Mewaspadai Gangguan Kesehatan Mental Pasien dengan Covid-19

Oleh: Zaenal Abidin

Tema webinar, Jum’at, 29 Januari 2021 ini kami angkat setelah berdiskusi panjang dengan teman-teman, di antaranya Ibu Baho Jene, S.H., dr. Fitri N. Pulukadang, adinda Sarifudin Syaris, M.Si dan tentu saja dengan istri saya sendiri dr. Tirta Prawita Sari. Semuanya menceritakan bahwa saat ini banyak pasien dengan Covid-19 yang mengalami masalah kesehatan mental.

Masalah mental tersebut dialami baik sebelum dinyatakan positif Covid-19 maupun setelah dinyatakan positif berdasarkan pemeriksaan laboratorium sampai pasien dirawat di ruang isolasi rumah sakit. Masalah ksehatan mental bahkan dialami oleh orang yang sudah dinyatakan negatif, sembuh dan dibolehkan pulang ke rumah. Tidak jarang mereka mengalami masalah seperti. cemas, insomnia, dan mungkin juga ada yang depresi

Lebih lanjut, bila kita membaca berita yang dilansir beberapa media nasional, dikatakan bahwa Penelitian terbaru yang terbit di jurnal The Lancet Psychiatry mengungkap bahwa 1 dari 5 penyintas Covid-19 berisiko besar terkena penyakit gangguan mental. Ditemukan pula bahwa 20 persen orang yang terinfeksi Covid-19 didiagnosis mengalami gangguan kejiwaan dalam waktu 90 hari.

Memang menurut WHO sehat itu meliputi keadaan sejahtera yang meliputi fisik, mental dan sosial yang tidak hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan mendefinikan bahwa kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Baik WHO, maupun UU No. 36 Tahun 2009 tersebut di atas menyatakan bahwa sehat atau kesehatan itu bukan hanya menyangkut sehat fisik atau ragawi. Sehat juga mental dan sosial. Bahkan UU Kesehatan sendiri melengkapi dengan mencantumkan aspek spiritual. Hal ini dapat pula berarti bahwa, orang yang tubuhnya sedang sakit tak menutup kemungkinan mental, spriritual dan sosialnya pun turut menderita sakit. Demikian pula sebailknya. Dengan demikian, saat ini menjadi semakin penting bagi kita semua untuk memperhatikan aspek di luar ragawi pasien dengan Covid-19, yakni mental, spiritual dan sosialnya. Memerhatikan bahwa pasien dengan Covid-19 adalah seorang manusia utuh yang tidak terpisah-pisah.

Sekali pun kita tidak pernah menjadi pasien Covid-19 namun tentu tidak sulit bagi kita untuk ber-empaty kepada saudari-saudari kita yang mengalami atau pernah mengalami. Bagi pasien non-Covid-19, boleh dikata hampir setiap saat sanak keluarga silih berganti mengunjungi, membesuknya. Bahkan dibolehkan satu atau dua orang menunggu di ruangan. Kondisi ini sangat berbeda untuk pasien dengan Covid-19. Sejak masuk ruang isolasi IGD rumah sakit atau bahkan sebelumnya, pihak keluarga sudah tidak dibolehkan bertemu langsung dengan pasien.

Untungnya, hampir semua di antara kita telah memiliki alat komunikasi canggih sehingga dapat berkomunikasi melalu alat komunikasi tersebut. Kita bisa berzikir dan berdoa bersama untuk kesembuhan sanak keluarga dan kerabat yang dirawat dengan Covid-19. Tentu dengan harapan agar dapat menenangkan hati dan pikirannya serta mempercepat kesembuhannya.

Selain itu, kita masih bisa saling membantu meringankan beban pasien atau keluarganya dalam bentuk lain. Sebutlah misalnya, kita dapat mengantarkan makanan yang ia sukai, mengirimkan buah-buahan, vitamin dan mineral, dan berbagai urusan lain yang dapat meringankan pasien dan keluarganya. Tentu aktivitas sosial semacam ini akan membuat pasien merasa mendapatkan perhatian dari keluarga, kerabat atau tetangganya. Sekalipun berada di ruang isolasi sendirian, namun bila dukungan itu samapai di tangan atau ditelinganya, tentu pasien yang bersangkutan tidak merasa kesepian.

Banyak hal dalam hidup ini yang saat belum terungkap oleh pikiran dan ikhtiar manusia. Boleh jadi pada suatu waku di masa depan tabir itu dapat tersingkap, namun tidak menutup kemungkinan akan menjadi misteri dan menjadi rahasia Allah untuk selamanya. Hanya kepada Allah kita berserah diri, kepada Allah kita beriman, hanya kepada Allah kita mengadu, kepada Allah meminta keputusan dan kepada Allah pula kita kembali. Tiada daya dan kekuatan untuk menghindar kecuali dengan pertolongan Allah. Wallahu a’lam bishawab.

Jati Asih, 28 Januari 2021

(Penulis adalah Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia periode 2012-2015 dan Ketua Dep. Kesehatan BPP. Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan)