dr. Sawedi Muhammad, S.Sos, M.Sc, Jumat (19/6) dalam diskusi online bertajuk “Cerdas Mengelola Stres dan Emosi” yang diselenggarakan oleh Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (KoaLizi) dan Departemen Kesehatan BPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS).

Sawedi yang merupakan sosiolog dari Universitas Hasanuddin mengungkapkan bahwa risiko pandemi covid 19 adalah resiko antibias dan dapat memengaruhi semua orang, apa pun kelas Anda dan tidak mengenal batas wilayah.

“Tidak ada yang bebas dari risiko ini, apapun agama, suku dan jenis kelaminnya. Pandemi juga tidak mengenal wilayah, meskipun dimulai dari China karena besarnya arus traveling manusia, dengan cepat menyebar ke Jepang, korea selatan, hingga ke asia tenggara dalam hitungan jam.”

Lebih lanjut Sawedi menjelaskan bahwa ada tiga karakteristik resiko pandemi covid 19 yaitu delokalisasi; dimana covid 19 tidak mengenal lokasi, Incacaltulate risk; dimana biaya pandemi covid 19 tidak dapat dihitung biayanya, dan non compensability; dimana tidak ada yang mampu memberi kompensasi.

Kaitannya dengan ketakuatan, kecemasan, stres, dan emosi, Sawedi mengungkapkan bahwa resiko pandemic covid 19 ini adalah resiko umat manusia buka hanya agama, ras dan suku tertentu saja, tapi ini menjadi bencana global. Untuk itu, kita harus merumuskan langkah-lanngkah cerdas dalam hal memanajemen resiko sehingga kita tidak larut dalam kesedihan, larut dalam kecemasan yang taka ada ujungnya, larut dalam ketakutan yang berlebihan.

1.  Kita harus memiliki pemahaman yang utuh dan komprehensif;

2. Mengenali kondisi kita dan orang-orang disekitar kita;

3. Rekonsiliasi ketakutan dengan penerimaan terhadap situasi yang tidak pasti;

4. Optimis bahwa pandemi ini pasti akan selesai;

5. Hindari informasi yang tidak jelas; dan

6. Berkontribusi dalam hal apa pun yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko yang mampu menghindarkan kita dari stres, emosi, cemas dan ketakutan.

Menanggapi kebijakan pemerintah dalam situasi pandemi covid 19, Sawedi menyarankan agar pemerintah seharusnya menjadi institusi yang paling kompeten dan paling paham terhadap situasi pandemi covid 19; Pemerintah harus memberikan informasi yang transparan dan berdasarkan paradigma sains; dan Pemerintah harus mendisiplinkan dirinya terhadap kebijakan yang dibuatnya. Jika masyarakat tidak puas dan tidak percaya terhadap kebijakan pemerintah, maka masyarakat akan mengalami public distress dan bahkan akan memunculkan gerakan sosial. (Sy)