Bencana: Air Bersih Yang Sering Dilupakan

Poster Weibinar Bencana; Air Bersih Yang Sering Dilupakan

SadarGizi.com – Pada webinar pekan lalu sudah dikemukakan bahwa air merupakan sumber kehidupan mutlak bagi semua makhluk hidup, terutama manusia. Sekali pun sangat dibutuhkan, air sering pula menyebabkan musibah atau bencana. Bencana sering menyebabkan krisis air dan sebaliknya krisis air dapat mengakibatkan bencana baru yang lebih dahsyat, bencana kemanusiaan, bahkan dapat menyebabkan konflik dan perang. Demikian dikemukakan dr. Zaenal Abidin, S.H.,M.H., dalam sambutan pengantarnya selaku inisiator pada diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi bekerjasama dengan Departmen Kesehatan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan dan Bakornas LKMI PB HMI Jum’at 19 Maret 2021, serta didukung oleh www.sadargizi.com.

Zaenal lebih lanjut mengatakan, sengaja mengangkat dua negeri kuno (Sumeria dan Saba’) sebagai perumpamaan sebab kedua negeri kuno itu adalah negeri subur. Suburnya mungkin semacam negeri kita Indonesia, namun kemudian dilanda bencana. Negeri Saba’ di Arab bagian Selatan mengami banjir besar karena runtuhnya bendungan Ma’rib lalu menjadikannya negeri yang kering hingga saat ini. Sementara negeri Sumeria yang disebutkan bahwa negeri yang berada di wilayah lembah Mesopotami Selatan dan dialiri dua sungai, yakni Tigris dan Eufrat itu juga sering dilanda bencana. Di Sumeria inilah bencana lingkungan pertama terjadi, berupa Salinasi air.

Negeri Sumeria dikenal sebagai bangsa yang pertama kali mengenal peradaban. Di sini pernah bermukim Nabi Idris Sang Pembelajar dan juga cunya Nuh (Nabi Nuh) yang umatnya pernah ditimpa bencana air bah. Bahkan cucu Nabi Nuh berama Nabi Ibrahim serta ponakannya Nabi Luth disebutkan berasal dari kawasan ini.

Kembali ke masalah bencana dan air. Dalam kondisi bencana apa pun manusia butuh air.  Sekalipun bencana itu disebabkan oleh air. Seperti Air bah, banjir, genangan air, tsunami, salinasi air, pasti butuh air. Apalagi bencana kekeringan. Bencana lain pun demikian, gempa bumi, gunung meletus, non alam seperti pandemi Covid-19 maupun bencana sosial seperti konflik dan perang, juga butuh air bersih.

Tenaga medis dan relawan bencana bila kekurangan air bersih ia tidak mampu bekerja menolong korban bencana. Kekurangan air bersih di lokasi bencana dipastikan akan makin memperparah kondisi bencana. Kekurangan atau ketiadaan air bersih di daerah bencana berpotensi menjadi bencana baru.

Sebenarnya semua orang pasti tahu kalau dalam kondisi bencana ketersediaan air bersi sangat urgen. Namun, air bersih ini hampir selalu tidak masuk prioritas. Yang selalu mendapat perhatian utama adalah alat kesehatan, obat-obatan, pakaian layak pakai, makanan dan tenda. Memang untuk sekedar minum biasanya ada dalam bentuk kemasan. Tapi, kan kebutuhan air bersih di lokasi bencana bukan hanya untuk minum. Air bersih dibutuhkan untuk keperluan water, sanitation and hygiene (WASH).

Tentu kita tidak menginginkan kekurangan air bersih di daerah bencana, benar-benar menimbukan ketegangan baru dan bencana baru. Karena itu manajeman air di lokasi bencana pada masa tanggap darurat maupun pada saat usai tanggap darurat, menjadi tantangan bagi kita bangsa Indonesia, apalagi negeri kita dikenal sebagai “gudangnya” bencana, kata Zaenal menutup sambutan pengantarnya.

Urgensi air bersih saat bencana, perlu contingency plan dan belajar dari sejarah

Air adalah salah satu elemen utama di bumi yang menjadi bagian tidak terpisahkan bagi seluruh manusia. Makhluk hidup tidak dapat hidup jika tidak ada air, sehingga air sangat dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan makhluk hidup.

Air dalam tubuh manusia sangat berfungsi untuk mengisi cairan dalam tubuh dengan meminum air. Selain untuk penghilang rasa haus dan manfaat utama lainnya air untuk tubuh, air juga memiliki manfaat lain yang sangat dibutuhkan untuk menunjang kehidupan. Dalam keadaan apa pun manusia pasti butuh air bersih, lebih lagi dalam situasi bencana, ungkap Dr. dr. Lucky Tjahjono, M.Kes.

Selaku Ketua Emergency Medical Team IDI, dr. Lucky juga mengungkapkan bahwa air bersih sangat urgen pada saat penanggulangan bencana dan akses lokasi dapat memperberat penanggulangan. “Air bersih sangat urgen pada saat penanggulangan bencana dan akses lokasi dapat memperberat penanggulangan.”

Sebagai sosok yang sering terlibat dalam kegiatan penanggulangan bencana, dr. Lucky menyarankan bahwa akses yang sulit dilokasi bencana membutuhkan contingency plan atau tindakan alternatif dan itu harus melibatkan banyak sektor.

Pada kesempatan yang sama dr. Sarbini Abdul Murad yang merupakan Ketua Presidium MER-C mengungkapkan bahwa urgensi air bersih pada saat bencana sosial (konflik dan perang) menuntut kita untuk belajar dari pengalaman bencana-bencana besar sebelumnya. Kita seharusnya belajar dari tsunami Aceh, agar tidak kelabakan dan gagap menghadapi setiap terjadi bencana.

“Pengalaman adalah guru terbesar. Menangani kekurangan air bersih pada saat bencana sosial maka kita perlu belajar dari pengalaman dimasa lalu. Mungkin karena kita berada di negara tropis yang selalu ada hujan jadi kita tidak pernah merasa akan kekurangan air kecuali ketika kemarau sudah tiba. Soal kualitas air yang kita minum juga jarang kita persoalkan.

Karena sebelumnya dr. Zaenal menyebut negeri Sumeria yang selalu diperebutkan karena airnya, maka hal yang sama juga terjadi di Syam, Palestina, ungkap dr. Sarbini. Di Pelestina lanjutnya, Bom yang dilancarkan tentara Israel sering menyebabkan sumber air tercemar dengan fosfor. Israel mencoba menguasai dengan mencemari air. Ia juga selalu mengganggu stabiltias air, sebab Israel yakin dengan menguasai air maka akan meraih kemenangan.

Jadi benar bahwa dalam perang siapa menguasai sumber air maka ia kan menang. Hal ini pernah menjadi salah satu kunci dan strategi kemenangan Rasulullah dan sahabat pada perang Badar karena menguasai sumber air yang dikenal Sumur Badar. Air sangat vital dalam kondisi apa pun, termasuk pada keadaan konflik dan perang. Terang dr. Sarbini.

Strategi Penanggulangan Krisis Air Bersih

Menurut Dr. Ir. Rusnandi Garsadi, M.Sc., pada setiap bencana ada tiga hal yang pelu diperhatikan berkaitan air bersih, yaitu: lokasi, kecepatan penanganan air pada setiap bencana, dan kapasitas.

Terkait dengan kolasi. Indonesia ini sangat luas dan bencana akan terjadi setiap saat. Misalnya, bencana karena alam seperti gempa, dan lain-lain, dan juga bencana karena perubahan alam karena ulah manusia sendiri. Kebanyakan kita menyebut bencana itu karena terjadinya mendadak, tiba-tiba. Namun sebetulnya ada juga bencana yang terjadi berkepanjangan. Contonya, tanah di Jakarta yang setiap tahunya turun 4 cm. Begitu pula di Bandung dan tempat lain. Tentu ini semua perlu diantisipasi.

Lokasi sangat perlu mendapatkan perhatian dan penanganan khusus, sesuai zonanya. Ada nasional, provinasi, kabupaten/kota, kecamatan dan seterusnya. Lokasi ini sangat penting sebab orang yang bermukim di tempat itu yang paling tahu kondisinya dan apa yang mesti dipersiapkan. Sebab tidak boleh selalu tergantung pada teknologi canggih yang belum tentu dapat terpakai di lokasi bencana.  Tidak berfungsi ditempat bencana.

Kita semua perlu mengetahui dan menguasai wilayah kita sendiri tempat di mana kita bermukim. Seperti bila kita berada di Puncak/ Bogor, kita perlu tahu bahwa di wilayah ini telah berubah tata guna lahannya. Sehingga di wilayah tersebut perlu dilakukan artificial infiltrasi guna mengganti lahan yang sudah menjadi bangunan. Begitu pula di bawahnya perlu juga segera ditangani agar tidak terjadi intrusi air laut yang akan membuat kita makin kesulitan mendapatan air bersih.

Berkaitan dengan kapasitas. Setiap bencana harus diperhitungkan atau diprediksi kebutuhan air bersih yang yang paling mendesak, yakni pada waktu pagi hari. Sebab pada pagi harilah semua orang serempak memerlukan air bersih.

Kita tidak boleh hanya memperhatikan prediksi dari WHO atau ADB, dan seterusnya, yang  lebih banyak menghitung kebutuhan perhari pada pada keadaan normal. Tentu pada situasi bencana kebutuhan akan air bersih berbeda.

Masih terkait dengan kapasitas yakni pendistribusian. Pendistribusian ini sangat penting, sebab setelah air diproduksi kita perlu distribusikan kepada masyaraat. Bila semua sarana dan prasarana hancur maka pendistribusian bisa dilakukan melalui mobil tangki. Tapi mobil tangki juga harus memperhitungkan jalanan. Bila jalanan juga hancur tentu kita harus memikirkan cara lain.

Berkait dengan teknologi. Kecanggihan teknologi instalasi air bersih di daerah bencana bukan ditentukan oleh mahalnya teknologi tersebut, melainkan apakah dapat berfungsi untuk menyediakan air bersih. Karena itu teknologi yang diperlukan di lokasi bencana harus simpel, mudah, dan segera dapat dinikmati oleh masyarakat. Begitu pula apakah bahanya mudah diperoleh. Perlu pula perhatikan bahwa hampir setiap bencana listrik selalu mati, karena itu teknologi yang terbaik adalah yang hemat listrik.

Teknologi Micro Hydraulic Water Treatment yang dibuat oleh LAPI ITB merupakan mekanisme pengolahan air tanpa energi listrik, berproses dengan sistem menglir secara grafitasi, memisahkan polutan dan kotoran menjadi air bersih dengan menggunakan tawas yang mudah didapat di seluruh wilayah Indonesia dan menggunakan disinfektan kaporit yang juga mudah di dapat di Indonesia. Kapasitas yang dapat di buat menggunakan mekanisme proses microhydraulic ini mulai dari yang kecil sampai kapasitas besar ribuan liter perdetik. Hanya memerlukan listrik 1000 watt untuk pompa guna mengalirkan air dari sungai ke instalasi pengolahan.

Jadi untuk saat ini sebetulnya teknologi lokal kita sudah bisa diandalkan. Tidak perlu semua bergantung kepada produk dan bantuan luar negeri. Bahkan untuk bencana seperti gunung merapi di mana hampir semua sumber air tercemar belerang, instalasi produk LAPI ITB mampu menghandlenya. Bahkan polutan nuklir sudah bisa atasi. Untuk menjernihkan polutan kita digunakan tanah, untuk rasa digunakan udara. Sementara untuk menyerap zat yang bersifat racun digunakan arang. Yang penting dijaga adalah mengusahakan agar air itu tidak semua mengalir ke laut menjadi air asin, sebab biayanya akan menjadi sangat mahal.

Memang teknologi LAPI ITB ini masih perlu dikembang. Sebab, kita belum mampu untuk mengolah polutan hormonal. Di Jepang ada sungai yang banyak ikannya, namun setelah tercemar polutan hormonal semua ikan berubah menjagi betina. Mungkin juga dapat menjadi masalah pada manusia nantinya. Ujar pak Rusnandi menutup paparannya.

Sementara itu, dr. Kadarsyah, M.Sc. dari Yayasan IKRA Padjadjaran yang tampil sebagai penanggap, mengatakan untuk masalah air, terutama untuk bencana, harus dihadapi dari dua pendekatan, yakni melalui pemerintah dan melalui masyarakat sendiri. Tidak bisa lagi hanya dengan mengandalkan pemerintah. Pemikiran inilah salah satu yang mendasari Yayasan IKRA Padjadjaran yang berbasis Wakaf, milik Allah, untuk melakukan konservasi di Sumedang.

Masyarakat perlu tahu cara melakukan mapping kebencanaan. Masayarakat perlu dipersiapkan mengahdapai situasi bencana, termasuk di dalamnya melakukan persiapan air. Masyarakat harus tahu sumber air, mata air, sungai, cara menyimpan air dan cara membuat tempat menyimpan air. Dengan cara ini kita akan yakin bahwa masyakat kita siap menghadapi problem air.

Konservasi air pada level komunitas biayanya lebih murah, mudah dan berguna untuk kebutuhan sehari-hari dan bencana. Kembali lagi, pemerintah saja tidak cukup. Harus disertai gerakan masyarakat secara mandiri, dalam kondisi damai atau bencana. Bila masyarakat parif atau dibiatkan pasif, cuek, maka dapat dipastikan akan kehancuran ekosistem secara sistematis dan dampak bencana semakin sulit diatasi.

Lebih lanjut dr. Kadarsyah mengungkapkan, semua komunitas mengerjakan untuk kebutuhan dirinya saat damai (kebutuhan rumah tangga,pertanian, perikanan, peternakan) maupun kebutuhan saat bencana. Konservasi air, distribusi yang berkeadilan, efisiensi penggunaan air, pemilihan tanaman tidak boros air, ini adalah point sederhana yang applicable. Bila konservasi ini berhasil dilakukan oleh masyarakat maka ini akan menjadi sumber kemakmuran.

Penggap lain, Kolonel (Purn. TNI AL.) Hasnah C, S.E, M.M. (Pemerhati bencana dan Ketua KKSS Peduli), sangat mengapresiasi webinar yang mengabil tema, Bencana dan Air yang sering dilupakan. Sebab, memang hampir setiap siatuasi bencana kita selalu kelabakan soal air bersih.

Pada bencana Sulawesi Barat saja yang belakangan ini kekurangan air. Setiap ada pembagian sembako yang selalu ditanyakan masyarakat, apakah ada pembagian air? Ibu Hasnah mangatakan  bahwa BNPB perlu tahu bahwa setiap bencana kita selalu kekurangan air bersih. Kadang hari keempat baru bantuan air bersih itu datang. “Air adalah jiwaku, nafasku”, ungkap ibu Hasnah menutup pembicaraanya.

Tampil sebagai penanggap ketiga adalah Hasanuddin, S.IP. M.AP., dari Literasi Sehat Indonesia dan pengajar di Univirsitas Bhayangkara Jakarta Raya. Hasan, mengungkap bahwa krisis air bersih diperkirakan akan terjadi tahun 2025. Karena itu Hasan sepakat dan mengapresiasi dr. Kadasyah dkk, yang melakukan konservasi air di Sumedang. Ini adalah salah satu partisipasi masyarakat yang perlu dicontoh.

Kita harus yakin bahwa masyarakat lokallah yang paling tahu persoalannya. Pemerintah tidak mungkin tahu persis atau tahu semua persoalan masyarakat, termasuk dalam penyediaan dan pengelolaan air bersih berikan peran kepada masyarakat setempat mulai dari perencanaan sampai pada pengelolaannya.

Sebetulnya terkait dengan konservasi ini kita telah memiliki sekitar 37 peraturan bahkan lebih jika ingin memeriksa satu persatu peraturan daerah (PERDA), sangat banyak. Bila UU yang banyak itu dilaksanakan mestinya, Indonesia tidak perlu menghadapi krisis air.

Kini, yang menjadi soal adalah UU Penataan Ruang. UU ini telah lahir sejak tahun 2007, namun sampai tahun 2020 baru 55 Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang telah disahkan menjadi Peraturan Daerah (Perda). RDTR yang merupakan penjabaran dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), merupakan distribusi pemanfaatan ruang dan bangunan serta bukan bangunan. Jika semua daerah patuh dan segera menyusun RDTR maka keseimbangan alam pada setiap wilayah akan terjaga, sehingga kekhawatiran akan terjadinya bencana air bersih secara perlahan dapat diatasi. Demikian rangkuman webinar kami semoga bermanfaat.  (Zaenal Abidin)