Mempersiapkan Anak Remaja Atau Pubertas Menjadi Dewasa

Poster Diskusi Mempersiapkan Anak Remaja/Pubertas Menjadi Dewasa

SadarGizi.com – Remaja adalah generasi penerus yang akan membangun bangsa ke arah yang lebih baik yang mempunyai pemikiran jauh ke depan dan kegiatannya yang dapat menguntungkan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Maka, remaja tersebut harus mendapatkan perhatian khusus, baik oleh dirinya sendiri, orang tua, dan masyarakat sekitar.

Dalam sambutan pengantar diskusi Hari Anak Nasional 2020 pekan IV, dr. Zaebal Abidin, SH., MH. selaku inisiator diskusi mengungkapkan bahwa hari ini genaplah empat pekan kita mengisi bulan anak nasional yang jatuh pada bulan Juli dengan aktivitas diskusi virtual bertemakan Tema: Gizi dan Sehat untuk Anak Indonesia.”  yang terselenggara atas kolaborasi antara: Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Dep. Kesehatan BPP. KKSS, Bakornas LKMI PB. HMI dan, www.sadargizi.com

“Kita saling saling mendengar dan menyampaikan pendapat secara terbuka, tanpa ada yang merasa pendapatnya paling benar. Genap empat pekan bukan berarti bahwa semua masalah anak telah terselesaikan. Kami yang berusaha mendiskusikan bahagian kecil dari sekian banyak masalah anak di Indonesia maupun di dunia. Itu pun hanya sekitar masalah kesehatan dan gizi. Karena itu, untuk bahagian yang lebih besarnya biarlah tetap menjadi urusan pemerintah atau komunitas yang memiliki sumber daya dan otoritas yang lebih besar.”

Lebih lanjut dr. Zaenal pun mengingatkan bahwa konsep diskusi komunitasnya hanyalah sebuah ikhtiar sedakah ilmu, bertukar pendapat dengan mengambil sedikit pelajaran atau hikmah dari Khutbah Jumat” bagi orang Muslim, di mana khatib dan umat diharapkan saling menasihati tentang apa yang benar dan tentang apa yang baik serta bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat. Saling menguatkan agar selalu bersabar serta menahan diri dalam menyikapi berbagai hal yang terjadi di tengah-tengah mereka selama satu pekan terakhir, dan memberi arahan untuk antisipasi perkembangan pada pekan-pekan berikutnya.

Diskusi yang kami lakukan berdasarkan kelompok usia dengan pertimbangan bahwa setiap kelompok usia anak memiliki masalah dan solusinya sendiri. Karena itu kami membagi kelompok usia mulai dari usia 0-2 tahun, usia 3-5 tahun, usia 6-9 tahun dan, dan usia 10-19 tahun.

“Diskusi pekan I diselenggarakan pada Sabtu, 4 Juli 2020, jam 16.00 – 17.30, untuk  kelompok usia 0-2 tahun, dengan topik: Ikhtiar Mewujudkan Generasi Emas Indonesia Sejak Usia Dini. Diskusi pekan II diselenggarakan pada Sabtu,11 Juli 2020, jam 16.00 – 17.30, untuk kelompok usia 3-5 tahun, dengan topik: “Investasi pada Anak Usia Balita”. Diskusi pekan III, Sabtu, 18 Juli 2020, jam 16.00 – 17.30, diselenggarakan dengan target sasaran kelompok usia 6-9 tahun, dengan topik: Menyiapkan Kecerdasan dan Soft Skills Anak Sekolah.Untuk diskusi pekan IV hari ini, Sabtu, 25 Juli 2020, dengan target sasaran kelompok usia 10-19 tahun, mengambil topik: Mempersiapkan Anak Remaja/Pubertas menjadi Dewasa.

Jati Diri dan Pergaulan Remaja (Wahyu Aulizalsini A, M.Psi – Psikolog)

Dalam presentasinya, Wahyu Aulizalsini A, M.Psi menjelaskan bahwa data survey kominfo ditahun 2017 ditemukan 60 persen pengguna gadget adalah anak usia 9 – 19 tahun. Dari urusan gadget tersebut pun selain hal positif, kasus negatif tentang kenakalan dan kasus-kasus negative di masa remaja juga banyak disebabkan oleh gadget.

“Jika dicari akar masalahnya maka dapat saya sampaikan bahwa konsep diri seorang individu menjadi satu masalah penting untuk memunculkan perilaku positif.”

Konsep diri merupakan sikap, perasaan dan pandangan individu tentang dirinya sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya yang meliputi fisik, psikis, sosial, aspirasi dan prestasi yang nantinya akan menentukan langkah-langkah individu dalam melakukan aktifitas sesuai dengan gambaran yang ada pada dirinya.  Konsep diri merupakan gambaran dari keyakinan yang dimiliki tentang diri mereka sendiri secara luas baik mengenai fisik, psikologis, sosial dan emosional. Jelas Liza sapaan Wahyu Aulizalsini.

Menurut Liza, Konsep diri yang pertama kali terbentuk disebut konsep diri primer.

“Hal ini diperoleh di lingkungan keluarga terutama pada tahun-tahun awal kehidupan. Kemudian konsep diri akan terus berkembang sejalan dengan semakin luasnya hubungan sosial yang diperoleh anak.

Bagaimana orang-orang disekitarnya memperlakukan dirinya, apa yang mereka katakan tentang dirinya, status yang diraihnya dalam kelompok akan memperkuat dan memodifikasi konsep diri yang telah terbentuk dalam keluarga.

“Dengan konsep diri yang positif maka seorang remaja akan mampu menyesuaikan diri dengan baik pula (yakni sesuai tahap usia dan perkembangannya), misalnya cenderung menjadi anak yang mudah bergaul dan, lebih hangat, dan terbuka menghadapi orang lain, serta lebih mudah menerima kelemahan orang lain.  Kelak saat dewasa akan lebih mudah menyesuaikan diri di tempat pekerjaan ataupun dalam kehidupan pernikahan. Jika tidak, maka sebaliknya ( bahkan menjurus kepada sikap dan perilaku yang tergolong kriminal).”

Tentang bagaimanakah seorang anak remaja dapat menyesuaikan diri? Liza menjelaskan bahwa semua tergantung dimana anak itu dibesarkan.

“Apakah ia memiliki “model” yang baik di rumahnya. Selain itu kemampuannya dalam menerima diri sendiri. Agar seorang remaja dapat menyesuaikan diri dengan baik, maka haruslah mengenal diri sendiri lebih dalam maka perlu penilaian atau kesadaran akan keadaan diri sendiri. Bilamana seseorang dapat menerima keadaan dirinya sendiri, maka ia akan mudah menerima keadaan orang lain.”

Lebih lanjut Liza menjelaskan bahwa remaja yang frustasi hari ini akibat tidak mampu menyesuaikan diri dan pentingnya konsep diri positif.

“Remaja yang dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis dan memiliki konsep diri negatif kemungkinan memiliki kecenderungan yang lebih besar menjadi remaja nakal dibandingkan remaja yang dibesarkan dalam keluarga harmonis dan memiliki konsep diri positif. Saat seorang remaja mampu menyesuaikan diri dan memiliki konsep diri yang baik, maka ia juga akan mampu bergaul dengan bebas dan positif. remaja yang frustasi hari ini akibat tidak mampu menyesuaikan diri dan pentingnya konsep diri positif.”

Perkembangan Psikososial Remaja (Muhammad Rhesa, S.Psi., M.A. –  Psikolog)

Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar, Muhammad Rhesa, S.Psi., M.A. menjelaskan bahwa masa remaja yang berada pada rentang usia 10 sampai 21 tahun adalah salah satu fase terpenting dalam kehidupan manusia.

“Masa remaja ditandai dengan perubahan yang cukup drastis pada aspek biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Masa remaja adalah fase ketika seseorang mengalami krisis identitas di masa hidupnya. Perpindahan dari masa anak-anak ke masa dewasa menjadikan masa remaja semacam fase peralihan. Remaja beralih dari kontrol penuh orang tua menuju pelepasan peran orang tua secara perlahan dan lebih menyenangi aktivitas bersama teman sebayanya.”

Beberapa dimensi yang mengalami perubahan pada masa remaja yang pertama yaitu pemahaman tentang diri dan identitas.

“Remaja mengalami kebingungan ketika pertama kali merasakan perubahan gejala fisik yang berbeda seperti menstruasi dan mimpi basah. Pada aspek yang kedua yaitu hubungan dengan orang tua, perilaku remaja mulai merasa egois dan ingin lepas dari kontrol orang tua. Remaja menyadari bahwa dirinya bukan lagi anak-anak sehingga membutuhkan identitas sosial sebagai penanda kemandirian. Hubungan dengan teman sebaya menjadi afiliasi utama, bukan lagi keluarga. Aspek yang keempat adalah moral dan religi, remaja mulai mengenali prinsip moral saat dirinya berusia 11 tahun. Religiusitas juga mesti menjadi prinsip kebenaran yang disadari oleh remaja agar mampu menghindarkan dirinya dari perilaku yang menyimpang secara agama dan sosial.”

Lebih lanjut Rhesa mengungkapkan bahwa berbagai situasi dan masa krisis yang dialami saat remaja akan berujung pada menguatnya identitas oleh para remaja.

“Remaja yang mengalami masa krisis akan mengalami penguatan pada identitas individual. Identitas individual artinya remaja pada akhirnya akan menemukan citra diri yang matang tentang seperti apa tujuan hidupnya, misalnya dalam memilih jalur pendidikan, pekerjaan yang dicita-citakan, serta aktivitas yang disenangi. Sementara pada identitas kelompok, remaja cenderung bergabung pada sebuah kelompok sosial sebagai sarana menegrjakan hal-hal yang tidak bisa dilakukan secara individu, kelompok menjadi sarana pemenuhan kebutuhan. Identitas peran sebagai laki-laki dan perempuan juga menguat di masa remaja ketika mulai membayangkan tanggungjawab yang harus diemban sebagai laki-laki yang menjadi tulang punggung keluarga, dan menjadi penjaga peran domestik di rumah tangga bagi remaja perempuan.”

Identitas emosi remaja akan mengalami kematangan di masa remaja akhir, 19-21 tahun, setelah melewati fase-fase labil di remaja awal dan remaja tengah. sehingga remaja mesti dibekali dengan pemahaman yang menyeluruh tentang gejala yang akan dialaminya agar siap menghadapi masa krisis identitas selama menjadi remaja. Saran Rhesa.

Dampak Anemia Pada Anak Remaja/Pubertas (dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK. – Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi)

Selain menguraikan tentang anemia pada remaja, dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK juga mengulas masalah gizi di Indonesia.  Menurutnya, masalah gizi utama di Indonesia saat ini adalah stunting, yakni 30,8% (Riskesdas, 2018).

Menurut dr. Tirta, ada pesan penting dari stunting ini sehingga perlu menjadi perhatian.

“Stunting menggambarkan banyak hal, antara lain: terjadinya asupan gizi yang tidak adekuat dalam waktu lama, faktor lingkungan penderita serta keterkaitan yang adekuat, memberi dampak jangka pendek yang signifikan sehingga keterlambatan intervensi akan berakibat permanen. Stunting juga memberi dampak jangka panjang sehingga dengan intervensi yang cepat dan tepat akan sangat efisien dan efektif menyelesaikan masalah. Selanjutnya secara politis, ungkap dr. Tirta, stunting menunjukkan seberapa besar komitmen pemerintah terhadap kesehatan rakyatnya.”

Selain masalah stunting, dr. Tirta menjelaskan bahwa Indonesia juga sedang menghadapi masalah serius dengan meningkatnya penyakit degeneratif.

“Mengatasi stunting dan penyakit degeneratif ini tidak ada jalan lain selain kita fokus melakukan intervensi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).”

Terkait anemia yang menjadi masalah pada ibu hami sekarang ini, dr. Tirta menjelaskan bahwa masalah anemia terjadi peningkatan.

“Anemia ibu hamil (Bumil) di Indonesia meningkat dari sebelumnya 27,1% (2013) menjadi 48,9% (2018). Anemia pada bumil disebabkan oleh kehamilan yang berulang, kehilangan darah saat mentruasi, penyakit infeksi, dan asupan gizi yang tidak adekuat.”

Perlu deketahui bahwa anemia bumil berdampak terjadinya kelahiran prematur, BBLR dan mortalitas. Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mencegah tejadinya anemia pada ibu hamil?

“Yang perlu dilakukan adalah menjaga remaja putri kita yang kelak akan menjadi ibu dan hamil mengandung asset bangsa. Menjaga remaja putri kita agar tidak menderita anemia.” Terang dr. Tirta.

Anemia adalah berkurangnya sel darah merah yang dihubungkan dengan menurunnya kemampuan darah mengikat oksigen. Anemia didiagnosis bila HB kurang dari normal. Namun demikian, HB di bawah normal ini merupakan fase terakhir dari defisiensi zat besi. Artinya, boleh jadi banyak orang yang mengalami defisiensi zat besi namun belum menunujukan hemoglobinnya (HB) kurang dari normal.

Lebih lanjut dr. Tirta menjelaskan bahwa anemia defisiensi zat besi adalah anemia yang paling sering ditemukan.

“Apa yang terjadi bila kekurangan zat besi? Kekurangan zat besi dapat mengakibatkan gangguan metabolisme, ganguan pertumbuhan, ganguan performance, ganguan konsentrasi, dan ganguan kognitif. Anemia zat besi akan berdampak menurunnya kualitas hidup dan SDM yang buruk. Pesannya, amat sulit mewujudkan generasi bangsa yang unggul, sebagaimana yang menjadi tema diskusi awal kita yakni,  “Ikhtiar Mewujudkan Generasi Emas Indonesia Sejak Usia Dini.”

Lalu, bagaimana cara kita mencegah anemia? dr. Tirta menjelaskan bahwa perbaiki status gizi dan zat besi.

“Cara untuk mencegah anemia hanya dua, yaitu perbaiki status gizi dan perbaiki asupan zat besi. Untuk diketahui, hanya 1,4% remaja putri kita yang minum tablet tambah darah sesuai program. Kita pun sedang berada pada lingkungan yang menuntun kita untuk tidak sehat. Kita juga dipaksa masuk ke dalam sistem yang menawarkan makanan dengan empty nutrient“ dan hight calorie

Dalam menutup paparannya, dr. Tirta memberikan empat pesan penting terkait masalah anemia di Indonesia.

“Pertama; Masalah anemia defisensi zat besi di Indonesia masih sangat tinggi, Kedua; Anemia berimplikasi terhadap kesehatan remaja dan pada usia yang akan datang, Ketiga; Perlu perbaikan status gizi dan asupan zat besi remaja. dan Keempat, Perlu mengupayakan keberhasilan “Program 1 butir Tablet Tambah Darah (TTD) / Minggu sepanjang tahun bagi wanita usia subur.” (Sy)