Pendekatan Teknologi Dan Penataan Ulang Kawasan Solusi Mengatasi Banjir

Hasanauddin – Dosen Unversitas Bhayangkara Jakarta Raya

Oleh: Hasanuddin, S.I.P., M.AP.

Genangan apalagi banjir jika dilihat menggunakan pendekatan politik maka dengan mudah dapat dikatakan pemimpinnya gagal. Jika demikian, debat politik dengan isu utamanya banjir akan melebar kemana-mana, bahkan merembet sampai ke personality, caci maki akan dialamatkan kepada sang pemimpin, tidak lagi atau dengan sengaja menghindari diskusi mengenai kebijakan penanganan banjir.

Tidak seorangpun menginginkan banjir, namun terkadang kejadian itu tidak dapat dihindari. Karenanya, perlu difikirkan cara penanganan yang tepat agar dapat bermafaat saat musim kemarau.

Dalam jangka pendek, apa yang telah dilakukan sudah benar, seperti normalisasi ataupun naturalisasi sungai agar air hujan dapat tertampung, menyiapkan pompa supaya dapat dengan cepat dialirkan ke laut. Bahkan menggusur atau istilah lainnya relokasi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai karena dianggap salah satu penyebab fungsi sungai berubah.

Tentu cara instan ini menyisahkan persoalan baru, saat musim kemarau misalnya akan terjadi krisis air bersih sebab limpahan air saat musim hujan tidak dikelola secara baik menggunakan teknologi. Masalah lain yang berkaitan dengan penyelesaian instan adalah masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, tentu perlu disiapkan tempat baru.

Limpahan air saat musim hujan yang menyebabkan banjir selama ini langsung dibuang ke laut, dengan menjadi air laut maka untuk mengubah kembali menjadi air tawar sebagai air minum tentu membutuhkan biaya lebih mahal dan teknologi yang lebih rumit dibanding mengolah banjir menjadi air bersih.

Padahal, dengan teknologi micro hydraulic water treatment dapat merubah limpahan air yang dianggap bencana dan tidak bermafaat menjadi berguna bagi kehidupan. Bahkan teknologi micro hydraulic water treatment dapat membantu mengurangi genangan/banjir. Dengan sentuhan teknologi, air banjir dapat menjadi air besih serta dimanfaatkan sebagai cadangan air untuk keperluan warga pada saat musim kemarau.

Dengan teknologi, tidak hanya menjadi persediaan air bersih, namun sekaligus dapat mengurangi banjir bahkan secara perlahan akan menormalisasi air di dalam tanah. Dari sisi program mewujudkan masyarakat yang sehat, penyediaan air bersih dan mengurangi terjadinya banjir tentu akan mengurangi angka kesakitan.

Menginat program ini sangat strategis maka sangat penting keterlibatan masyarakat secara aktif di dalamnya. Masyarakat perlu tahu dan dilibatkan mulai dari proses perencanaan sampai pemanfaatannya.

Masalah pemukiman masyarakat di bantaran sungai dapat ditata ulang sehingga tidak lagi dianggap sebagai salah satu faktor penyebab banjir. Dengan penataan yang baik dan penyadaran masyarakat yang bermukim dibantaran sungai tidak hanya mengurangi beban pemerintah dalam penyiapan tempat tinggal baru, namun dapat menjadi contoh keberpihakan pemerintah pada warganya. Dan bukan tidak mungkin akan menjadi objek wisata bahkan menjadi tempat belajar bagi banyak pihak untuk melihat bagaimana harmoni dan relasi terbangun dengan baik antara pemerintah dan warganya.

(Penulis adalah pengajar Universitas Bhayangkara Jakarta Raya)