Ikhtiar Mengubah Banjir Menjadi Berkah

dr. Zaenal Abidin, S.H., M.H. – Ketua Umum PB IDI 2012-2015 (foto google)

Oleh: Zaenal Abidin

Webinar kami (Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Dep. Kesehatan BPP. KKSS, Bakornas Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam PB HMI (LKMI PB HMI), dan www.sadargizi.com), pekan ini Jum’at (5 Maret 2021) akan mengangkat tema yang relatif baru. Tema tersebut yatu: “URGENSI AIR BERSIH DALAM MEMBANGUN INDONESIA SEHAT,” dengan nara sumber yang ahli dibidangnya.

Meski temanya relatif baru, namun konsepnya tetap seperti pekan-pekan sebelumnya, yakni dalam rangka sedekah ilmu dan pengalaman. Juga ingin meniru harapan khutbah Jumat, yaitu ingin memberi jawaban dari sebagian masalah pokok yang dihadapi umat/masyarakat dalam satu pekan terakhir dan setidaknya menyampaikan apa yang sebaiknya dilakukan pada pekan-pekan berikutnya.

Beberapa pekan terakhir ini hujan turun dengan intensitas yang tinggi. Masyarakat di beberapa kota di tanah air disibukkan dengan air yang menggenang. Sebagian orang menyebut air menggenang ini dengan “banjir”. Media cetak dan elektronik, ramai memberitakannya. Media sosial apa lagi. Sebagian masyakarat mengeluhkan air hujan ini sebab mengakibatkan genangan. Namun, sebagian lainnya tentu merasa senang sebab memamg sudah kesulitan mendapatkan air bersih. Dengan turunnya hujan mereka akan memenuhi kebutuhan persedian air bersih, bisa bercocok taman, menggembalakan ternak, dan keperluan lainnya.

Air bersih dinyatakan esensial karena manusia tidak dapat menghasilkan air untuk memenuhi kebutuhan tubuh, karena itu air harus diperoleh melalui asupan yang cukup dari luar tubuh. Tanpa air makhluk hidup tidak mungkin tumbuh dan berkembang. Tanpa air seluruh kegiatan manusia tidak mungkin dapat berlangsung untuk mencapai kesejahteraannya. Tidak ada satu pun reaksi kimia dalam tubuh manusia yang dapat berlangsung tanpa air.

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2018, capaian akses air bersih yang layak saat ini di Indonesia mencapai 72,55 persen, masih berada di bawah target Sustainable Development Goals (SDGs) yakni sebesar 100 persen.

Kebutuhan akan air bersih sangat dirasakan oleh penduduk pada kemarau panjang. Banyak penduduk yang kesulitaan mendapatkan air besih. Berbagai cara yang ditempuh agar kebutuhan airnya dapat terpenuhi. Seperti minta bantuan pemerintah atau donor agar dikirimi air bersih, menggali sumur yang sangat dalam, membeli pipa lalu mengalirkan air dari mata air pengunungan yang jauh ke pemukiman. Ada pula yang harus berjalan jauh lalu antri untuk mendapatkan air bersih.

Bagi yang mempunyai agama, percaya adanya Tuhan atau percaya bahwa Tuhan itu Maha Pemurah untuk menurunkan air dari langit, tentu akan berdoa, bermunajat agar Tuhan yang ia percayainya berkenan menurunkan hujan. Umat Islam secara khusus dianjurkan mendirikan shalat sunah Istisqah (shalat minta hujan) memohon turunnya hujan dari Allah SWT. Semuanya itu merupakan ikhtiar dengan harapan agar memperoleh air bersih.

Setelah hujan berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, persoalan klasik kembali muncul. Hunian penduduk “digenangi air” kalau tidak mau menyebutnya “kebanjiran”. Atau terserahlah, mau menamai apa pemberian Tuhan yang melimpah ruah itu. Penyebabnya tentu banyak, seperti daya resap tanah atau bumi yang dihuninya makin berkurang. Artinya secara alami tempat tinggalnya sudah kurang mampu lagi menyimpan air untuk keperluan jangka panjang terutama bila kemarau kembali datang. Hutan di sekitanya pun makin gundul, wilayah resapan air makin berkurang (telah ditimbun dan ditamani beton), sungai makin sempit dan dangkal, saluran air tersumbat sampah, dan seterusnya

Air hujan yang sebelumnya dimohonkan, kini menjadi dikeluhkan, sebab telah mengganggu aktivitas mereka. Dapat pula sebaliknya, aktivitas penduduklah yang mengganggu habitat air anugerah Tuhan yang turun dari langit ini.

Sebetulnya, air hujan yang diturunkan Tuhan ini telah diatur kadarnya. Ahli memperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Karena itu, untuk menjaga keseimbangan atau balance air maka Tuhan pun menurunkan kembali air hujang ke bumi sejumlah air yang menguap. Kecepatan turunnya juga telah diatur-Nya. Dari ketinggian berapa pun hujan itu turun, kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah. Begitulah istimewanya tetesan hujan sehingga turunnya pun tidak menyebabkan rusaknya benda yang ditimpanya. Air hujan adalah anugerah, rahmat Allah yang tidak ternilai hargannya. Allah menurunkannya agar menjadi kunci dan sumber kehidupan semua makhluk yang ada dibumi.

Kitab Suci Al-Qur’an banyak mengungkapkan bagaimana Allah SWT menurunkan hujan dari langit supaya menjadi anugerah, rizki, serta sumber kehidupan bagi manusia dan makhuk hidup yang lain. Di antara ayat Al-Qur’an itu adalah sebagai berikut.

“Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (Q.S. Al-Fur’qan:48).

“Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air (hujan) dari langit, sehingga bumi menjadi hijau? Sungguh, Allah Maha Halus, Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Hajj:63).

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan), lalu dengan air itu Kami hidupkan negeri yang mati (tandus).”(Q.S. az_Zukhruf: 11).

“Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman, sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalkan ternakmu.” (Q.A. an-Nahl:10).

Rasulullah Saw. dan para sahabat selalu menyambut hujan dengan suka cita. Ketika hujan turun juga menjadi salah satu momen dikabulkannya doa. (HR. Hakim). Itulah sebabnya mengapa umat Islam dilarang mencela hujan. Mencela hujan sama artinya mencela pencipta hujan itu sendiri, yaitu Allah SWT.

Karena hujan daras sering mengakibatkan terjadinya banjir dan genangan air maka warga pun sering mengeluh karenanya. Bukan hanya itu, warga pun kadang saling menghujat dan menyalahkan satu dengan yang lain. Kesannya, hujan deras dan banjir hanya sebagai musibah belaka. Jarang terpikir untuk menerima air yang melimpah ruah ini sebagai benar-benar berkah dari Tuhan Yang Maha Pemurah.

Webinar ini diharapkan dapat mendiskusikan problem di atas bersama ahlinya. In syaa Allah kita akan ditemani oleh Dr. Ir. Rusnandi Gasardi, M.Sc. (LAPI ITB/ Penemu teknologi Micro Hydaulic Water Treatment), yang akan memaparkan: Emergensi penyediaan air bersih bagi kota dan kawasan, rainwater hasvesting, polder communal dan program hantaran menurunkan pandemi/angka sakit yang berkesinambungan. Ir. Juni Thamrin, M.Sc., Ph.D. (Kepala LPPMP Universitas Bayangkara Jakarta Raya/Ahli Kebijakan dan Community Development), akan menyajikan, “Kebijakan pemenuhan air bersih bagi masyarakat”. Semetara itu, dr. Daeng M. Faqih, S.H., M.H. (Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia) akan menyampaikan keynote speech: “Urgensi air bersih dalam membangun Indonesia Sehat”.

Jalannya webinar akan dipandu oleh saudara Hasanuddin, S.IP, M.AP. (pengajar Universitas Bayangkara Jakarta Raya dan aktivis Literasi Sehat Indonesia) sebagai moderator dan saudara Ns. Sarifudin, M.Si. (Komunitas Literasi Gizi) selaku Host.

Semoga gagasan dan teknologi yang ditawarkan oleh para ahli pada webinar nanti dapat menjadi awal dari ikhtiar mengubah genangan air atau banjir menjadi berkah terutama pada saat kemarau. Semoga bermanfaat bagi kemaslahatan kita semua.

Billahit Taufiq Walhidayah

(Penulis adalah Ketua Umum PB IDI periode 2012-2015 dan Ketua Dep. Kesehatan BPP. Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan)