dr. Tirta; Memutus Rantai Stunting Harus Dimulai Dari 1000 Pertama Kehidupan

dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK – Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi (foto:liputan6.com)

SadarGizi.com – Riset kesehatan dasar 2018 (Riskesda 2018), menunjukkan bahwa masalah gizi yang dihadapi Indonesia dikerucutkan pada satu pada satu persoalan yang terus-menerus digaungkan dan dikampanyekan untuk menjadi perhatian bersama. Masalah gizi Indonesia yang paling terkenal yakni stunting.

Stunting bukan hanya masalah gizi yang dialami oleh orang Indonesia, tapi dialami sebagian besar penduduk di dunia, terutama negara-negara berkembang. Stunting mendapat perhatian khusus karena ia memiliki dampak, dan ia juga merupakan indikator yang paling penting untuk menunjukkan masalah gizi secara keseluruhan pada suatu negara. Stunting pada Riskesdas 2018, baik pendek maupun sangat pendek ditemukan sebesar 30,18%, mengalami sedikit penurunan dari sebelumnya.

Hal ini disampaikan dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK., dalam diskusi online menyambut peringatan Hari Anak Nasional tahun 2020, yang digelar Sabtu (4/6) oleh Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (KoaLizi) dan Departemen Kesehatan BPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) dengan tema “Ikhtiar Mewujudkan Generasi Emas Sejak Dini”.

“Data status gizi buruk dan gizi kurang pada balita, secara angka sebenarnya kita turun sedikit dari 19,6% (2013) menjadi 17,7% (2018), tapi angka ini tidak signifikan penurunannya. Hal ini sangat menyedihkan karena masalah gizi buruk dari dulu sampai sekarang problemnya masih sama dan perkembangan perbaikannya tidak terlalu menggembirakan.”

Lebih lanjut dr. Tirta yang merupakan ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi ini menjelaskan bahwa ada beberapa alasan sehingga mengapa kita fokus pada stunting. Hal itu dikarenakan ?

  1. Stunting merupakan sebuah indikator yang menggambarkan asupan gizi yang tidak adekuat dalam waktu yang lama. Jadi yang dibicarakan adalah tinggi badan. Kalau seorang anak tidak mendapatkan asupan gizi yang adekuat dalam waktu yang lama maka akan terlihat nyata pada pertumbuhannya, dan mengetahui pertumbuhan itu biasanya indikator yang paling muda dipakai adalah tinggi badan.
  2. Stunting menggambarkan faktor lingkungan penderitanya serta menjelaskan keterkaitan yang sangat kuat. Paling gampang adalah faktor lingkungan pada saat ia dikandung.
  3. Stunting memberikan dampak jangka pendek yang signifikan, keterlambatan intervensi akan berakibat permanen.
  4. Stunting memberikan dampak jangka panjang, intervensi yang cepat tepat akan sangat efisien dan efektif menyelesaikan masalah.
  5. Stunting secara politik menggambarkan komitmen pemerintah terhadap kesehatan rakyat. Karena ini berkaitan situasi asupan gizi yang tidak adekuat dalam waktu lama. Sehingga kita dan negara lain pun bisa menilai suatu negara apakah punya prioritas yang baik untuk kesejahteraan rakyatnya.

Menurut dr. Tirta, stunting memiliki dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang.

“Dampak jangka pendek signifikan yang akan dialami oleh anak yang stunting adalah perkembangan otak tergangu, perkembangan organ-organ tubuh, IQ rendah dan daya tahan tubuh menurun. Sedangkan akibat jangka panjangnya dapat produktivitasnya terganggu, memiliki ukuran tubuh yang pendek dan karena program metabolik sudah terganggu sejak bayi maka akan memiliki resiko penyakit degeneratif  seperti dibetes mellitus, jantung dan pembuluh darah, hipertensi, dan kanker. Ia pun  akan menjadi beban negara yang sangat besar dan memiliki resiko kematian yang cepat. Seperti diketahui bahwa penyakit yang paling banyak mengambil porsi pembiayaan BPJS Kesehatan adalah penyakit degeneratif ini.”

Dikarenakna siklus stunting ini seperti mata rantai yang saling berhubungan, dr. Tirta menyarankan untuk untuk memutus rantai tersebut dengan cara memberikan intervensi pada 1000 pertama kehidupan, semenjak dari kandungan sampai bayi lahir.

‘Anak yang lahir dengan BBLR akan menjadi anak yang stunting, kemudian menjadi anak remaja perempunan (kalau ia perempuan) yang malnutrisi dan akan menjadi ibu yang malnutrisi pula sehingga kembali melahirkan anak dengan BBLR. Karena itu kita  perlu memutus rantai tersebut dengan cara memberikan intervensi pada 1000 pertama kehidupan, semenjak dari kandungan sampai bayi lahir.  Menjaga semua hal yang terbaik dan menghindari semua kemungkinan terburuk bagi bayi adalah upaya yang perlu dilakukan oleh ibu sebagai modal dan investasinya.” (Sy)