Menghargai Air; Upaya Belajar Adab Dan Syukur

dr. Zaenal Abidin, S.H., M.H

Oleh: Zaenal Abidin

“Dalam hidup ini ada empat hal yang memegang peranan penting, yaitu: udara, tanah/lahan, air, dan teknologi. Tiga yang pertama adalah ciptaan Allah Yang Maha Kuasa. Sementara teknologi adalah karya manusia.” Pernyataan ini dikemukakan oleh pakar air dari Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI ITB), Dr. Ir. Rusdandi Gazardi, M.Sc., pada acara webinar Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi dan mitranya, Jumat (5 Maret 2021) lalu. Menurut pak Rus sapaan akrab pak Rusnandi Gazardi, keberadaan air ini sangat penting. Sebab selain untuk diperlukan untuk kebutuhan domestik juga dipelukan untuk usaha dan industri. Kebutuhan manusia akan air tentu berlaku sepanjang masa dari zaman kuno sampai zaman modern saat ini.

Belajar dari budaya manusia di masa lampu. Banyak contoh yang menunjukkan bahwa pada lampau umat manusia memiliki budaya yang sangat menghargai keberadaan air. Karena itu sering ditemukan adanya kearifan yang melarang masyarakat membuang hajat dan sampah/limbah di sumber air, seperti sungai. Sebab, bagi mereka, pemali mencemari sumber air. Rumah-rumah penduduk yang ada disekitar sungai pun dirancang menghadap ke sungai. Bukan membelakanginya.

Tentu semua kearifan di atas mempunyai maksud tersendiri. Sebab dengan rumah-rumah menghadap ke sungai maka tentu mereka tidak akan tega/seenaknya membuang hajat dan sampah/limbah ke sungai tersebut. Orang yang punya akal dan akalnya masih sehat/waras, tentu tahu persis bahwa perilaku semacam itu menimbulkan pencemaran air dan bau busuk. Di sini dan dari sinilah lahir suatu adab, yakni adab untuk menghargai air dan sumber air. Peduli dan tidak mengotori, sebab air merupakan sumber kehidupannya. Digunakan water, sanitation and hygiene (WASH) dan juga untuk dunia usaha/industri. Secara khusus yang beragama Islam, air digunakan untuk keperluan beribadah kepada Allah, yakni bersuci/berwudu.

Kerajaan kuno yang memliki kisah menarik tentang air adalah Negeri Saba’. Philip K. Hitti dalam buku History of the Arabs, orang-orang Saba’ yang hidup dari tahun 750 hingga 115 SM. Bangsa Saba’ inilah yang menurunkan seluruh keluarga di wilayah Arab Selatan. Bangsa Saba’ juga merupakan kerajaan-kerajaan Arab yang pertama diketahui. Mereka merupakan orang Phoenesia dari Laut Selatan, yang sudah lama mengenal rute perjalanan, karang dan pelabuhan, menguasai pergantian musim yang tidak stabil, dan juga menguasai perdagangan selama satu seperempat abad sebelum Masehi. Karena itu, orang-orang Saba’ dikenal sebagai bangsa Arab pertama yang melangkah menuju pintu peradaban.

Negeri yang pernah dipimpin oleh Ratu Balqis ini diapit oleh dua gunung dengan kebun-kebun yang subur di lembahnya. Kesuburan tanah Negeri Saba’, yang kini bernama Yaman, disebabkan keberadaan bendungan besar Saad Ma’rib dengan panjang 620 m, lebar 60 m, dan tinggi 16 m. Total wilayah yang diari adalah 9.600 hektar, 5.300 hektar di dataran bagian selatan bendungan dan 4.300 hektar di dataran barat bendungan. Bendungan Ma’rib menjadi sumber air utama untuk kebutuhan sehari-hari dan penyangga pertanian penduduk Negeri Saba’. Al-Hamdani menyebutkan bahwa ada tiga benteng di Ma’rib, ibu kota Saba’, namun karya arsitektur, konstruksi serta kemajuan teknik yang membuat kota ini terkenal adalah bendungan besar Saad Ma’ribi. Bahkan sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa bendungan Saad Ma’rib adalah bendungan tertua di dunia.

Kesuburan tanah Negari Saba’ disebabkan karena mendapatkan curahan hujan yang cukup, kedekatannya dengan laut dan posisinya yang strategis di jalur perjalanan menuju India menjadi penentu perkembangannya. Tanah di Negari Saba’ ditumbuhi pohon rempah-rempah, gaharu, dan tumbuhan beraroma untuk penyedap masakan atau pedupaan dalam upacara kenegaraan atau keagamaan. Yang paling penting dari semua itu adalah cendana, sebab merupakan komoditas unggulan dalam perdagangan kuno.

Al-Qur’an mengisahkan tentang kesuburan Negeri Saba’ ini di dalam surat yang juga namanya surat Saba’.
“Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebuh di sebelh kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyakurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirimkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Asl dan sedikit pohon Sidr.” (QS. Saba’:15 – 16)

Menurut Caner Taslaman dalam bukunya “Miracle Of The Quran,” banjir dari bendungan disebut juga banjir “arim”. Maududi (ilmuan Pakistan) mengatakan, “Kata Arim dalam bahas Arab berarti bendungan. Karena itu, kata ‘arim’ yang digunakan dala frasa ‘sayl-ul Arim’ yang diturunkan dari kata “arimen” dan berarti bendungan, digunakan di Arab Selatan. Kata ini sering terlihat saat penggalian di Yaman. Contohnya, di sebuah naskah yang didiktekan oleh Abrahah, penguasa daerah yang sekatang menjadi Yaman dan Etiopia, setelah restorasi Bendungan Ma’rib tahun 542 – 543 M, kata tersebut sering digunakan. Jadi frasa ‘sayl-ul Arim’ berarti musibah banjir yang diakibatkan bobolnya bendungan.”

J. Holevy dari Prancis dan Glaser dari Australia membuktikan adanya bendungan Ma’rib ini. Dalam dukumennya yang berbahasa Himer, dikatakan bahwa bendungan Ma’rib ini menyebabkan tanah menjadi subur. Dipercaya pula bahwa bendungan rusak pada tahun 542 M. Pendapat lain mengatakan bendungan benar-benar hancur pada tahun 570. Kapan pastinya, kita serahkan kepada ahlinya untuk mengkaji dan merumuskannya.

Kisah Negeri kuno Saba’ tidak jauh beda dengan Negeri kuno Sumeria. Keduanya berakhir karena menghadapi persolan air. Arnold Toynbee dalam buku Sejarah Umat Manusia, menulis bahwa bangsa Sumeria telah memanfaatkan sungai kembar Tigris dan Eufrat untuk membuat teknik irigasi dan drainase tiruan untuk memajukan pertaniannya. Dalam buku “Sejarah Dunia Kuno”, yang ditulis Susan Wise Bauer ini mengungkap bahwa bencana lingkungan pertama terjadi di Sumer. Bencana ini disebabkan oleh salinasi air yang menyebabkan terjadinya konsentrasi garam di tanah.

Bila nasib Negeri Saba’ berakhir setelah runtuhnya bendungan besar Saad Ma’rib, yang merupakan penyangga pertanian, kunci kemakmuran dan kemajuan peradabannya, maka jatuhnya Negeri Sumeria diawali oleh salinasi air, yang menyebabkan terjadinya konsentrasi garam di tanah. Akibat salinasi tersebut, Negeri Sumeria gagal panen, kekurangan bebijian, hewan ternak kesulitan rumput, dan seterusnya.

Banyak pendapat yang menyebutkan sebab runtuhnya bendungan Saad Ma’rib ini. Ada yang mengatakan karena peperangan, ada juga yang mengatakan karena digerogoti ‘tikus’ sehingga memperparah kerusakan bendungan. Pendapat lain mengatakan bendungan itu runtuh karena alert system yang tidak jalan (semacam mismanajemen). Sebagian lagi mengatakan karena saat itu Negeri Saba’ telah berubah menjadi negeri sekuler, hedonis, riset berkurang, teknologi hidrolik stagnan bahkan diabaikan, mislokasi anggaran, perawatan bendungan diabaikan, korup, penduduk ‘berpaling’, tidak bersyukur, kehilangan adab, dan lain sebagainya.

Boleh jadi semua pendapat di atas benar adanya. Yang jelas setelah bendungan besar itu runtuh maka terjadi run off, kehabisan air, kering dan miskin. Arkeolog Werner Keller menegaskan kebenaran kisah yang ada di dalam Al-Qur’an: “Fakta bahwa bendungan tersebut memang ada dan bahwa jebolnya bendungan itu menghancurkan kota, menunjukkan bahwa kisa yang dituturkan di dalam Al-Qur’an mengenai rusaknya kedua kebun itu menrupakan kisah nyata.”

Kita semua perlu mengambil pelajaran dari kisah Negri Saba’ ini. Kisah kemakmurannya, runtuhkan bendungan Ma’rib yang menjadi kunci kemakmurannya, sampai kisah kehancuran Negeri Saba’. Semoga negeri kita Indonesia terhindar dari nasib yang telah menimpa Negeri Saba’. Wallahu a’lam bishawab.

(Penulis adalah Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia periode 2012 – 2015 dan Pendiri Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi)