Sarifudin; Anak Indonesia Berisiko Mengalami Gangguan Emosi Dan Perilaku

Ns. Sarifudin, M.Si – Literasi Sehat Indonesia

SadarGizi.com – Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Data BPS tahun 2016, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 258 juta jiwa dan 32.2 persen adalah anak-anak.

Menurut Ns. Sarifudin, M.Si, dalam serial diskusi peringatan Hari Anak Nasional 2020, yang diselenggarakan Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Dep. Kesehatan BPP. KKSS, Bakornas LKMI PB. HMI dan, www.sadargizi.com  dengan topik: “Menyiapkan Kecerdasan dan Soft Skills Anak Sekolah”, anak Indonesia saat ini sedang mengalami berbagai ancaman risiko gangguan emosi dan perilaku. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya kasus anak yang berhadapan dengan hukum, kasus anak pada bidang pengasuhan, kasus anak pada bidang pendidikan, kasus anak pada bidang kesehatan dan napza serta kasus anak dalam bidang pornografi dan cybercrime.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (2015) jumlah kasus anak setiap tahunnya mengalami peningkatan. Beberapa kasus di antaranya, 6 006 kasus anak yang berhadapan dengan hukum (kekerasan fisik, pembunuhan, pencurian, kecelakaan lalu lintas, penculikan, aborsi dan kepemilikan senjata tajam), 3 160 kasus anak dalam bidang pengasuhan, 1 764 kasus dalam bidang pendidikan (tawuran pelajar, bullying, pungli), 1 366 kasus dalam bidang kesehatan dan napza, dan 1 032 kasus bidang pornografi dan cybercrime (kejahatan seksual online, pornografi dan media sosial).

Merujuk penelitian Benjet et al. (2010) di Mexico dan Landsford et al. (2002) di Brazil, Sarifudin menjelaskan bahwa anak-anak dengan masa kanak-kanak seperti diabaikan oleh orang tua, mengalami kekerasan fisik atau seksual dilaporkan memiliki gangguan emosi dan perilaku dalam kehidupan dimasa depan, seperti masalah yang terkait dengan tingkat stres yang tinggi, depresi, sadisme, bahkan radikalisme pada kehidupan remaja dan dewasa.

“Penganiayaan fisik awal memprediksi masalah perilaku remaja, seperti memiliki tingkat agresi, kecemasan atau depresi, disosiasi, gejala gangguan stres pasca trauma, masalah sosial, masalah pemikiran dan penarikan sosial yang rata-rata lebih tinggi dari tiga perempat anak sekolah dasar.”

Tesis penelitian Sarifudin sendiri tahun 2018 tentang gangguan emosi dan perilaku anak usia sekolah dasar di Bogor, menemukan bahwa anak usia 7-9 tahun mengalami gangguan emosi dan perilaku.

“Data penelitian saya menunjukkan bahwa dari 100 anak yang menjadi responden ditemukan 69 orang anak mengalami gangguan emosi dan perilaku dengan kategori tinggi. Hal ini menjadi warning bagi kita bahwa kondisi anak Indonesia hari ini tidak baik-baik saja.”

Alumni Institut Pertanian Bogor ini mengungkapkan bahwa ada masalah yang perlu menjadi perhatian dari semua pihak, khususnya para orang tua, guru dan pemangku kebijakan.

“risiko gangguan emosi dan perilaku anak hari ini akan menjadi masalah anak ketika remaja dan dewasa. Jika hari ini kita abai terhadap kondisi anak yang mengalami risiko gangguan emosi dan perilaku, kedepan kita akan dihadapkan dengan menangani anak remaja bahkan orang dewasa yang mengalami gangguan psikopatologis atau kesehatan mental.”

Lebih lanjut Syaris sapaan akrab Sarifudin menjelaskan bahwa gangguan emosi dan perilaku anak sangat dipengaruhi oleh faktor pengasuhan (pengasuhan otoriter dan permissive) dan faktor tingkat stres orang tua.

“Artinya, faktor pengasuhan yang otoriter, pengasuhan yang permissive dan tingkat stres yang dialami orang tua sangat berpengaruh terhadap gangguan emosi dan perilaku anak. Dari 100 ibu responden, 38 ibu responden mengalami tingkat stres yang terkategori tinggi, masih di temukan gaya pengasuhan orang yang mengasuh anaknya dengan cara otoriter dalam hal ini memaksakan keinginan orang tua tanpa melihat kondisi dan kebutuhan anak, dan disamping itu ditemukan orang tua yang mengasuh anak dengan cara permissive atau cuek dan abai terhadap anak.”

Melihat kondisi risiko gangguan emosi dan perilaku anak yang dialami anak sekarang, Syaris menyarankan agar setiap orang tua menerapkan gaya pengasuhan yang authoritative atau demokratis dalam mengasuh anak.

“Hindari gaya mengasuh anak yang otoriter dan permissive. Gaya pengasuhan yang terbaik yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah gaya pengasuhan authoritative, yaitu orang tua memegang kendali atas anaknya namun dengan memperhatikan perasaan dan keinginan anak, sehingga pendapat anak didengar dan menjadi masukan bagi orang tuanya dalam menetapkan aturan. Disamping itu, orang tua harus mengurangi tingkat stres dan mengatur kondisi stres yang dialaminya, sehingga stres yang dialami orang tua tidak berdampak terhadap anak itu sendiri.”

Di tengah situasi pandemi covid 19 saat ini, kondisi mental anak perlu diperhatikan. Anak akan jenuh dengan stay at home, hampir semua aktivitasnya harus dilakukan di rumah khususnya belajar dari rumah.

“Kondisi anak harus tetap dijaga kesehatan mentalnya seperti kemampuan anak untuk berpikir jernih, kemampuan mengendalikan emosi dan bersosialisasi dengan baik. Ditengah situasi pandemi covid 19 ini, stay at home, belajar dari rumah bisa berisiko terhadap anak mengalami gangguan emosi karena anak mengalami kejenuhan, karena anak harus beradaptasi dengan kebiasaan baru yang sebelumnya dilakukan diluar rumah.”

Untuk menjaga kesehatan mental anak, maka orang tua perlu memberikan penjelasan yang mudah dicerna dan mudah dimengerti oleh anak. “orang tua harus menghindari penjelasan yang dapat membuat emosi, marah bahkan membuat anak menjadi takut”, orang tua perlu memberikan rasa nyaman kepada anak selama berada dirumah, menyiapkan banyak kegiatan sehingga anak betah dirumah, dan orang tua harus menghindari faktor yang dapat memicu anak menjadi stres. Ujar Syaris. (Sy)