Puasa Menghidupkan Potensi Ruhaniah

dr. Zaenal Abidin, S.H., M.H

Oleh: Zaenal Abidin

Puasa yang sering disebut shaum merupakan salah satu ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semua ibadah yang kita lakukan mempunyai nilai moral tertentu. Karena itu, puasa pun memiliki nilai dan pesan-pesan moral. Rasulullah Saw., menilai suatu ibadah dari seberapa jauh kita melaksanakan pesan moral yang terkandung di dalam ibadah tersebut.

Di antara pesan moral puasa seperti: a) tumbuhnya rasa syukur atas nikmat Allah, b) lahirnya kepekaan sosial untuk memperhatikan orang-orang yang lapar di sekitar kita, c) menaklukkan hawa nafsu agar tidak serakah menjadikan perut kita sebagai kuburan bagi orang lain, d) tumbuhnya jiwa kasih sayang dan tanggung jawab kepada orang yang menderita di sekitar kita.

Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang hanya menetapkan kewajiban berpuasa Ramdahan itu kepada orang-orang yang beriman. Bagi yang tidak beriman, tidak dikenakan kewajiban ini. Demikian halnya derajat kemanusian yang paling tinggi berupa takwa, hanya dijanjikan kepada orang yang beriman dengan syarat ia berpuasa.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah:183)

Untuk mencapai derajat kemanusiaan berupa takwa, orang yang berpuasa pun memerlukan keikhlasan. Karena itu, puasa Ramadhan disering disebut sebagai sarana untuk melatih keikhlasan. Ikhlas berarti melakukan suatu amal ibadah semata-mata mengharapkan ridha Allah. Puasa itu tidak akan tercemar oleh perbuatan riya. Ketika amalan atau ibadah lain dapat terkena penyakit riya, maka ibadah tidak mungkin terkena, sebab tidak ada yang dapat mengetahui kecuali Allah. Karena itu, Allah sandarkan puasa itu kepada diri-Nya.

 Memang, kadang ada orang tidak puasa yang berpenampilan fisik seolah-olah menyerupai orang puasa.  seperti ini. Tampak lemas, lesu, bibir kering, dan seterusnya, namun semua orang tahu bahwa kondisi semacam ini tidak hanya dialami oleh orang yang berpuasa. Dan sebetulnya, bertingkah berpura-pura supaya diakatakan berpuasa tidak ada juga manfaatnya. Bahkan yang diperoleh hanya dosa belaka. Dosa karena tidak menjalankan kewajiban berpuasa dan dosa karena ia berpura-pura. Bukankah berpura-pura itu adalah dusta dan dusta itu adalah dosa.

Orang yang berpuasa dididik untuk yakin seyakin-yakinnya bahwa keridhaan Allah lebih besar daripada dunia dengan seluruh isinya. Wa ridhwanum minallahi akbar, sebagai ketenangan yang agung (QS. At-Taubah:72). Dan keridhaan Allah dan takwa hanya dapat diperoleh dengan keikhlasan. Karena itu orang yang berpuasa Ramadhan tidak akan mengharap pujian orang lain. Mereka tidak mendambakan kekayaan dan kedudukan dari manusia.

Selain ikhlas, orang yang berpuasa pun dididik membersihkan diri dengan menghidari perbuatan yang tercela. Bahkan bila digunjing sekalipun, Rasulullah mengajarkan kepada orang berpuasa untuk menjawab sederhana. “Inni Shaim” (Aku sedang berpuasa). Takwa yang menjadi tujuan berpuasa juga tidak akan dapat dicapai tanpa membersihkan diri.

Puasa mendidik untuk membiasakan diri berbuat baik kepada Allah dan berbuat baik kepada makhluk ciptaan Allah, terutama kepada sesama manusia. Jadi sekalipun orang yang berpuasa itu lapar, dahaga, lemas, bibir kering, mata sayup karena bangun shalat malam, namun yakinlah potensi ruhaniahnya tetap hidup. Pandangan hati nuraninya cemerlang untuk selalu berbuat baik karena disinari cahaya rabbani. Berbeda dengan yang mematikan potensi ruhaniahnya, tidak akan menghadirkan kebaikan di dalam dirinya sendiri (apalagi orang lagi kepada orang lain). Tidak akan ada kebahagiaan, ketenteraman, keindahan, keadilan dan kesucian bagi orang yang mematikan potensi ruhaniahnya.

Nah, bagaimana dengan pandangan bahwa puasa dapat memberi manfaat kesehatan mental dan badaniah? Tentu saja pandangan tersebut tidak salah, apalagi memang telah banyak penelitian ilmiah tekait sehatnya orang-orang yang berpuasa. Sekalipun berpuasa itu dapat membuat orang sehat, namun aturan syariat menyaratkan adanya kondisi badan yang sehat bila ingin berpuasa. Karena itu, bila seseorang sedang sakit dan sakitnya itu bakal bertambah parah bila ia berpuasa maka ia diberi keringanan untuk tidak berpuasa, dengan ketentuan wajib menggatikannya sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari yang lain.

Puasa syariat yang dilakukan karena tujuan ibadah dan bentuk ketaatan semata kepada-Nya. Mengharap ridha-Nya agar menghidupkan potensi huhaniah orang yang berpuasa. Jadi tujuan inilah kata dikuncinya. Tujuan ini pula yang membedakan puasa syariat dengan puasa medis, yang semata-mata untuk tujuan medis atau kesehatan.

Bahwa puasa syariat memiliki manfaat atau faedah kesehatan sebagaimana yang telah banyak diungkap secara ilmiah, itu hanyalah bonus. Bonus yang akan semakin menambah keimanan kepada Allah serta semakin membuktikan kebenaran risalah yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Saw. Allah sendiri mengatakan bahwa puasamu itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Karena itu pula sangat terbuka peluang dan menantang kepada siapa saja yang ingin mengetahui dan meneliti lebih lanjut kebaikan serta faedah puasa ini. Wallahu alam bishawab.

 Selamat Menyambut Ramadhan 1442 H.

 (Penulis adalah Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia, periode 2012-2015 dan pendiri Yayasan Gema Sadar Gizi)