Peringati HAN 2020; Menyiapkan Kecerdasan dan Soft Skills Anak Sekolah

Poster Serial Diskusi Hari Anak Nasional 2020 – Menyiapkan Kecerdasan & Soft Skills Anak Sekolah

SadarGizi.com – Dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional 2020, Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Dep. Kesehatan BPP. KKSS, Bakornas LKMI PB. HMI dan, www.sadargizi.com  kembali menyelenggarakan serial diskusi pekan III, Sabtu, 18 Juli 2020, jam 16.00 – 17.30, disenggarakan dengan target sasaran kelompok usia 6-9 tahun, dengan topik: “ Menyiapkan Kecerdasan dan Soft Skills Anak Sekolah”. Topik ini merupakan kesinambungan dari diskusi pekan II hari Sabtu yang lalu.

Dalam sambutan pengantar inisiator diskusi dr. Zaenal Abidin, S.H., M.H. menjelaskan bahwa sepertinya pada diskusi sebelumnya, konsep diskusi komunitas ini hanyalah sebuah ikhtiar bersedakah ilmu, bertukar pendapat.

Lanjut dr. Zaenal, diskusi kami juga mengambil sedikit pelajaran dari Khutbah Jumat” bagi orang Muslim, di mana umat diharapkan saling menasihati tentang apa yang benar dan tentang apa yang baik serta bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat. Saling menguatkan agar selalu bersabar serta menahan diri dalam menyikapi berbagai hal yang terjadi di tengah-tengah masyarakat selama satu pekan terakhir, serta memberi arahan antisipasi untuk pekan-pekan berikutnya.

Dalam momentum memperingati hari Anak Nasional 2020, dr. Zaena mengungkapkan bahwa kita memang perlu memberi perhatian khusus kepada anak, terkait bagaimana mengasuh, mendidik dan membesarkan anak yang memiliki karakter.

  • “Mengasuh dan mendidik anak ibarat mendaki gunung dan memiliki anak yang berkarakter baik adalah puncak dari gunung itu. Mengapa demikian? Karena kita berkeyakianan bahwa merekalah yang merupakan generasi pewaris, yang akan memimpin tegaknya kebenaran dan keadilan di muka bumi. Menganjurkan penyelamatan kemanusiaan dan alam raya. Bahkan mendoakan ketika kelak kita telah meninggal dunia. Kita semua tentu masih ingat pelajar waktu masih sekolah, bahwa  ketika kita telah meninggal semua amalan telah terputus, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan naka yang saleh.”

Kita bukan penganut ajaran atau ideologi masa lampau, yang mengatakan bahwa anak itu adalah aib. Atau anak laki-laki itu harus dikubur hidup-hidup karena hawatir akan lahir generasi baru yang lebih unggul, yang akan menjadi saingan bagi mereka memiliki kekuasaan, seperti zaman Raja Fir’aun zaman Mesir kuno. Atau semua anak perempuan harus dibunuh atau dikubur hidup-hidup karena dianggapsebagai aib keluarga, kaum, marga, dst., sebagaimana pada masa jahiliyah di Jazirah Arab sebelum datangnya Islam. terang dr. Zaenal.

Ns. Sarifudin, M.Si (Literasi Sehat Indonesia/Praktisi Kesehatan)

(Risiko Gangguan Emosi & Perilaku Anak Usia Sekolah)

Dalam paparannya Sarifudin menjelaskan bahwa Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Pada tahun 2016 jumlah penduduk Indonesia sebanyak 258 juta jiwa dan 32.2 persen adalah anak-anak (BPS 2016). Anak Indonesia saat ini sedang mengalami berbagai ancaman risiko gangguan emosi dan perilaku. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya kasus anak yang berhadapan dengan hukum, kasus anak pada bidang pengasuhan, kasus anak pada bidang pendidikan, kasus anak pada bidang kesehatan dan napza serta kasus anak dalam bidang pornografi dan cybercrime.

Merujuk data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (2015) Sarifudin mengungkapkan bahwa jumlah kasus anak setiap tahunnya mengalami peningkatan.

“Beberapa kasus di antaranya, 6 006 kasus anak yang berhadapan dengan hukum (kekerasan fisik, pembunuhan, pencurian, kecelakaan lalu lintas, penculikan, aborsi dan kepemilikan senjata tajam), 3 160 kasus anak dalam bidang pengasuhan, 1 764 kasus dalam bidang pendidikan (tawuran pelajar, bullying, pungli), 1 366 kasus dalam bidang kesehatan dan napza, dan 1 032 kasus bidang pornografi dan cybercrime (kejahatan seksual online, pornografi dan media sosial).”

Penelitian Benjet et al. (2010) di Mexico mengungkapkan bahwa anak-anak dengan masa kanak-kanak seperti diabaikan oleh orang tua, mengalami kekerasan fisik atau seksual dilaporkan memiliki gangguan emosi dan perilaku dalam kehidupan dimasa depan, seperti masalah yang terkait dengan tingkat stres yang tinggi, depresi, sadisme, bahkan radikalisme pada kehidupan remaja dan dewasa. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Landsford et al. (2002) di Brazil menemukan bahwa penganiayaan fisik awal memprediksi masalah perilaku remaja, seperti memiliki tingkat agresi, kecemasan/depresi, disosiasi, gejala gangguan stres pasca trauma, masalah sosial, masalah pemikiran dan penarikan sosial yang rata-rata lebih tinggi dari tiga perempat anak sekolah dasar.

Tesis penelitian Sarifudin sendiri tahun 2018 tentang gangguan emosi dan perilaku anak usia sekolah dasar di Bogor, menemukan bahwa anak usia 7-9 tahun mengalami gangguan emosi dan perilaku. Data penelitiannya menunjukkan bahwa dari 100 anak yang menjadi responden ditemukan 69 orang anak mengalami gangguan emosi dan perilaku dengan kategori tinggi.

“Hal ini menjadi warning bagi kita bahwa kondisi anak Indonesia hari ini tidak baik-baik saja. Ada masalah yang perlu menjadi perhatian dari semua pihak, khususnya para orang tua, guru dan pemangku kebijakan. Karena risiko gangguan emosi dan perilaku anak hari ini akan menjadi masalah anak ketika remaja dan dewasa. Jika hari ini kita abai terhadap kondisi anak yang mengalami risiko gangguan emosi dan perilaku, kedepan kita akan dihadapkan dengan menangani anak remaja bahkan orang dewasa yang mengalami gangguan psikopatologis atau kesehatan mental”.

Dalam penelitian Sarifudin,  gangguan emosi dan perilaku anak sangat dipengaruhi oleh faktor pengasuhan (pengasuhan otoriter dan permissive) dan faktor tingkat stres orang tua.

“Artinya, faktor pengasuhan yang otoriter, pengasuhan yang permissive dan tingkat stres yang dialami orang tua sangat berpengaruh terhadap gangguan emosi dan perilaku anak. Dari 100 ibu responden, 38 ibu responden mengalami tingkat stres yang terkategori tinggi, masih di temukan gaya pengasuhan orang yang mengasuh anaknya dengan cara otoriter dalam hal ini memaksakan keinginan orang tua tanpa melihat kondisi dan kebutuhan anak, dan disamping itu ditemukan orang tua yang mengasuh anak dengan cara permissive atau cuek dan abai terhadap anak.”

Melihat kondisi risiko gangguan emosi dan perilaku anak yang dialami sekarang, Syaris sapaan Sarifudin menyarankan agar setiap orang tua menerapkan gaya pengasuhan yang authoritative atau demokratis dalam mengasuh anak.

“Hindari gaya mengasuh anak yang otoriter dan permissive. Gaya pengasuhan yang terbaik yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah gaya pengasuhan authoritative, yaitu orang tua memegang kendali atas anaknya namun dengan memperhatikan perasaan dan keinginan anak, sehingga pendapat anak didengar dan menjadi masukan bagi orang tuanya dalam menetapkan aturan. Disamping itu, orang tua harus mengurangi tingkat stres dan mengatur kondisi stres yang dialaminya, sehingga stres yang dialami orang tua tidak berdampak terhadap anak itu sendiri.”

Di tengah situasi pandemi covid 19 saat ini, kondisi mental anak perlu diperhatikan. Anak akan jenuh dengan stay at home, hampir semua aktivitasnya harus dilakukan di rumah khususnya belajar dari rumah.

“Kondisi anak harus tetap dijaga kesehatan mentalnya seperti kemampuan anak untuk berpikir jernih, kemampuan mengendalikan emosi dan bersosialisasi dengan baik. Ditengah situasi pandemi covid 19 ini, stay at home, belajar dari rumah bisa berisiko terhadap anak mengalami gangguan emosi karena anak mengalami kejenuhan, karena anak harus beradaptasi dengan kebiasaan baru yang sebelumnya dilakukan diluar rumah.”

Untuk menjaga kesehatan mental anak, maka orang tua perlu memberikan penjelasan yang mudah dicerna dan mudah dimengerti oleh anak. “orang tua harus menghindari penjelasan yang dapat membuat emosi, marah bahkan membuat anak menjadi takut.” Orang tua perlu memberikan rasa nyaman kepada anak selama berada dirumah, menyiapkan banyak kegiatan sehingga anak betah dirumah, dan orang tua harus menghindari faktor yang dapat memicu anak menjadi stres. Ujar Syaris.

Dinuriza Lauzi, M.Psi (Memahami Pentingnya Soft Skill Bagi Anak)

(Psikolog, Penulis & Konten Kreator)

Dalam paparannya Niza sapaan akrab Dinuriza Lauzi, M.Psi menjelaskan bahsa soft skill adalah karakter dan keterampilan dalam diri anak, terkait hubungannya dengan orang lain. Keterampilan yang dimiliki anak ini muncul ketika anak bersosialisasi, berkomunikasi, bernegosiasi, bertingkah laku, juga dalam kecerdasan emosionalnya.

Menurut Niza, masalah di Indonesia sekarang kurangnya soft skill dimana yang dominan terlihat adalah kurangnya kedisiplinan. Bahkan kurang disiplin menjadi salah satu karakteristik utama yang dimiliki oleh orang Indonesia.

Niza menjelaskan bahwa, soft skill terdiri dari 2 bagian :

  1. Intrapersonal skill : kemampuan individu yang lebih menekankan pada kemampuan seseorang untuk mengatur dirinya sendiri. Misalnya, inisiatif, mengatur waktu, motivasi, berpikir kreatif kemauan belajar, mandiri, beretika, disiplin, percaya diri, berpikir kritis, mengatasi stress dan berkomitmen.
  2. Interpersonal skill : kemampuan yang membuat seseorang mudah menjalin hubungan dengan orang lain. Kemampuan ini didukung oleh beberapa faktor, antara lain; mudah berkomunikasi, mampu membangun hubungan kerjasama, punya jiwa kepemimpinan, bisa bernegosiasi, mudah mempresentasikan pikirannya, dan mampu bicara dimuka umum.

Soft skill merupakan kemampuan individu dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal) dan hubungannya dengan orang lain (interpersonal) untuk mendukung kemampuan teknis yang dimiliki. Kemampuan teknis yang dimaksud adalah hard skill seperti membaca, berhitung, berpendapat, dll.

Niza mengungkapkan bahwa pondasi utama dari soft skill dimulai dari masa bayi dan balita, didesain pada masa pra sekolah, dibangun pada masa sekolah dan dipraktikkan pada masa usia remaja dan dewasa.

Pentingnya soft skill bagi anak, Niza memberikan tips untuk membangun soft skill anak.

  1. Jadilah teladan. Orang tua harus menjadi teladan dari anak.
  2. Saat terbaik mengajarkan anak adalah saat terjadi konflik. Pada saat anak mengalami masalah, maka kesempatan buat orang tua untuk mengajarkan soft skill kepada anak.
  3. Common sense. Penting diajarkan tentang nilai-nilai yang berlaku di masyarakat yang bisa diterima, antara nilai kebaikan dan keburukan dan nilai mana yang benar dan salah.
  4. Aqidah adalah kunci dari semua soft skill dan yang paling penting dan nomor satu untuk diajarkan kepada anak. (Sy)