Air Bersih Yang Sering Dilupakan

dr. Zaenal Abidin, S.H., M.H

Oleh : Zaenal Abidin

Air merupakan salah satu sumber kehidupan mutlak bagi semua makhluk hidup, terutama manusia. Sekali pun sangat dibutuhkan, air sering pula menyebabkan musibah. Seperti kerajaan kuno Sumeria di Mesopotamia Selatan yang sangat subur karena air, yakni adanya aliran sungai Tigris, Eufrat, dan sungai lainnya. Namun di balik kesuburan itu tercatat pula bahwa “bencana lingkungan” yang pertama kali terjadi juga di Sumeria, karena Salinasi air. Bencana air bah juga pernah menimpa umat Nabi Nuh, yang juga keturunan bangsa Sumeria. Bencana di Kerjaan Kuno Saba’ juga karena air, terjadi banjir besar karena jebolnya bendungan Ma’rib.

Bila kita baca buku kisah para Nabi-nabi dan Rasul, kita dapat menemukan riwayat bangsa Sumeria ini.  Peradaban Kerajaan kuno yang kini bernama Irak. Sejarawan Rusydi al-Badrawi meyakini bahwa bangsa Sumeria ini merupakan keturunan ash-Shamari Ibn Kan’an.

Di kawasan Mesopotamia Selatan ini pernah bermukim keturunan Nabi Adam dari garis keturunan anaknya, Qabil. Di sini pula lahir dan bermukin keturunan Nabi Adam  As., dari garis keturunan putra istimewanya yang bijaksanan, lembut hati dan berilmu, bernama Syits. Syits adalah ayah Nabi Idris. Nabi Nuh sendiri adalah cucu Nabi Idris dari anak Nabi Idris bernama Lamiik. Bahkan bila kita telusuri kisah Nabi Ibrahim dan ponakannya Nabi Luth keduanya berasal dari wilayah tersebut. Dalam buku “Ibrahim Bapak Semua Agama,” disebutkan bahwa Nabi Ibrahim adalah keturunan ke-10 dari Nabi Nuh, As., dari anaknya yang bernama Syam, berasal dari kawasan ini, Babilonia (Mesopotamia Selatan).

Bangsa Sumeria ini memang lebih dahulu mengenal peradaban. Tentu tidak lepas dari pengaruh Nabi Idris sebelum hijrah ke Mesir. Nabi Idris sangat mencintai ilmu dan senang belajar, sama seperti kakeknya. Tidak heran ia diberi nama Idris, dari kata “darasa”, yang berarti belajar atau pembelajar. Idris, kemanapun pergi, ia selalu membawa sahifah peninggalan nenek moyangnya yang berisikan ajaran Nabi Adam. Dari Idris-lah bangsa Sumeria pertama kali mengenal baca tulis. Idris pula yang tergerak berkreasi membuat pena agar teman-temannya dapat belajar menulis. Karena itu, Idris dikenal sebagi orang pertama yang menemukan pena. Setelah menemukan pena Idris mulai menciptakan tulisan yang bisa mereka pahami. Tulisan ini kelak yang berkembang huruf Hieroglif yang disebut juga huruf paku atau pahatan suci.

Dalam keadaan apa pun manusia pasti butuh air bersih. Dalam bencana karena air sekalipun, manusia butuh air. Apakah itu bencana salinasi air, air bah, tsunami, genangan air, banjir, semua butuh air bersih. Bencana kekeringan apalagi. Bencana alam lain juga sama, seperti gempa bumi, gunung meletus. Bencana non alam seperti pandemi Covid-19 dan bencana sosial seperti konflik dan perang, juga butuh air bersih. Jadi semua bencana membutuhkan air bersih.

Tenaga medis dan relawan bencana bila kekurangan air bersih ia tidak mampu bekerja menolong korban bencana. Kekurangan air bersih di lokasi bencana dipastikan akan makin memperparah kondisi bencana. Orang yang sebelumnya selamat dan sehat dapat jatuh sakit. Tenaga kesehatan dan relawan pun bisa jatuh sakit akibatnya. Karena itu kekurangan atau ketiadaan air bersih di daerah bencana berpotensi menjadi bencana baru.

Dalam penyaluran bantuan bencana, yang selalu mendapat perhatian utama adalah alat kesehatan, obat-obatan, pakaian layak pakai, dan makanan. Ketersediaan air bersih kadang dilupakan. Untuk sekedar minum biasanya masih ada. Namun perlu diketahui bahwa kebutuhan air bersih di lokasi bencana bukan hanya untuk minum. Air bersih dibutuhkan untuk keperluan water, sanitation and hygiene (WASH). Masyarakat perlu cuci tangan, mandi, cuci pakaian, cuci peralatan makan, dan seterusnya.

Karena vitalnya air bersih pada saat bencana, sehingga sumber-sumber air bersih sering diperebutkan. Tidak jarang sumber air bersih ini menjadi sumber ketegangan dan konflik baru. Jadi, tidak dapat dipungkiri bila kelak bencana yang menyebabkan krisis air kemudian berlanjut menjadi bencana sosial berupa konflik dan perang.

Sudah sering diberitakan bahwa krisis air dapat mengakibatkan terjadinya ketegangan antar wilayah dan antar negara. Misalnya, yang intens terjadi di Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Persaingan yang termasuk sengit di antara negara-negara bagian lembah sungai di perairan: Nil Afrika, Amu Darya di Asia Tengah, dan Tigris-Euftrat di Timur Tengah.

Ketegangan-ketegangan seperti diatas bila tidak diselesaikan dengan baik dapat saja memicu terjadi perang yang sesungguhnya. Perang karena memperebutkan penguasaan sumber air bersih. Hingganya, kita tidak boleh mebiarkan terjadinya krisis air bersih pada setiap momen bencana karena dapat saja menimbulkan bencana baru yang lebih besar. Karena itu, kita perlu selalu memikirkan terpenuhinya kebutuhan air bersih pada setiap bencana, baik pada masa tanggap darurat maupun pada saat tanggap darurat. Tentu ini merupakan tantangan bagi manajemen kebencanaan kita, apalagi negeri kita terkenal sebagai “gudangnya” bencana.

(Penulis adalah ketua PB IDI periode 2012-2015, Founder Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi)